Tidak Seburuk yang Saya Kira

Artikel ini pernah dimuat dalam akumassa.org ( http://akumassa.org/kontribusi/sukabumi-jawa-barat/tidak-seburuk-yang-saya-kira/ )

 

dariwarga_tidak seburuk yang saya kira

Bulan kemarin saya bekerja di sebuah pabrik garmen di daerah Sukabumi, tepatnya di Parungkuda. Di daerah itu banyak sekali pabrik-pabrik garmen. Mayoritas buruh pekerja pabrik di daerah itu adalah wanita. Saya bekerja di salah satu pabrik garmen sebagai buruh dibagian Quality Control (QC).

Ternyata bekerja di pabrik tidak seburuk yang saya kira, cukup menyenangkan juga. Kami bisa berbagi cerita dan akhirnya bisa membuat kami tertawa lepas. Itu bisa kami lakukan saat bekerja, tentunya tanpa sepengetahuan atasan kami.

Bila istirahat tiba, semua karyawan berhamburan keluar. Kami mendapat jatah makan siang. Ada yang makan di kantin, mushola, atau ada pula yang memilih pulang dulu. Kantin biasa dipakai sebagai sarana olahraga, misalnya futsal dan tenis meja.

Waktu istirahat bisa dipakai juga untuk bermain voli, tersedia lapangannya. Malah untuk memeriahkan ulang tahun pabrik tempat saya bekerja, mereka mengadakan turnamen. Seperti, turnamen futsal, turnamen tenis meja, turnamen voli, bahkan ada balap karung juga. Waktu istirahat biasa dipakai juga untuk tidur di bawah meja yang diatasnya bertumpuk celana-celana yang harus segera diselesaikan.

Setiap bulannya, pada tanggal 5, yaitu saatnya gajian, halaman pabrik dipenuhi oleh para pedagang. Dalam sekejap, halaman itu menjadi sebuah pasar kaget. Berbagai macam barang ada, seperti pakaian, alas kaki dan makanan. Tapi itu cuma bertahan dalam seminggu. Setelah itu halaman kembali menjadi seperti semula.

Bila jam pulang tiba, di halaman pabrik berderet motor-motor penjemput. Mereka menjemput istri, saudara, teman atau pacar. Selain itu, sebenarnya kebanyakan buruh pabrik menggunakan jasa angkutan ojek.

Kami membayar jasa para tukang ojek itu dengan sistem abodemen, sesuai kesepakatan yang telah disetujui, yaitu membayar di muka atau setelah menggunakn jasanya selama sebulan. Harganya berkisar antara 100000-150000 rupiah, tergantung jarak tempuh. Para tukang ojek itu harus siap mengantar-jemput buruh pabrik tepat waktu. Jalan pun langsung berubah menjadi macet, penuh dengan motor-motor.

Ageung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s