Kenangan Kepahlawanan dalam Seremoni 10 Nopember

dariwarga_monumen-perjuangan-palagan-bojongkokosan

Teks Sejarah:

Kisah Pertempuran Di Bojongkokosan

Pada hari minggu tanggal 9 Desember 1945 pukul 15.30. Datang sebuah konvoi besar dari jurusan Bogor menuju Sukabumi dengan kekuatan 4  tank raksasa, “panser wagon” dan 120 truk penuh dengan pasukan yang dikawal oleh 3 pemburu udara dengan senjata modern pada saat itu. Kedudukan pasukan kita pada waktu itu berada di sekitar Bojongkokosan,  sebagai berikut: Kompi 3 BN 1 di bawah pimpinan Kapten Murad Idris (almarhum) yang terdiri dari 4 seksi, kekuatan anggota seluruhnya 165 orang ditambah pasukan pembantu dari rakyat yang terdiri dari 1 regu barisan banteng, ½ regu barisan Hizbullah dan 3 orang PERSINDO Cicurug. Kekuatan senjata kita berupa beberapa pucuk senjata jenis campuran, dari senjata tajam seperti golok, tombak, bambu runcing dan granat botol diisi dengan bensin dan karet sebagai granat pembakar.

Jalannya Pertempuran:

Kira-kira pukul 12.00, diterima berita dari Pos Cigombong bahwa 2 truk tentara sekutu Inggris menuju jurusan Sukabumi, maka Komandan Kompi menginstruksikan untuk menduduki pertahanan yang telah dipersiapkan sebelumnya yaitu diantara kedua belah pinggir utara dan selatan jalan dan 50 meter dari talang air dibuat barikade yang ditutup dengan batu-batu, bahan bangunan dan 6 batang pohon kelapa. Kira-kira pukul 16.00, tibalah konvoi besar tersebut yang digabung tank-tank raksasa dan diikuti oleh beberapa “panser wagon” kemudian disusul dengan truk-truk yang penuh dengan pasukan Gurka. Ternyata konvoi tersebut bukan 2 truk melainkan sebanyak 120 truk penuh dengan pasukan Gurka. Setelah mendengar berhentinya tank-tank raksasa dan beberapa truk berhenti dengan mendadak karena tidak diduga ada barikade dan kelihatan panik diantara mereka, maka komandan kompi mulai mengeluarkan isyarat berupa tembakan 2 kali tanda pertempuran dimulai. Terjadilah pertempuran dengan pelemparan-pelemparan granat tangan diikuti tembakan-tembakan senapan mengenai sasarannya hingga beberapa jam lamanya.

Setelah pertempuran selesai, ternyata dari seksi 2 menderita banyak korban karena truk-truk tersebut berhenti tepat di depan kubu-kubu di depan seksi 2, sehingga musuh dengan mudah ditembaki dari lubang perlindungan. Karena jarak tembak antara kita dengan lawan terlalu dekat, maka kubu-kubu pertahanan kita ditembaki senjata berat dari tank-tank raksasa dan panser yang mengakibatkan longsornya tanah-tanah kubu tersebut sehingga beberapa anggota pasukan kita terbawa jatuh ke jalan besar dan terjadilah perkelahian satu lawan satu,  tapi akhirnya pasukan kita banyak terbunuh. Diantara pasukan yang ditempatkan diatas jalan ada satu regu yang mengisi lubang-lubang tahanan di pinggir jalan dengan bersenjatakan granat 4 buah setiap orang yang dipimpin oleh komandannya, Sersan Sa’ban. Namun akhirnya, regu yang beranggotakan 12 orang tersebut, semuanya gugur sedangkan komandan regunya sendiri badannya hancur. Ditengah kesibukan pertempuran, tiba-tiba datang sebuah panser kecil dan berhenti di muka pertahanan.

Kemudian keluar dari panser tersebut 2 orang diantaranya 1 duduk dan 1 orang yang berdiri. Yang berdiri melihat-lihat dan tertawa-tawa sambil menghisap cangklong dan memakai baret hitam, sedangkan yang duduk memakai ugel-ugel. Diduga kedua orang tersebut memimpin pasukan sekutu, karena ia selalu memberikan komando terhadap pasukannya. Pada waktu itu komandan pasukan seksi 2 memerintahkan seorang anggota yang dekat sekali kepada kedua orang tersebut, supaya menembak orang yang memakai baret hitam itu. Tembakan itu tepat pada sasarannya dan orang itu mati seketika, sedangkan temannya cepat lari ke belakang. Setelah pasukan kita kehabisan peluru dan granat, pertempuran pun berhenti sejenak. Selanjutnya pasukan musuh mengadakan pelingkaran dari samping dan belakang yang akan mengurung dan menyergap pasukan kita. Namun, dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa hujan turun dengan lebatnya disertai kabut dan akhirnya pasukan kita diperintahkan mundur ke tempat yang telah ditentukan, yaitu ke jalan pakuwon, Parungkuda.

Setelah pasukan kita mundur meninggalkan pertahanan, Pasukan Gurka yang akan menyergap dan kekuatannya yang besar itu naik ke bekas pertahanan seksi 2 tadi. Maka dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa untuk kedua kalinya,  datanglah bantuan tentara sekutu berupa 3 pesawat pemburu udara ke tempat tersebut dan terus menembaki bekas pertahanan kita yang telah penuh diduduki oleh tentara Gurka. Sehingga memakan korban yang tidak sedikit. Pada kira-kira pukul 17.30 hujan berhenti, tembakan-tembakan dari pesawat udara lebih hebat lagi ke tempat pertahanan tersebut dan terdengar suara-suara dari mereka menjeri-jerit kesakitan dan melarikan diri mencari perlindungan. Diantaranya ada beberapa orang yang mendekati tempat persembunyian pasukan kita, kemudian dengan mudahnya ditembaki oleh pasukan kita. Beberapa pucuk senjata mereka rampas, selanjutnya setelah itu hujan berhenti. Cuaca terang kembali, maka tembakan dari pasukan udara berhenti dan terdengar suara peluit dari mereka, tanda-tanda perhentian pertempuran. Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan bergemuruh, tanda mereka melanjutkan perjalanan dan terus-menerus mengeluarkan tembakan dari panser sepanjang jalan secara membabi buta sepanjang perjalanan menuju ke Sukabumi. Sehingga menambah lagi korban dari pihak rakyat kita. Setelah keadaan reda, komandan seksi 2 dengan 1 regu memeriksa sekitar tempat kejadian dan mencari komandan kompi yang kebetulan tidak jauh berlindung di bawah rumpun bambu di sekitar sebelah utara, disertai dengan seorang ajudannya.

Terdapat 3 orang yang masih hidup sampai saat ini yaitu, saudara Osih, saudara Sukardi dan saudara Hamim. Dari regu 1 dan regu 2, seksi 2, terdapat 23 orang gugur, diantaranya 2 orang mayatnya hancur,  yaitu sersan Sa’ban dan saudara Aceng. Tidak lama kemudian, datanglah pak haji Toha dengan 3 orang anggotanya, selanjutnya ketiga orang tersebut diperintahkan untuk menghubungi markas PERSINDO di Cicurug dan Parungkuda untuk meminta bantuan kepada rakyat mengangkut para korban yang tidak sedikit jumlahnya. Akhirnya, korban di pihak kita di Bojongkokosan berjumlah 53 orang pejuang dan belum diketahui jumlah korban dari pihak rakyat sendiri.

Demikian secara garis besar mengenai Kisah Pertempuran di Bojongkokosan ini.

Sukabumi, 17 Agustus 1972

Atas nama

P3D 15 Kotamadya Kabupaten Sukabumi

Ketua Umum,

P. Sukindar

Teks Sejarah tersebut merupakan arsip di Bojongkokosan yang berhubungan dengan peristiwa kepahlawanan masyarakat Sukabumi dalam upaya perjuangan di Republik Indonesia dan sampai saat ini, teks tersebut selalu dibacakan dalam Peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember. Sejak tanggal 7 Nopember – 10 Nopember 2009, di Bojongkokosan diadakan Perkemahan Sepuluh Nopember (PERSENOP) yang diikuti oleh gerakan Pramuka tingkat Penegak se-kabupaten Sukabumi.

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kali kedua yang diadakan oleh gerakan Pramuka Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi. Namun sejak tahun 1972, pembacaan Teks Sejarah “Kisah Pertempuran di Bojongkokosan” rutin dilakukan setiap tahunnya sebagai bentuk penghormatan masyarakat di Sukabumi dalam mengenang perjuangan para pahlawan di daerah ini, pada khususnya. Kami sendiri, merasa terbawa suasana khidmat ketika mendengarkan pembacaan teks sejarah tersebut dalam upacara renungan malam (9/11), sekitar pukul 23.30 waktu setempat.

Menurut saya pribadi, teks sejarah tersebut dirasakan perlu ditelaah kembali tentang informasi basis datanya seperti; tentang kejelasan jumlah korban dalam kisah pertempuran tersebut. Meskipun demikian, teks tersebut dapat terimajinasikan dengan jelas dalam upaya pengenangan oleh seorang pendatang dari luar Sukabumi seperti saya.

Dian Komala merupakan salah seorang yang juga memiliki kenangan dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh gerakan Pramuka Kabupaten Sukabumi sekitar 2 tahun yang lalu, diakuinya bahwa ada hal yang berbeda dengan pelaksanaan kegiatan kali ini. Menurut pengalamannya, kegiatan gerakan Pramuka yang pernah ia alami dahulu lebih banyak diikuti daripada kegiatan Peringatan kali ini. Berdasarkan pernyataan Deden – Sekretaris Bidang Pendidikan Kwarcab Kabupaten Sukabumi, bahwa antusiasme peserta Perkemahan Sepuluh Nopember tersebut sangat tinggi seperti semangat kepahlawanan 9 Desember 1945 yang inspiratif dalam arsip teks sejarah di Kabupaten Sukabumi.

Teks Sejarah “Kisah Pertempuran di Bojongkokosan” yang dibacakan oleh Endah Hasanah tersebut menjelaskan kronologis pertempuran besar di Bojongkokosan yang menjadi ‘rekaman’ masyarakat setempat dalam menelaah peristiwa kepahlawanan rakyat Sukabumi, meskipun peristiwa tersebut tidak terjadi pada 10 Nopember. Namun demikian, 10 Nopember merupakan momen yang dirasakan tepat oleh masyarakat setempat dalam mengenang aksi kepahlawanan di Sukabumi.

Teks : Bayu Alfian

Transkrip & Foto : Ageung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s