Para Penjaga Malam

Malam-malam di Lenteng Agung

Seingatku, sejak masa kuliah dulu, kawasan Lenteng Agung sekitar Kampus IISIP tidak pernah tidur. Kawasan yang banyak memiliki rumah-rumah kost untuk mahasiswa ini selalu ramai dan terang benderang, bahkan di jam-jam lewat tengah malam. Anak kost sering berseliweran, memenuhi warnet dan tempat-tempat penjual makanan yang tersebar di sepanjang jalan dan pinggiran rel kereta.

Sebagai salah satu anak kost, dulu aku lebih sering menginap di rumah kost temanku beramai-ramai, dibandingkan dengan kamar kostku sendiri. Kadang untuk mengerjakan tugas, tapi lebih sering untuk nongkrong ramai-ramai tanpa tujuan. Aku pun salah satu dari para mahasiswa yang sering berseliweran tengah malam di jalan-jalan kecil Lenteng Agung untuk melakukan hal-hal tak penting seperti anak kost lainnya.

Yang paling mengesalkan dari hal tersebut di atas bagiku adalah kalau harus bertemu dua orang Hansip yang selalu seliweran berkeliling kampung seperti para mahasiswa insomnia tersebut. Seorang Hansip tua, berperawakan kurus kering, dan temannya yang tampak berusia jauh di bawahnya. Mereka selalu saja menanyakan ke mana tujuanku di jam lewat tengah malam begitu. Mungkin kalau aku laki-laki mereka tak akan terlalu ambil pusing.

Sebetulnya, untuk menjawab pertanyaan mereka sih gampang-gampang saja. Aku bisa memberikan jawaban apa pun yang terlintas di kepalaku saat itu, dengan asal-asalan. Tapi aku merasa enggan kalau sampai mereka melihat aku harus memanjat pagar, karena kalau aku pulang terlalu malam sehabis nongkrong, gerbang tempat kostku sudah dikunci. Pak Rosid, seorang warga sekitar yang sejak pertama rumah kost ini berdiri pada tahun 80-an dibayar oleh ibu kost untuk menjaga keamanan, tidak pernah benar-benar menjaga keamanan. Dia selalu tidur pulas sambil mendengkur nyaring di sofa ruang tamu rumah kost. Para penghuni kosst harus berteriak-teiak memanggilnya sambil mengetok kuat gembok besar ke jeruji pagar untuk membangunkan Pak Rosid. Itu pun sering tak membuahkan hasil.

Aku tidak mau melakukan hal gaduh itu. Dan aku tidak punya cukup kesabaran untuk menunggu sampai Pak Rosid bangun dan membukakan pagar. Maka aku pasti akan langsung memanjat pagar tinggi rumah kostku tersebut. Walau mereka sudah tahu apa jawabanku, ke dua hansip keliling itu akan tetap menanyakan perihal panjat memanjat itu, dilanjutkan dengan beberapa wejangan yang membuatku gerah.

Saking seringnya aku merasa sial bertemu mereka saat sedang memanjat pagar karena jam dan rute keliling mereka yang random, aku selalu berusaha waspada mengamati situasi jalan yang gelap. Beruntung kalau sebelum bertemu aku sudah mendengar bunyi dentang keras mereka memukulkan pentungan ke tiang listrik. Kalau kebetulan aku melihat mereka di kejauhan saat aku akan memanjat pagar, biasanya aku tunda dulu memanjat dan langsung berjalan melewati rumah kost kawanku dan mampir di warung rokok dan membeli sebungkus rokok, memberi waktu pada ke dua hansip tadi, sampai mereka hilang di balik tikungan. Sialnya, mereka selalu ngeronda sambil berjalan lambat-lambat, bercengkerama dan bersenda gurau. Tangannya yang memegang pentungan diayun dengan santainya, lalu mendarat ke tiap tiang listrik dengan kencangnya, memberitahukan keberadaan mereka kepada para maling dengan bunyi yang dahsyat. Suara yang paling membuat aliran darahku naik ke kepala.

Seiring berjalannya waktu, kami sudah saling terbiasa satu dengan yang lainnya. Keadaan sudah banyak berubah. Aku telah memiliki seorang anak dan mengontrak di sebuah rumah kecil yang masih merupakan bagian dari gedung besar rumah kostku dulu semasa kuliah. Pak Rosid tetap menjadi penjaga malam di situ, tetap mendengkur nyaring di saat seharusnya dia terjaga menjalankan tugas. Namun karena menyewa rumah yang lebih besar dari kamar kost dengan harga yang jauh lebih mahal, aku mendapatkan hak istimewa memiliki duplikat kunci gerbang sendiri. Jadi aku dan suamiku tak perlu berurusan langsung dengan Pak Rosid dalam hal akses keluar masuk gerbang. Aktifitas kerjaku juga tetap berada di sekitar Kampus IISIP, Lenteng Agung di mana bangunan di sekitar sini juga sudah sangat banyak berubah.

Namun duet hansip itu tidak pernah berubah. Generasi pengisi rumah-rumah kost di Lenteng Agung yang terus berganti, menjadi saksi keberadaan mereka dari tahun ke tahun. Mereka tetap bekerja menjaga keamanan, berkeliling di jalan-jalan kecil Lenteng Agung, walau usia mereka semakin tua. Pasti mereka semakin santai saja berjalan lambat-lambat sambil membunyikan tiang listrik dengan pentungan kesayangan mereka.  Tak pernah absen mereka menyapaku tiap malam aku pulang kerja, menyapa anak dan suamiku dengan ramah. Namun aku tetap menanggapi mereka sambil lalu dengan rasa geli bercampur kesal yang tersisa.

***

Bang Adjied dan Si Babe

Saat lampu jalan mulai menyala, saat kebisingan mulai tergantikan dengan keheningan, dan pintu serta jendela rumah warga mulai terkunci terlihat dua sosok pria tua yang tengah duduk di depan sebuah warung yang telah tertutup.

Seragam lengkap berwarna hijau-hijau dari topi hingga celana panjang, dan sepatu boots hitam di selimuti jaket kulit hitam untuk menangkal dinginnya udara di pagi buta tersebut, sempat menghentikan langkahku saat melintas. Mereka adalah Abdul Madjied (57) alias ‘Bang Adjied’ dan Maulani (69) yang biasa dipanggil ‘Babe’. Mereka adalah para penjaga malam (Hansip) yang setia menjaga rumah-rumah warga RT 11/02 saat penghuninya tengah tertidur lelap, menjaga keamanan lingkungan sekitar dari ancaman di kawasan Lenteng Agung.

Keduanya merupakan warga pendatang. Bang Adjied berasal dari Jakarta Selatan, kini ia memilki 2 orang anak. Sedangkan Babe berasal dari Jakarta Pusat yang memiliki 4 orang anak (2 laki-laki & 2 perempuan), semuanya telah berkeluarga.  Mereka tinggal dan menetap di Lenteng Agung sekitar tahun 1979-an. Singkat cerita, kini mereka tinggal berdua, karena ternyata ada 4 orang hansip yang dulu pernah menjaga daerah Lenteng Agung, namun ke dua temannya tidak sanggup lagi untuk menjalani pekerjaan ini. Sekarang Bang Adjied dan Babe telah bekerja sebagai hansip selama 30 tahunan.

“Kegiatan yang paling banyak mendatangkan penghasilan adalah saat PEMILU tiba,” tegas Bang Adjied saat berbagi kisah dan pengalamannya sebagai seorang Hansip. Mereka biasa mendapatkan upah Rp. 100 000 dalam sekali tugas menjaga keamanan di RT 11 ini. “Ya maklumlah gaji bulanan tergolong kecil,” tambah Babe, “Ditambah lagi seragam lengkap baru.” Semula mereka enggan untuk membeberkan penghasilan mereka tiap bulannya kepadaku. Namun, setelah kubujuk-bujuk, ternyata upah mereka jauh dari hitungan UMR (Upah Minimum Regional) hanya Rp. 225 ribu / bulannya.

Rasa ibaku kukesampingkan saat mendengar cerita mereka. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, tepat saat mereka akan berkeliling guna mengecek keadaan rumah warga. Selama perjalanan mereka bercerita bahwa tiap dua jam sekali mereka harus melakukan cek rutin berkeliling, dan hari itu  adalah giliran mereka untuk ronda berdua yaitu pada hari ke tiga karena biasanya dilakukan sendiri-sendiri sehingga salah satu di antara mereka dapat berlibur. Rute yang dilalui pun tidak terlampau jauh, mungkin karena aku ikut bersama dengan mereka berkeliling (pikirku).

Ternyata untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan diri dan keluarga mereka, Babe dan Bang Adjied menerapkan tagihan uang keamanan kepada para warga tiap sebulan sekali. Tagihan ini bersifat legal karena hasilnya akan dimasukkan ke dalam kas Hansip yang dipegang oleh bendahara RT. Nominalnya pun termasuk kecil, cuma Rp 5 000 per Kepala Keluarga. Namun khusus janda hanya dikenakan Rp 3 000 per bulan. Sedangkan para mantan Hansip diberi pengecualian. Namun ada saja warga  yang memberi jauh lebih besar dari pada itu.

Lalu sampailah kami di beberapa tempat Babe dan Bang Adjied biasa nongkrong untuk mengisi waktu senggang saat ronda hingga fajar tiba. Bukan di Pos Hansip melainkan di halte dan warung kopi Mamiri yang biasa mereka kerap kunjungi.

Menurutnya, pos yang kini mereka tempati kurang nyaman dan sangat terbuka hingga udara dingin sangat menusuk tulang. Padahal pos mereka yang dahulunya bukan itu, melainkan yang berada di ujung taman Lenteng Agung, merupakan pemberian Bapak Slamet Adi (ketua RW 02) saat taman tersebut masih berupa kebon Pisang dan Pepaya. Namun, hal tersebut hanya bersifat sementara karena sekitar tahun 2008-2009 pos tersebut dijadikan Pos Sispandu (Sistem Pengaman Terpadu) yang anggotanya terdiri dari warga dan hansip dengan satu syarat, harus memilki HT (Handy Talkie). Satu hal yang sangat berat bagi Babe dan Bang Adjied karena harga 1 unit HT tersebut lumayan mahal. Kini pos tersebut hanya kosong melompong, tak berpenghuni, dindingnya mulai retak, dan banyak coretan-coretan di tembok depan, sungguh tidak terawat.

Tidak butuh waktu lama untuk mencairkan suasana di pagi yang dingin tersebut, ditemani segelas teh hangat dan sebungkus rokok kretek, Babe dan Bang Adjied melanjutkan cerita-cerita pengalaman mereka saat bertugas di Lenteng Agung. Salah satu yang menarik adalah kisah tentang suami isteri yang sedang cekcok, “Saat itu kami sedang duduk-duduk seperti biasa, tiba-tiba datanglah laki-laki, berjalan sempoyongan dan rambut acak-acakan, duduk, kemudian rebahan di pos kami (enggan menyebutkan nama lelaki tersebut, yang kini tinggal di RT 07). Lelaki itu berkata, “…..Nanti kalau ada yang datang, pura-pura saja kalau saya mabuk berat ya, Pak..!!” Selang beberapa menit, seorang perempuan berpakaian putih dan berkerudung datang menghampiri sembari menangis dan berteriak-teriak kepada laki-laki tersebut, lalu sandiwara itu pun dimulai. Setelah mengikuti sandiwara laki-laki tersebut, usut punya usut ternyata mereka adalah pasangan suami isteri yang sedang bertengkar.”

Belum lagi kisah yang paling up-date adalah tentang pohon tua yang tumbang di Taman Lenteng, “ Ketika itu bang Adjied bertugas sendirian, cuaca sangat tidak bersahabat, hujan dan angin yang cukup kencang membuat Bang Adjied memutuskan untuk tidak berkeliling dan hanya berdiam diri di posnya. Tiba-tiba, tengah malam pohon sejenis asam yang berada tepat di pinggir posnya tersebut tumbang. Bang Adjied langsung lari sembari mengenakan jaket kulitnya untuk menutupi kepala dari hujan yang turun dan melaporkan kejadian tersebut kepada Pak RT. Hingga siang harinya barulah pohon yang berusia kurang lebih 10 tahun tersebut dibersihkan oleh Dinas Pertamanan sekitar.

Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, tiba-tiba ayam pun mulai berkokok dengan kerasnya. Suasana yang tadinya hening kembali diwarnai oleh kebisingan kendaraan yang melintas. Para warga mulai beraktivitas ke pasar, ke kantor, bahkan ada juga yang baru pulang ke rumah mereka masing-masing. 80 Kepala Keluarga RT 11 pun mulai membuka pintu dan jedela rumah mereka, bersiap menikmati pagi. Tidak demikian dengan Babe dan Bang Adjied. Jam inilah saat mereka harus segera pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat dan memulai rutinitas mereka kembali sebagai penjaga malam pukul 22.30 WIB nanti.

***

Para Penjaga Malam Yang Berbahagia

Aku sering melihat Hansip Lenteng Agung ada setiap malam di pos kamlingnya dekat Taman Lenteng Agung. Ada satu Hansip yang menarik perhatianku,  Abdul Majid namanya. Seperti biasa pekerjaan seorang Hansip, Pak Majid berkeliling tiap malam, menjaga keamanan di wilayahnya.

Postur tubuh Pak Majid, tidak terlalu tinggi dan berperut bulat. Dari tahun 1982 Pak Majid sudah menjadi Hansip di RT 11 RW 02 ini, sampai kini usianya menginjak 57 tahun.

Pak Majid selalu memakai kaos berlambang partai sehari-harinya. Paling sering aku lihat dia memakai kaos berwarna kuning dengan lambang pohon beringin, logo dari Partai Golongan Karya, atau lebih dikenal Golkar,  yang saat ini di ketuai oleh Aburizal Bakrie. Tapi bukan hanya kaos Golkar saja, aku juga pernah melihat beberapa kali Pak Majid memakai kaos berwarna hijau dan putih, masih bertemakan partai. Aku jadi bertanya-tanya, apakah dia mendukung ke semua partai tersebut pada tiap Pemilu, atau dia selalu memanfaatkan gelaran pemilu itu sebagai saatnya mendapatkan kaos gratisan.

Suatu sore aku lewat Taman Lenteng Agung,  kulihat Pak Majid sedang bermain kelereng bersama anak-anak kecil. Di antara mereka ada seorang bapak lain yang seumuran dengan Pak Majid juga,  Pak Rosid namanya. Pak Rosid pun bekerja sebagai penjaga malam di sebuah rumah kost di Gang Lurah. Intinya, setiap malam aku melihat mereka bekerja sebagai penjaga malam, tapi di sore hari saat bebas tugas, aku melihat mereka bermain kelereng seperti anak-anak.

Pak Rosid berbeda dengan Pak Majid. Walau pekerjaan mereka sama, tapi yang dilakukan Pak Rosid terasa lebih eksklusif. Dia menjaga sebuah rumah kost besar dan tampak mewah di Gang Lurah. Kerjanya mulai dari jam 7 malam. Semalaman itu, Pak Rosid mengawasi aktifitas anak-anak kost. Siapa orang-orang yang keluar masuk rumah kost itu. Sekitar jam 11, Pak Rosid mulai mengusiri pacar-pacar para penghuni kost yang tidak seharusnya menginap. Pukul 12 waktunya mengunci gerbang, dan tidur. Sesekali Pak Rosid terbangun untuk membukakan pintu gerbang,  kalau ada anak kost yang pulang tengah malam, lalu tidur lagi.

Aku tahu betul kegiatan Pak Rosid ini, karena aku sering menginap di rumah kakakku yang mengontrak di sebuah rumah kecil yang masih merupakan bagian dari gedung besar rumah kost tersebut. Sekitar jam 5 atau jam 6 pagi,  Pak Rosid pulang ke rumahnya. Mungkin melanjutkan tidurnya.

Hanya dengan menjadi penjaga malam di sebuah rumah kost, tanpa perlu berjalan keliling, menurutku Pak Rosid lebih beruntung dari pada Pak Majid yang harus berkeliling kampung. Selain dapat gaji setiap bulannya, Pak Rosid juga mendapatkan tips-tips dari anak-anak kost. Terutama dari anak kost yang memiliki kendaraan, kerena membutuhkan penjagaan keamanan ekstra.

Ke dua penjaga malam itu tinggal di dekat Taman Lenteng. Ada sebuah jalan kecil beraspal yang kanan dan kirinya berjejer rumah penduduk yang padat. Di antaranya ada rumah mereka. Aku tahu yang mana rumah Pak Rosid, sebuah rumah papan yang sangat kecil, dihuninya bersama istri, anak-anak serta cucunya. Tapi aku tidak tahu dengan pasti yang mana rumah Pak Majid. Sepertinya rumah Pak Majid dan Pak Rosid bersebelahan,  karena aku sering melihat Pak Majid keluar dan masuk ke sebuah bangunan papan kecil yang hanya menyerupai sebuah kotak,  persis di sebelah rumah Pak Rosid. Di gang kecil depan rumah mereka itulah arena mereka bermain bersama anak-anak penduduk setempat.

Sambil menunggu gilirannya untuk  bermain,  Pak Majid  duduk-duduk di teras rumah Pak Rosid. Aku selalu memperhatikan waktu mereka bermain kelereng. Karena sering lewat di depan rumah mereka,  akhirnya momen itu jadi menarik bagiku, karena aneh rasanya melihat orang tua yang rutin bermain kelereng setiap harinya.

Aku lihat Pak Majid dan Pak Rosid sering kali dibohongi oleh lawan main mereka, yang rata-rata remaja dan kebanyakan anak-anak kecil. Pak Majid dan Pak Rosid sering kali tidak tahu kalau giliran mereka untuk bermain sudah terlewatkan. Mungkin anak-anak itu memang senang mengerjai para orang tua itu. Akhirnya ke dua orang tua itu jadi lebih sering kalah bermain.

Ternyata bukan hanya permainan kelereng yang menarik bagi Pak Majid. Pernah aku lihat juga, dia sedang bermain layang-layang di tempat yang sama. Namun kulihat saat itu layang-layangnya tak kunjung terbang. Memang sih, saat itu tidak ada angin yang bisa menerbangkan layang-layang.  Tapi kulihat Pak Majid tetap ngotot menaikkan layang-layangnya. Sayang momen lucu dan aneh itu cuma sekali kusaksikan.

Lalu,  kenapa mereka lebih memilih permainan anak kecil ya? Kulihat mereka tidak begitu mahir juga?  Padahal kan mereka pernah kecil,  dan yang kutahu, aturan ke dua permainan itu tetap sama dari dulu. Bisa kuasumsikan kalau mereka sejak kecil memang selalu menjadi bulan-bulanan teman-temannya karena tidak mahir bermain. Dan sampai tua mereka masih tetap penasaran melakukannya. Mungkin juga mereka bermain permainan anak-anak tersebut karena mereka hanya bekerja di malam hari, dan tak ada aktifitas lain siang harinya.

Aku juga pernah melihat Pak Rosid membawa sejumlah ikan yang cukup banyak di dalam ember. Ternyata Pak Rosid senang memancing juga. Kakakku bercerita tentang Pak Rosid yang sering membawa jaring bergagang panjang,  ke halaman kontrakan Bu Anis yang ada pohon rambutan dan pohon sawonya. Jaring bergagang panjang itu digunakan untuk mengambil kroto (telur semut) untuk umpan memancing di kali belakang kampus IISIP. Gagang jaringnya dibuat panjang supaya bisa mencapai tempat kroto-kroto yang ada di atas pohon.

Banyak orang yang bilang memancing adalah pekerjaan orang yang malas. Tidak seperti nelayan yang mencari ikan sebagai profesi. Hasil yang didapat berjumlah besar dan layak untuk dijual dan hasil penjualan bisa disebut sebagai penghasilan. Memang dari memancing kita bisa mendapatkan lauk untuk makan. Kalau dapat ikan yang lumayan banyak,  kita bisa menjualnya sebagian. Tapi kalau itu dilakukan hanya sekali-sekali, hal itu hanya merupakan hobi saja, alias bersenang-senang.

Intinya, walau hanya memiliki rumah gubuk dan keluarga yang harus dihidupi,  ke dua penjaga malam ini pastilah orang yang berbahagia, karena kerja mereka setiap harinya hanya bersenang-senang.

Otty Widasari, Agung Nathael, Ageung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s