Fly Over 1 Milyar

Lenteng Agung dan Depok dihubungkan oleh sebuah fly over (jalan layang) yang biasa dikenal dengan nama Fly Over UI (Universitas Indonesia). Di sana menjadi tempat transit  beberapa angkutan kota (angkot), di antaranya jurusan Pasar Minggu-Depok, Kampung Rambutan-Depok, Pasar Minggu-Mekar Sari dan lain-lain. Aku dan temanku, Zikri, tidak tahu pasti kapan fly over itu dibangun. Ada yang bilang tahun 1989, 1994, 1996 bahkan ada juga yang bilang tahun 2003. Sampai kantor Wali Kota dan Kantor Polisi pun kami datangi, tetap tidak membuahkan hasil.

Dari pencarianku bersama Zikri mengenai kapan dibangunnya Fly Over UI, kami menemukan sebuah kasus bernama ‘Kubu 1 Milyar’. Kisahnya, fly over itu dibuat memutar karena tanah di tengah-tengah fly over itu ada yang memiliki. Si pemilik tanah meminta harga 1 Milyar untuk tanah tersebut, tetapi Pemda tidak mau membayarnya, jadilah fly over itu memutar. Sampai sekarang aku dan Zikri tidak mengetahui juga siapa pemilik tanah itu. Pak Wandi yang aku temui di Balai Wartawan, Polres Depok, bilang sampai sekarang sengketa tanah kubu 1 Milyar itu belum selesai dan si pemilik tanah tersebut sudah meninggal. Mungkin kami akan mencari ahli waris si pemilik tanah itu. Dari situ mungkin juga kita akan tahu kapan dibangunnya fly over tersebut.

Di keseharianku, aku selalu melewati Fly Over UI ini, pastinya dengan menaiki angkot. Banyak peristiwa di atas dan bawah fly over ini. Seperti misalnya, ketika aku menaiki angkot berwarna biru, bernomor 112 jurusan Depok-Pal. Aku naik angkot ini dari Depok untuk menuju Kelapa Dua. Ujung jalan Margonda dibagi dua jalur, ke Kelapa Dua dan Pasar Minggu. Kebanyakan angkot 112 ini memakai jalur menuju Lenteng Agung. Tepat di fly over ini mereka belok kanan menuju Kelapa Dua. Akan tetapi setelah belokan, angkot itu melawan arus yang seharusnya menanjak menuju Lenteng Agung sehingga jalur mereka menurun.

Ada lagi kisah lain, masih di seputar fly over. Dari fly over itu ada jalan masuk dan keluar Kampus UI yang dibatasi oleh sebuah pos jaga. Arus kendaraan yang masuk ke UI terlihat normal dan tertib. Namun arus kendaraan yang keluar dari UI harus berhadapan dengan arus kendaraan dari Depok menuju Lenteng Agung, karena fly over tersebut jalurnya hanya satu arah yaitu menuju Lenteng Agung. Meskipun kendaraan yang melawan arus dari UI hanya satu jalur, akan tetapi hal itu cukup membuat kemacetan dan menjadi rawan kecelakaan.

Kalau memang pintu masuk UI itu sudah ada dari dulu, berarti seharusnya fly over itu dibuat dua arah. Mungkin saja fly over dibuat satu arah untuk menghindari kemacetan, tetapi dibuat satu arah pun terjadi kemacetan juga tiap sorenya saat arus lalu lintas sedang padat-padatnya, terutama karena arus kendaraan yang keluar dari Kampus UI tersebut. Akan tetapi kalau fly over tersebut yang lebih dulu dibangun, kenapa Kampus UI membuat jalur keluar di fly over yang jelas-jelas satu arah, padahal di jalan bawah fly over, setelah Halte UI, ada pintu masuk dan keluar Kampus UI juga.

Di bawah fly over itu juga terdapat titik-titik kecil pertemuan massa. Misalnya, ada Tempat Pembuangan Sampah (TPS) berupa bak besar yang hanya terdiri dari tiga sisi dinding semen. Bagian bak terbuka tempat sampah itu menghadap ke jalan raya dan sangat mengganggu mata. Di dekat tempat sampah itu juga terdapat titik temu massa lainnya. Di  antaranya bengkel, toko bangunan dan tempat pembayaran listrik Online. Dan titik temu massa lainnya yang menarik adalah sekumpulan ‘Pak Ogah’ atau pengatur lalu lintas ilegal di persimpangan jalan, kolong fly over.

Tempat Pembuangan Sampah

Tempat pembuangan sampah (TPS) ini terletak persis di belokan ke Kelapa Dua dari Lenteng Agung. Aku sering melewati TPS ini ketika mengantar dan menjemput keponakanku yang bersekolah di Kelapa Dua. Setiap aku melewati TPS ini, bau yang tercium lumayan menyengat hidung meskipun aku berada di dalam angkutan kota (angkot).

Waktu itu, tanggal 1 April 2009, aku mengantar keponakanku  ke sekolahnya. Aku melihat di TPS itu ada beberapa orang sedang mengaduk-aduk sampah. Terlihat ada sebuah gerobak dan truk yang sedang parkir tepat di depan TPS itu. Karena rasa penasaranku, dalam hati aku berharap semoga saja nanti ketika aku selesai mengantar keponakanku, truk itu masih ada.

Sepulang mengantar keponakan, aku berhenti di Halte UI dan berjalan menyeberang melalui jembatan penyeberangan UI yang cukup panjang. Matahari bersinar sungguh terik waktu itu, cukup untuk membakar kulitku yang tak kututupi dengan jaket. Truk itu masih pada tempatnya. Aku sedikit ragu untuk mendekati TPS itu. Dengan kamera digital di tangan aku mendekati TPS itu, aku berpura-pura lewat. Orang yang ada di atas truk memanggilku.

 “Neng, foto, dong!

“Iya, Neng, foto!” salah seorangnya temannya menimpali sambil bergaya siap untuk dipotret.

Aku langsung memanfaatkan kesempatan ini, aku potret semuanya. Aku membaur bersama mereka. Tidak seperti yang aku bayangkan, ternyata mereka semua ramah. Saat aku akan memulai pertanyaanku, tiba-tiba ada salah satu pengendara motor yang mencoba melempar kantong plastik (aku yakin itu adalah sampah).

“Jangan dilempar… jangan dilempar, dari RW berapa?” kata salah seorang petugas yang akhirnya kuketahui bernama Pak Imam, sambil menunjuk-nunjuk dengan sapunya.

“Ya enggak, saya cuma kebetulan lewat aja,” jawab pengendara motor itu dengan tergagap.

“Ya, udah-udah, jangan main lempar aja, Mas” kata Pak Imam lagi.

Turunlah pengendara motor itu dari motornya, berjalan menyimpan kantong plastiknya di TPS itu dan langsung pergi menuju motornya lagi. Aku langsung bertanya kenapa harus ditanya dari RW berapa. Pak Imam mengatakan bahwa di TPS itu harusnya hanya menampung sampah dari RW 1, 2, 3 dan 4 saja. Tapi kira-kira seperempatnya sampah itu dari pengendara yang hanya kebetulan lewat TPS itu.

Tidak lama setelah itu, datang sebuah motor roda tiga yang di belakangnya ada bak mengangkut sampah. Setelah kutanya-tanya sampah itu datangnya dari RW 3. Sampah dari motor itu langsung dimasukkan ke dalam truk. Ternyata di bagian paling belakang truk itu ada suatu alat yang bergerak untuk memadatkan sampah-sampah itu. Truk ini mengantarkan sampah-sampah sampai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Menurut salah seorang petugas yang memakai truk, ternyata truk itu adalah kepunyaan sebuah pabrik di Jakarta. Jadi Pemda membayar ke Pabrik itu. Kenapa Pemda lebih baik membayar ke Pabrik itu daripada membeli truk sendiri? Aku pendam pertanyaan itu dalam hati.

Gaji dari petugas sampah truk itu sudah sesuai dengan standar UMR (Upah Minimum Regional) Jakarta , sekitar Rp. 1.200.000,-. Sedangkan Pak Imam enggan menyebutkan gajinya, tapi katanya, “Jauh banget dari 1.200.000!”. Aku sedikit kaget, karena pekerjaan keduanya hampir sama yaitu mengurusi sampah.

PLN Online

Jaman sekarang semua teknologi sudah canggih, contohnya internet. Internet mulai ada pada tahun 1969. Penelitian internet ini awalnya dilakukan oleh Advanced Research Projects Agency (ARPA) dengan dana dari Departemen Pertahanan (DOD) Amerika Serikat. Proyek ini bertujuan untuk memungkinkan agen-agen pemerintah dan militer saling berkomunikasi dan berbagi informasi.

Akan tetapi sekarang semua orang di dunia mengenal apa yang disebut dengan internet. Seperti di Indonesia, PLN pun menggunakan jasa internet untuk pelanggan melakukan transaksi pembayaran. PLN Online namanya.

Aku masih belum mengerti apa maksud dari PLN Online ini. Apakah pembayaran rekening listrik bisa melalui internet? Di Lenteng Agung pun ada tempat pembayaran listrik secara online, seperti halnya mesin ATM. Letaknya di seberang UI, di bawah fly over yang mengarah ke Depok. Aku pun masuk ke sana dan bertemu dengan Bapak Irvi yang bertugas melayani  pelanggan PLN Online ini.

Tidak seperti pembayaran listrik yang biasanya terdiri dari loket-loket pembayaran. Saat aku masuk, kulihat ruang persegi empat yang kuperkirakan berukuran 6 meter persegi itu berisi satu meja panjang untuk transaksi pembayaran listrik, dengan satu dinding pembatas. Di sebelahnya terdapat etalase yang isinya peralatan tulis yang dijual. Ada juga barang dagangan lainnya, yaitu keranjang-keranjang bertumpuk seperti yang biasanya digunakan untuk suvenir perkawinan. Di depan tempat pembayaran listrik tersebut, terdapat kursi-kursi dan meja, yang disusun seperti meja tamu. Mungkin itu disediakan untuk para pelanggan yang mengantri membayar listrik.

Terlihat Pak Irvi sedang asik dengan komputernya. Dalam layar komputer kulihat ada box chating ‘Yahoo! Messenger’.

“Enak, nih, online terus?” pertanyaan itu kulontarkan karena melihat box chating di komputernya.

“Ya kerjaannya gini, Dik,”

Enak juga bertugas seperti Pak Irvi. Di waktu senggangnya saat tidak ada pelanggan, Pak Irvi bisa menggunakan internet semaunya.

PLN Online itu baru berdiri sekitar 6 bulan. Ternyata, PLN Online adalah sebuah jasa layanan pembayaran rekening listrik yang disediakan pemerintah secara online, dari mana saja di seluruh Indonesia.  Aku bisa membayar rekening listrik rumahku di  Sukabumi melalui PLN Online ini, selama aku punya nomor ID pelanggan.

Pak Irvi mengatakan, sekarang ini ada model meteran listrik yang baru. Dengan sebuah voucher isi ulang kita dapat menyalakan listrik. Penggunaan sistem voucher isi ulang ini sudah diujicobakan di Bandung. Meteran voucher isi ulang ini diberlakukan untuk mengurangi penunggakan pelanggan yang sering merepotkan pihak PLN. Untuk pemasangan baru, sekarang ini bisa menggunakan sistem voucher isi ulang ini.

Banyak keuntungan dari meteran voucher isi ulang tersebut, di antaranya tidak ada biaya abodemen bulanan, tidak harus ada orang datang ke rumah kita untuk mencatat meteran manual, tidak ada penunggakan pembayaran, dan, katanya pemasangan baru ini hanya memakan waktu hanya tiga hari.

Pak Ogah = Anak Ogah

Istilah ‘Pak Ogah’ sudah tidak asing lagi bagiku. Ogah berasal dari Bahasa Betawi yang berarti ‘tidak’, atau lebih tepatnya ‘enggan’.

Kalau mendengar kata ‘ogah’ kita pasi langsung mengaitkannya dengan Serial Si Unyil, sebuah acara hiburan anak-anak yang diputar TVRI setiap hari Minggu pagi selama sekitar 10 tahun sejak April 1981. Berkisah tentang kehidupan keluarga yang khas Indonesia di sebuah daerah pinggiran bernama Desa Sukamaju. Semua karakternya terbuat dari boneka tangan, berwajah seperti masyarakat Indonesia biasa. Skenarionya selalu seputar persoalan kehidupan sehari-hari dengan sentuhan tradisional yang kental.

Pembangunan karakter dalam Serial Si Unyil ini dibagi 2, antara yang ‘baik’ dan ‘buruk’. Contohnya, Unyil dan 2 sahabatnya adalah anak-anak baik, dan sekelompok teman mereka lainnya adalah anak-anak nakal. Konflik antara 2 kelompok anak ini selalu diakhiri dengan pesan untuk menjadi anak yang baik.

Pada masa itu, karena stasiun televisi hanya satu, maka acara ini menjadi acara kesayangan anak-anak di Indonesia dan semua karakter yang ada dalam serial tersebut sangat terkenal.

Walaupun bertujuan untuk menghibur dengan kisah-kisah yang menjadi fantasi kanak-kanak, cerita rakyat, dan dongeng, namun acara ini memiliki pesan tersembunyi dari Pemerintah Orde Baru, tentang semangat patriotisme, nasionalisme, kesehatan, lingkungan hidup, kekuatan militer, program Keluarga Berencana, seni dan budaya.

Pak Ogah merupakan salah satu tokoh dari serial tersebut yang melambangkan karakter ‘buruk’ seperti yang aku sebutkan di atas.

Di cerita itu, Pak Ogah adalah seorang pengangguran. Kepalanya gundul, kerjanya nongkrong di Pos Ronda dan selalu meminta uang pada orang-orang yang lewat, terutama yang meminta bantuannya untuk melakukan suatu pekerjaan. Ada dua kalimat yang sering diucapkan oleh Pak Ogah bila diminta bekerja, yaitu “Ogah, aah!” dan “Cepek (uang seratus rupiah) dulu dong”.

Ada bentuk manusianya dari Pak Ogah, yaitu orang-orang yang biasa berdiri di perempatan untuk menertibkan jalan dan berharap ada yang memberikan uang. Pekerjaan ini mulai marak sejak masa Reformasi 1998 dan tergolong ilegal. Kini makin banyak kita temukan para Pak Ogah di persimpangan jalan yang berusaha mengatur lalu lintas. Jasa mereka kadang memudahkan pengendara, tapi kebanyakan juga malah mengganggu arus lalu lintas.

Seharusnya Polisi lah yang bertugas menertibkan lalu lintas. Pada pagi hari saja aku sering melihat Polisi-polisi itu, siang, sore  dan malam kemana mereka? Mungkin juga mereka ada tugas lain.

Di perbatasan Lenteng Agung-Depok, di bawah Fly Over UI, kadang-kadang ada Pak Ogah juga. Pak Ogah-Pak Ogah di sana kebanyakan anak-anak di bawah umur, sekitar 15 tahun ke bawah. Jadi sebutan untuk mereka kuganti menjadi ‘Anak Ogah’. Sewaktu aku ke sana, aku sempat bertanya kepada salah satu Anak Ogah yang kebetulan ada di situ. Mereka mengatakan bahwa tempat itu  ada yang punya (yang memiliki otoritas sebuah lokasi kecil secara ilegal-red). Mereka biasanya memanggil orang itu dengan Bang Adi. Kata mereka perawakannya besar.

“Terus, Dik, kamu bayar ke Si Bang Adi itu?” tanyaku.

Nggak, Mbak” Jawab salah seorang dari mereka.

Aku sangsi, masa sih tidak dipungut bayaran sama Si Bang Adi itu?

Ada acara rutin dari para Anak Ogah ini, yaitu kejar-kejaran dengan Polisi. Memang sih, setelah aku perhatikan kalau ada Polisi di situ, Anak Ogah itu tidak kelihatan satupun. Demi mendapatkan uang yang kira-kira Rp 10.000,- per harinya, Anak Ogah ini rela kejar-kejaran dengan Polisi.

Sebenarnya kondisi jalan itu cukup lancar sebagai jalan persimpangan yang kondisinya tidak berlampu merah. Akan tetapi dengan adanya Anak-anak Ogah ini, cukup mengganggu jalur lalu lintas di situ. Malah kuperhatikan kemacetan lebih sering terjadi jika Anak-anak Ogah ini mencoba menertibkan kendaraan yang lewat di persimpangan kolong fly over.

Ageung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s