Buruh dan Asap

Artikel ini pernah dimuat dalam akumassa.org (http://akumassa.org/kontribusi/sukabumi-jawa-barat/buruh-dan-asap/)

Kisah dari seorang teman…

Sukabumi, saat mendengar nama salah satu kota di Jawa Barat ini pasti banyak hal yang melintas di benak anda.

Buruh batu kapur, hal lainnya yang juga ada di Sukabumi

Mulai dari Pantai Pelabuhan Ratu yang terkenal dengan ombaknya yang ganas dan legenda Nyi Roro Kidul, indahnya curug (air terjun) Cibeureum dan Situ Gunung, perkebunan teh di Salabintana, Pantai Ujung Genteng yang indah, Moci (Kue berbahan dasar tepung ketan, gula, kacang tanah, gula tepung, dan tepung tapioca-Red), Mie Kocok, padatnya Pasar Cicurug dan Pasar Cibadak, Ilmu Santet dari Jampang yang menyaingi dukun-dukun dari Banten, banyaknya warga yang mengadu nasib di luar negeri sebagai TKI, dan tentunya budaya pernikahan dini yang belum juga hilang.

Masih banyak yang bisa dilihat dari Sukabumi, biasanya kota ini akan ramai saat musim liburan tiba. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta juga menjadikan Sukabumi sebagai pilihan utama keluarga untuk berlibur, biasanya Pantai Pelabuhan Ratu dan Kebun Teh Salabintana akan sangat ramai saat tahun baru tiba. Saya sendiri tinggal di Bojong Lopang, salah satu daerah yang berada di Jampang Tengah, Sukabumi.

Jalan berliku menuju Bojong Lopang

Bojong Lopang adalah satu kecamatan yang jaraknya ±1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor dari pusat kota Sukabumi, penduduknya tidak begitu padat karena sebagian besar lahannya digunakan sebagai hutan lindung, perkebunan Kakau (buah Coklat), sawah, kebun dan pangkalan militer. Udaranya sangat dingin di malam dan pagi hari sampai nafas kita berembun tapi akan sangat menyengat di waktu siang. Walaupun lingkungannya masih sangat hijau tapi kondisi air di Bojong Lopang kurang bagus, kontur tanahnya yang bercampur dengan batu kapur membuat air berwarna agak keruh dan berbau.

Jika melintasi daerah Bojong Lopang kita bisa melihat banyak sekali tungku-tungku pembakaran yang digunakan untuk membakar  batu-batu kapur. Batu-batu yang sudah dibakar kemudian akan diproses sampai berubah menjadi serbuk, nantinya serbuk ini akan dikirim sesuai dengan pesanan. Ada yang digunakan untuk bahan pembuat cat tembok, pupuk kimia, pasta gigi, dan lain sebagainya.

Tungku pembakaran batu kapur

Dalam sehari para buruh bisa membakar ±15 kubik batu kapur setiap tungkunya. Mereka akan memecah batu kapur yang dibawa dari bukit kemudian mengangkut dan memasukkannya ke dalam tungku pembakaran. Ada sekitar lima belas pabrik pembakaran batu kapur di Kecamatan Bojong Lopang, setiap pabrik memiliki paling sedikit dua tungku pembakaran, yang paling banyak adalah milik PT Bukit Intan, pabrik ini memiliki delapan tungku yang aktif digunakan setiap hari.

Menurut cerita yang beredar di kalangan warga, pabrik tersebut diberi nama Bukit Intan, karena dulu di area pabrik tersebut ditemukan batu Intan. Karena Intan itulah sang pemilik kaya sehingga pabrik pembakarannya kini menjadi yang terbesar di Kabupaten Sukabumi.

Tungku pembakaran batu kapur

Di pabrik ini para buruh bekerja mulai dari jam tujuh pagi sampai siang, tergantung kapan tungkunya akan penuh oleh batu, kadang sampai jam dua belas siang kadang sampai jam dua siang. Ada juga pabrik yang mulai beroperasi dari sore sampai pagi hari. Setiap buruh akan diberi upah sebesar Rp. 40.000,- untuk tujuh jam bekerja dan Rp. 70.000,- untuk sepuluh jam bekerja. Upah tersebut sangat kecil dibandingkan tenaga yang harus mereka keluarkan untuk memecah batu, mengangkutnya ke dalam tungku, membakar serta mengemas kapur ke dalam karung-karung. Belum lagi resiko kesehatan pernafasan yang terganggu karena harus menghirup asap polusi dari tungku.

Melihat banyaknya tungku pembakaran yang ada serta jam kerja yang tidak pernah terputus maka tak heran jika daerah ini seringkali dipenuhi oleh kabut asap, terutama pada malam hari.

Kabut Asap

Kondisi jalan yang melingkar dan menanjak juga membuat pengendara harus lebih berhati-hati, aku sendiri pernah terjebak di tengah kabut asap bersama keluargaku.  Waktu itu malam takbiran, keluargaku berencana merayakan Hari Raya Idul Fitri di Bojong Lopang bersama saudara-saudara lainnya. Kami sengaja berangkat selepas Isya, sekitar pukul sebelas malam kami sudah masuk Kecamatan Bojong Lopang tapi tiba-tiba ayahku menghentikan mobil karena pandangannya terhalang oleh kabut asap, bahkan cahaya lampu mobil hanya mampu menembus sekitar satu meter saja. Kami tidak berani melanjutkan perjalanan karena kondisi jalan yang berbelok-belok dan berada di tepi jurang. Untunglah setengah jam kemudian kabut mulai menipis dan kami pun melanjutkan kembali perjalanan.

Tungku pembakaran terlihat dari kejauhan

Sungguh pengalaman yang cukup menegangkan, tengah malam berada di tengah-tengah kawasan hutan lindung di wakktu yang juga sangat rawan. Menjelang libur Hari Raya biasanya daerah ini akan sangat rawan perampok yang mengincar harta yang dibawa oleh para perantau yang pulang kampung. Bahkan tak jarang perampok akan berlaku sadis dan melukai korban, untungnya malam itu kami selamat sampai tujuan dan bisa merayakan Hari Raya bersama keluarga.

Seorang buruh menembus kabut asap untuk mengangkut batu-batu kapur ke tungku pembakaran

Itulah sepenggal cerita tentang kampung halamanku, Bojong Lopang, Sukabumi. Buruh dan asap menjadi sebuah pemandangan khas ketika hendak mengunjungi sanak saudara di sana.

Eni Wibowo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s