10 November

Artikel ini pernah dimuat di akumassa.org ( http://akumassa.org/program/surabaya-jawa-timur/10-november/ )

 

Hari ini, 10 November 2010, saya sedang berada di Surabaya bersama Komunitas Kinetik. Menikmati 10 November di kota bersejarah ini ternyata terasa biasa saja.

65 tahun yang lalu, disaat Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada tanggal 18 September 1945 orang-orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W. V. CH Ploegman, mengibarkan Benderanya yang berwarna merah-putih-biru di Surabaya, tepatnya di Hotel Oranje (sekarang Hotel Majapahit) tanpa persetujuan Pemerintah RI. Berkumpulah pemuda-pemuda Surabaya, untuk mendiskusikan soal pengibaran bendera itu. Datanglah salah satu wakil yaitu Soedirman ke Hotel Oranje dengan didampingi oleh Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI, Soedirman berunding dengan Mr. Ploegman untuk penurunan Bendera Belanda.

Pihak Belanda menolak dan langsung terjadi keributan. Mr. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, dan selanjutnya Sidik pun tewas oleh tentara Belanda. Sebagian pemuda Surabaya nekat menaiki gedung bagian luar Hotel Yamato untuk menurunkan Bendera Belanda. Akhirnya Koesno Wibowo berhasil menurunkan Bendera Belanda dan menyobek bagian warna biru yang akhirnya menyisakan warna merah-putih, Bendera Indonesia. Dan kemudian bendera kembali dikibarkan.

Perobekan bendera Belanda itu terjadi pada tanggal 10 November 1945, yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan yang sangat erat kaitannya dengan Surabaya.

Terlintas di pikiranku untuk bertanya kepada para pemuda Surabaya, yang juga merupakan anggota Komunitas Kinetik mengenai Peristiwa 10 November. Malam itu, hanya ada beberapa saja anggota Kinetik, yaitu, Eko, Sigit, Pijar, Juve, Rombeng, Remi, Dori, Amak, Ngok, Kadir dan Jujur. Saya memberi pertanyaan yang sama tentang 10 November.

Ketika kamu mengingat tanggal 10 November, apa yang kamu pikirkan?

Eko : “Nonton upacaranya lewat TV.”

Dori : “Puncaknya arek-arek Surabaya melawan penjajah.”

Sigit : “Di 10 November ada yang spesial bagiku, bukan karena Hari Pahlawan tetapi malah hari jadianku dengan kekasihku.”

Pijar : “Hari pahlawan saja.”

Rombeng : “Perjuangan arek-arek Suroboyo.”

Ngok : “Yang pertama 10 November itu hari Pahlawan. Yang kedua 10 November itu waktu SD harus Upacara Hari Pahlawan. Yang ketiga setahuku, ya Stadion 10 November. Yang ke empat ITS (Institut Teknologi Sepuluh November).”

Juve : “Hari libur.”

Kadir : “10 November, Perobekan Bendera Belanda di Hotel Mojopahit, perjuangan arek-arek Suroboyo.”

Jujur : Hari di mana para pahlawan, merebut kembali tanah air mereka.

Hari Pahlawan, 10 November, berhubungan erat dengan Surabaya, bagaimana menurut kamu sendiri sebagai arek-arek Suroboyo?

Eko : “Itu mengingatkan semangat pemuda, tapi sekarang sudah luntur.”

Dori : “Saat ini hanya menjadi hari perayaan saja, tidak ada aplikasi yang jelas dari masyarakat Surabaya.”

Rombeng : “Kalau perjuangan arek-arek Suroboyo jaman dahulu menggunakan otot, tapi sekarang berjuang bersenjatakan pikiran.”

Ngok : “Mungkin semangat di jaman sekarang sudah mulai luntur.”

Remi : “Lucu ya kalau Surabaya dikaitkan dengan sejarah nasional. Sebenarnya banyak sejarah di Surabaya, bangga juga 10 November menjadi ikon Surabaya.”

Dari seluruh percakapan saya dengan kawan-kawan Kinetik, Hari pahlawan sangat identik dengan upacara seperti biasanya. Dari cerita arek-arek Suroboyo ini, Hari Pahlawan hanya terlihat dari upacar-upacara itu. Terkecuali untuk Sigit, Hari Pahlawan yaitu 10 November, adalah hari jadinya dia bersama kekasih yang tahun ini menginjak 1 tahun.

Salah satu anggota Kinetik bilang, untuk memperingati Hari Pahlawan di Surabaya diadakan acara yang disebut Soerabaja Joeang, di acara itu banyak perhelatan digelar, mulai dari ajang kesenian sampai unjuk rasa.

Hari Pahlawan mungkin tak lagi memiliki kekuatan sejarah seperti dahulu. Semangat generasi muda berbeda jaman ini tidak sampai kepada romantisme sejarah Perobekan Bendera tersebut, walaupun mereka merupakan warga Surabaya.Namun, seperti yang dikatakan Rombeng, “Kalau perjuangan arek-arek Suroboyo jaman dahulu menggunakan otot, tapi sekarang berjuang bersenjatakan pikiran.” Hal itu mungkin ada benarnya. Perkembangan pengetahuan, teknologi dan informasi saat ini memungkinkan kita untuk berjuang tidak lagi dengan otot tapi juga pikiran.

Semoga saja Hari Pahlawan tidak kehilangan esensinya sebagai hari bersejarah bangsa Indonesia, namun perjuangan itu tetap dilanjutkan hingga sekarang oleh para generasi muda, dengan cara yang berbeda.

Kita bukan lagi berjuang agar Merah Putih mendapat tempatnya, namun berjuang untuk tetap ‘mengibarkannya’ ke seluruh dunia.

Selamat Hari Pahlawan!

Ilustrasi: Pijar Crissandi

Foto: Berbagai sumber

 

Young Kadeer dan Ageung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s