Kain Merah Pantang Menyerah

Artikel ini pernah dimuat di akumassa.org ( http://akumassa.org/program/surabaya-jawa-timur/kain-merah-pantang-menyerah/ )

Pertigaan itu takkan terlihat sepi akan keramaian.

Tiang itu terlihat sangat tinggi menjulang ke arah langit beserta kain merah pantang menyerah seketika.

Semangat luar biasa yang takkan pernah ada sedikit rasa beban dan pikiran.

Kekhawatiran itu timbul karena ada keinginan untuk merubah walaupun hanya sedikit saja.

Keramaian kota yang terjadi di ruas-ruas kota besar sangatlah wajar terlihat di mata masyarakat kita, tidak harus di jalan utama kota. Di jalan sekitar kota pun tidak lagi sepi akan pengguna jalan yang berujung kemacetan lalu lintas. Keberadaan Polisi Cepek sangat membantu kinerja petugas kepolisian dalam mengatur jalan yang begitu ramai di sepanjang jalan perkotaan, akan tetapi di samping itu pula, masyarakat banyak juga yang berasumsi bahwa kehadiran Polisi Cepek hanya menghambat laju perjalanan hingga menambah kemacetan jalan saja. Itulah sedikit potret permasalahan kemacetan yang sering terjadi di kota-kota besar saat ini.

Surabaya, kota dengan mobilitas transportasi darat dan perdagangan yang setiap harinya akan selalu bertambah ini akan sangat sering kita jumpai banyak sejumlah Polisi Cepek yang berkeliaran di sepanjang jalanan kota. Sebagian besar pekerjaan tersebut dikelola oleh penduduk sekitar, seperti para pengangguran dan preman setempat yang terkadang tidak bersikap sopan ketika menjalankan aktifitasnya dalam mengatur lalu lintas jalan tersebut. Di pertigaan Jalan Kutisari menuju arah Jemursari dan rungkut industri ini terdapat sebuah pemandangan serta aktifitas menarik mengenai kinerja Polisi Cepek yang beroperasi di sekitar pertigaan tersebut.

Di tengah jalan pertigaan Kutisari itu berkibar kain merah yang setiap saat berpindah posisi. Kain merah itu milik lelaki paruh baya yang rela menghabiskan hari-harinya untuk mengatur lalu lintas di pertigaan jalan tersebut demi kenyamanan pengguna jalan yang melintas di situ. Sutrisno nama lelaki itu, Pak Tris panggilannya dan biasa disebut  ‘Pasukan’ oleh warga sekitar tempat tinggalnya karena beliau sering kali bangun pagi–pagi dan melakukan jalan–jalan santai sambil menirukan gaya tentara komando ketika sedang latihan perang.

Seperti pada umumnya yang terkesan dipikiran kita seorang Polisi Cepek hanya bekerja dalam kondisi sewajarnya dengan menggunakan pelindung tubuh atau busana hanya untuk menutupi bagian tubuh agar terhindar dari terik matahari dan debu-debu yang berhamburan di jalanan. Panas dan debu tidak menjadi halangan bagi dirinya, justru malah sebaliknya. Dengan bakat dan kemampuannya membuat sesuatu sejak beliau duduk di bangku sekolah dasar, sehari-hari Pak Tris bekerja mengatur lalu lintas dengan mengenakan kostum atau dandanan yang unik. Kostum yang pernah dipakai mulai dari tentara Romawi, orang-orang kepercayaan raja kuno pada masanya, malaikat pencabut nyawa, tokoh agama, atlet olahraga, malaikat dan sebagainya. Sungguh aktifitas yang sangat menarik menurut saya jika melintas di pertigaan jalan tersebut. Selain kita disuguhkan oleh penampilan serta gaya unik yang setiap hari akan ganti edisinya, kita bisa tahu lebih jauh bagaimana serunya aksi Pak Tris dalam mengatur lalu lintas di pertigaan tersebut, hingga para pengguna jalan tersebut akan merasa sedikit terhibur dengan kehadiran beliau sebagai Polisi Cepek di sana.

Saat kedatangan tamu dari Jakarta yaitu Ageung, saya bercerita tentang Pak Tris ini yang selalu berkostum saat menjalankan tugasnya sebagai Polisi Cepek. Ageung pun ingin ikut ketika saya ingin memotret Pak Tris untuk keperluan tulisan ini. Berangkatlah kami menuju Jalan Kutisari tempat di mana Pak Tris bekerja. Di perjalanan Ageung terus saja bertanya-tanya tentang Pak Tris ini. Karena dulunya Ageung sempat membuat tulisan tentang Polisi Cepek di Depok.

Sesampainya di sana saya langsung memotret Pak Tris, sedangkan Ageung menunggu di pinggir jalan sambil terus melihat Pak Tris yang sedang mengatur lalu lintas dan berpakaian lengkap Polisi. Dengan aksesoris yang terjangkau, kertas berwarna emas disulapnya menjadi seperti pangkat layaknya Pak Polisi berpangkat tinggi. Terlalu sibuk dengan kegiatan saya memotret, ketika saya melihat Ageung lagi, dia sudah dikerumini oleh anak-anak yang merupakan warga sekitar. Ada sekitar 5 orang anak, yang akhirnya saya ketahui bernama Titin, Anas, Sherli, Bagus dan Renal. Ageung terlihat lebih asyik bersama anak-anak itu. Karena merasa cukup dengan hasil foto yang saya dapat, saya menghampiri Ageung. Ageung langsung meminjam kamera foto yang saya pegang. Dia pun memotret anak-anak itu. Dengan berbagai gaya lucu, anak-anak itu terus dipotret oleh Ageung.

Tak lama Pak Tris menghampiri kami dan mengajak saya ngobrol, katanya ia eberncana pulang ke kampung halamannya di Banyuwangi. Pak Tris meminta saya untuk menelpon keluarganya di Banyuwangi, untuk memberitahukan akan kepulangannya. Memberi kabar lewat telepon adalah salah satu keinginannya mengenai kabar saudara-saudaranya yang tinggal jauh darinya. Ketidakmampuan mengelola kemajuan teknologi informasi adalah salah satu faktor penghambat beliau dalam menjangkau hubungan komunikasi dengan rekan-rekan di kampung halamannya. Beliau sadar akan pentingnya hal itu, maka saya selalu berusaha menghubungkan beliau dengan saudara-saudaranya lewat obrolan telepon melalui ponsel pribadi saya.

Setiap hari nyentrik dan harus selalu bergaya. Tapi bagi beliau kostum hanyalah bonus saja dan fokus utamanya adalah mengatur lalu lintas. Ketika saya menanyakan kapan Pak Tris memakai pakaian pocong, beliau langsung bilang “Besok saya pake pocong!” tersenyumlah saya dan Ageung. Kami pun berencana untuk kembali besok.

Seperti halnya ketika ada sebuah peringatan kenaikan kisah Isa Almasih, beliau mengenakan kostum Pastur model Eropa ala Pak Tris tentunya. Peringatan hari–hari besar serta momen–momen tertentu yang terkadang menjadi sebuah patokan kostum tapi tidak menutup kemungkinan sesuai permintaan pengguna jalan yang melintas di sana.

Saya dan Ageung menepati janji, keesokannya kami datang kembali. Dari kejauhan kami tidak melihat kain merah berkibar di tengah pertigaan itu seperti biasanya. Ternyata Pak Tris sedang berada di becak semata wayangnya yang dia beli seharga 5000 rupiah pada sekitar akhir masa Orde Baru dari seorang pengumpul barang bekas, kondisi becaknya masih bagus pada saat itu, katanya. Becak ini juga sebagai alat transportasi dari rumahnya yang berjarak sekitar 500 Meter menuju pertigaan Kutisari.

“Seram!” kata itu yang pertama ke luar dari mulut Ageung ketika melihat dandanan Pak Tris yang memakai kostum pocong. “Lucu,” kata itu pun keluar dari Ageung, ketika melihat balon dan terompet-terompet tahun baru menggantung di bagian pinggang belakang Pak Tris. Pocong dengan balon dan terompet, antara seram dan lucu. Sebatang rokok dinyalakannya, untuk menemani bekerja mengatur lalu lintas. Pocong gaul, pocong merokok.

Seperti halnya kemarin, saya memotret sedangkan Ageung bercengkrama bersama anak-anak. Anak-anak itu menunggu untuk dipotret lagi. Semuanya terulang seperti kemarin yang tidak ada bosannya. Ageung asyik dengan anak-anak itu, sedangkan saya terlalu asyik menyaksikan pocong berbalon mengatur lalu lintas.

“Besok pakai baju apa, Pak?” tanya saya kepada beliau.

“Maunya apa? Kerajaan Romawi?” beliau menerima request kostum.

“Boleh Pak.”

Besok kami pasti akan kembali, dengan  tak ada bosannya.

Yoyo dan Ageung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s