Cerita Kami di Kota Tua

Artikel ini pernah dimuat di akumassa.org ( http://akumassa.org/kontribusi/dki-jakarta/cerita-kami-di-kota-tua/ )

Kota Tua dan Atraksi Kuda Lumping

Hari itu, aku dan temanku, Zikri, berencana menuju Kota Tua. Aku penasaran akan Kota Tua, karena aku pernah melihat foto salah satu temanku dulu waktu masih duduk di bangku SMP. Dalam foto itu dia dan teman lelakinya yang memakai topi rotan jaman dulu sedang menaiki Sepeda Ontel dengan latar belakang bangunan-bangunan tua. Kota Tua terletak di Jakarta Kota. Jika kita naik kereta menuju Jakarta, Kota Tua berada di stasiun terakhir, yaitu Jakarta Kota. Akhirnya, berangkatlah aku dan Zikri ke Kota Tua dengan penasaran bersama.

Di Stasiun Universitas Indonesia (UI) kami menunggu kereta ekonomi yang akan membawa kami menuju Jakarta. Tidak lama kami menunggu, kereta pun datang dan kami langsung menaikinya. Ternyata kereta cukup padat hari itu.

Di kereta, aku banyak melihat anak-anak di bawah umur tanpa orang tua. Kuperhatikan, anak-anak itu naik-turun dari beberapa stasiun, berjalan mondar-mandir dari gerbong satu ke gerbong lainnya. Ada satu anak yang duduk di pinggir pintu yang aku beri perhatian lebih. Setelah aku ajak berkenalan, dia mengaku bernama Dewi. Awalnya aku mengira dia adalah seorang anak laki-laki, tetapi dugaanku salah, ternyata dia adalah seorang anak perempuan. Dewi adalah seorang tukang sapu di kereta, ia berumur 14 tahun. Penampilannya sangat lusuh. Dia tinggal bersama ibunya, sedangkan ayahnya tidak tahu ke mana. Saat itu dia sedang beristirahat menikmati pemandangan di luar kereta setelah lelah menyapu setiap gerbong dari pagi.

Setelah aku amati saat beberapa hari ini aku naik turun kereta, anak-anak yang mencari nafkah di kereta adalah mereka yang punya masalah di keluarganya. Mungkin selain untuk mencari uang, kehidupan di kereta juga bisa membuat mereka sedikit terbebaskan dari masalah di keluarga mereka.

Ada juga ibu-ibu yang dengan sengaja membawa anaknya yang masih balita untuk mengemis di jalanan raya, terutama di lampu merah dan menyapu di kereta. Aku jadi ingat sebuah kisah teman dari kakakku. Mereka memperkerjakan seorang pengasuh untuk menjaga anaknya di rumah yang masih balita. Diperhatikan, si anak itu dari hari ke hari fisiknya berubah, kulitnya menghitam, badannya kurus dan lebih pendiam. Semuanya terjawab, ketika salah satu teman mereka melihat anak  itu sedang mengemis di dekat sebuah lampu lalu lintas. Ternyata anak itu disewakan untuk menjadi pengemis kepada preman-preman di sana.

Tragis memang. Bukankan itu akan merusak pola pemikiran mereka ke depan. Yang mereka tahu, demi mendapatkan uang, mereka harus membuat penampilan mereka selusuh mungkin, sehingga orang-orang iba melihat mereka dan akhirnya tergugah untuk memberi uang.

Sesampainya aku dan Zikri di Kota Tua, kami langsung menuju ke suatu kerumunan. Terdengar olehku suara-suara lecutan cambuk di Lapangan Fatahillah. Ternyata ada atraksi Kuda Lumping. Lagi-lagi kulihat anak-anak di antara pemain atraksi Kuda Lumping. Seorang anak dibungkus menyerupai pocong, diikat dan dimasukkan ke dalam sebuah tenda kain berwarna hitam. Sambil menunggu kejutan dari dalam tenda, pemain lain melakukan atraksi menyembur-nyemburkan api lalu memakannya. Tak lama, tenda kain hitam tadi terbuka, terdapat si anak tadi yang dibungkus dan diikat telah terlepas bebas. Sesekali ada kru dari Kuda Lumping tersebut berjalan membawa sebuah baskom untuk meminta sumbangan dari para penonton.

Atraksi dilanjutkan dengan percakapan konyol antara pawang Kuda Lumping dan seorang anak lain yang lebih kecil (berumur sekitar 4-5tahun). Dari percakapan mereka aku ketahui anak itu bernama Bogel. Dalam percakapan itu, sesekali Bogel terlihat dicambuk. Anehnya, setiap Si Pawang mencambuk Si Bogel, penonton malah tertawa (terkecuali aku). Aku bertanya pada Zikri, yang ikut tertawa juga “Apa lucunya, Zik?” Zikri hanya melanjutkan tawanya.

Para pemain saling menyemburkan api dari mulut mereka lalu memakannya. Tiba-tiba ada dua orang lelaki pingsan, yang satu masih anak-anak dan yang satu lagi sudah dewasa. Si pawang langsung mendekati dan berkomat-kamit melafalkan sesuatu. Kedua lelaki tadi terbangun dan kesurupan, seklaigus menjadi inti atraksinya. Mereka diberi kuda-kudaan. Ya, ini adalah atraksi Kuda Lumpingnya. Mereka menari-menari di lapangan dan memakan pecahan lampu. Dengan didampingi salah satu kru wanita yang tidak kesurupan, mereka meminta uang kepada penonton.

Pandanganku teralihkan kepada seorang anak berusia sekitar 3 tahun. Dia mendekati sekelompok remaja yang sedang asyik melihat atraksi Kuda Lumping. Dia memelototi para remaja itu, sebagian remaja merasa takut (mungkin mereka mengira, anak ini salah satu yang kesurupan juga).  Dia terus mendekati dan memelototi remaja-remaja itu. Ketika salah satu remaja tersebut memberi uang seribu, si anak tadi menerimanya dan langsung pergi. Tak lama, aku lihat anak itu, sedang menaiki odong-odong.

“Oh ternyata tadi melotot minta uang itu buat naik odong-odong,” kata Zikri kepadaku sambil tertawa.

Di Kota Tua, aku melihat juga para The Jakmania (pendukung klub sepak bola PERSIJA). Hampir 90% dari mereka adalah anak-anak. Mereka berjoged dan bernyanyi bersama di tengah jalan, sehingga cukup menghambat lalu lintas.

Malam pun tiba, aku menikmati malam hari di Kota Tua dengan ditemani tiga pengamen yang menyanyikan lagu Kota II dari Iwan Fals yang berlirik:

Kota yang kutinggali

Kini tak ramah lagi

Orang-orang yang lewat

Beri senyumpun enggan

……

Kota yang kudambakan

Tawarkan kekerasan

Nyeri merobek hati

Tak dapat kuhindari

Hari ke hari

Waktu ke waktu

Semakin muak dengar celotehmu

Durjana

…..

Hari ke hari

Waktu ke waktu

Aku menggapai

Menjerit lunglai

Otakku yang kini bisik

Akan sirik menggila

Bisakah aku tinggalkan?

Entah

Kota Tua, Kotanya Anak Muda

“Kalau waang nio pai jalan-jalan, ancak pai ka Kota Tua lai, tampeknyo mantap, untuk foto-foto!” (Kalau kau ingin pergi jalan-jalan, lebih baik pergi ke Kota Tua, tempatnya bagus, untuk foto-foto!) Itulah kalimat yang diucapkan oleh seorang teman serantauan, Ananto Budiarto, saat saya masih menjalani semester pertama di salah satu Universitas Negeri di Depok. Dia sudah pernah ke tempat yang dimaksud beberapa kali untuk mengisi waktu di akhir pekan. Dan hal itu terbukti dari foto-foto yang dimuatnya dalam akun situs jejaring sosial, facebook, yang dia miliki.

Dalam bayangan saya, yang sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki di pusat kota, Kota Tua itu adalah suatu daerah yang bangunan-bangunannya merupakan bangunan bersejarah, orang-orang berlalu-lalang sambil berfoto-foto dan menikmati jajanan yang juga merupakan jajanan tempo dulu. Saat itu saya meyakini bahwa daerah Kota Tua yang dimaksud adalah sebuah kawasan yang ramah lingkungan, di mana tidak ada kendaraan bermotor yang boleh masuk ke wilayah itu. Keyakinan saya itu juga disebabkan oleh cerita yang saya dengar dari teman saya tersebut.

“Tampeknyo langang, ndak padek do. Apo lai kalau sore hari, mantap lah, pokoknyo!” ujar teman saya waktu itu. (“Tempatnya lengang, tidak padat. Apalagi kalau sore hari, bagus deh, pokoknya!”) begitu tuturnya.

Saya pun berpikir kalau suatu hari saya memiliki waktu luang, saya akan mendatangi Kota Tua tersebut. Saya ingin membuktikan apakah cerita teman saya itu benar adanya.

Suatu hari, atas ajakan dari salah seorang teman saya yang bernama Dian (Ageunk), saya pergi ke Kota Tua. Ageunk berasal dari Sukabumi, ia juga belum pernah menginjakkan kaki di Kota Tua. Saya berharap cerita Ananto itu bukan sekadar bualan. Karena mungkin saja dia melebih-lebihkan cerita agar orang tertarik untuk mendengar ceritanya. Selain itu, saya juga ingin mengambil beberapa foto yang bisa saya pamerkan kepada teman-teman saya di Riau melalui facebook.

Kami berangkat menggunakan kereta ekonomi dari Stasiun UI menuju Stasiun Jakarta Kota. Tibalah kami di Kota Tua.

Nama Kota Tua sendiri menjadi pertanyaan dalam kepala saya. Saya ingat ketika Bibi saya mengatakan bahwa dulu daerah Kota Tua bukanlah nama resmi dari tempat ini, melainkan masyarakatlah yang menyebutnya demikian karena suasana daerah tersebut memang bernuansa kota tempo dulu. Setelah saya mencari berbagai informasi di media online, ternyata Kota Tua baru diresmikan oleh Pemerintah Kota Jakarta Barat pada bulan Juni 2009 lalu, setelah sebelumnya direvitalisasi oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada bulan September 2007.

Ketika saya menginjakkan kaki di Kota Tua, hal yang saya temukan adalah suasana yang berbeda dengan bayangan saya. Memang benar bahwa kota tua memiliki banyak bangunan tua dan suasana yang akrab dengan suasana tempo dulu (saya mengatakan hal demikian karena pernah melihat foto-foto Kota Jakarta tempo dulu di sebuah forum online Kaskus). Saya juga banyak melihat orang-orang mengendarai sepeda ontel, yang menjadi atribut suasana masyarakat jaman perjuangan, juga melihat berbagai jajanan tradisional. Akan tetapi atribut-atribut tempo dulu itu diselingi oleh berbagai atribut-atribut modern, seperti tenda-tenda warung yang memiliki sponsor produk Coca-cola yang berjejer di sepanjang Jalan Bank sehingga menutupi gedung-gedung tua yang seharusnya, menurut pendapat saya, menjadi objek penarik masyarakat untuk datang ke daerah itu; pedagang pernak-pernik yang menjual barang-barang fashion jaman sekarang; dan berbagai aktivitas muda-mudi yang melakukan kegiatan anak-anak jaman sekarang pula, seperti bermain skateboarddan kegiatan fotografi. Selain itu, keyakinan saya tentang Kota Tua yang ramah lingkungan itu dirusak oleh padatnya sepeda motor yang parkir tak beraturan serta banyaknya sampah, seperti bungkus plastik, kertas bungkus nasi georeng atau sate dan botol-botol kemasan yang berserakan di sepanjang jalan. Itulah suasana Kota Tua yang saya temui saat pertama kali mengunjungi tempat itu, jauh berbeda dari bayangan saya.

Yang menarik perhatian saya terhadap bangunan-bangunan tua itu antara lain adalah Museum Bank Mandiri dan Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Fatahillah, Gedung Post Indonesia, dan Gedung Gouverneur Kantoor. Yang ada dalam pikiran saya, sebagai orang yang baru pertama kali datang ke Kota Tua, Museum Bank Mandiri dan Bank Indonesia adalah bank jaman dulu yang kini diubah menjadi bank modern jaman sekarang. Museum Wayang adalah museum yang menyimpan barang-barang antik, contohnya wayang, yang merupakan warisan budaya asli Indonesia. Museum Fatahillah, karena namanya berasal dari nama salah seorang tokoh pejuang kemerdekaan di negeri ini, saya membayangkan bahwa musum itu adalah museum yang menyimpan barang-barang atau alat-alat perjuangan seperti bambu atau meriam dan senapan para tentara Belanda. Sementara Gedung Post Indonesia adalah kantor post jaman dulu yang tidak digunakan lagi dan sekarang dijadikan objek wisata di Kota Tua. Gedung Gouverneur Kantoor saya bayangkan mungkin itu adalah kantor gubernurnya orang Belanda waktu masa perjuangan dulu, yang sekarang tidak digunakan lagi dan juga dijadikan objek wisata. Di teras Gedung Gouverneur Kantoor ini lah saya melihat para anak muda bermain skateboard dan para fotografer amatiran (barangkali ada juga yang profesional) mengambil gambar-gambar mereka serta gambar-gambar suasana Kota Tua. Sekali lagi saya katakan, mengenai penjabaran saya tentang gedung-gedung tersebut, itu hanyalah bayangan saya yang belum tahu apa-apa tentang Kota Tua. Suatu bayangan yang konyol, memang.

Di antara Gedung Pos Indonesia dan Gedung Gouverneur Kantoor ada sebuah lapangan yang cukup luas, dan dari mulut seorang penjaga sepeda ontel di lapangan itu, saya ketahui bahwa lapangan itu bernama Lapangan Fatahillah, mungkin karena di dekat sana juga ada Museum Fatahillah. Lapangan ini adalah daerah yang paling ramai, mulai dari para pengunjung, pedagang, pengamen dan pengemis, orang-orang yang menjaga sepeda ontel di pinggir lapangan, dan juga para pemain atraksi Kuda Lumping yang paling menarik minat pengunjung untuk menontonnya, memenuhi lapangan tersebut. Di lapangan itu juga banyak muda-mudi, ada juga bapak-ibu, yang asyik mengendarai Sepeda Ontel. Sepeda itu disewakan oleh beberapa orang di pinggir lapangan, ntuk berkeliling Kota Tua.

Berbicara mengenai Sepeda Ontel, saya teringat sebuah artikel di internet yang saya baca tentang sejarah Sepeda Ontel beberapa hari yang lalu. Sepeda ini namanya adalah Sepeda Lawas, tetapi kebanyakan masyarakat menyebutnya sepeda ontel (diontel atau dikayuh) atau sepeda jengki (berasal dari kata Jingke, Bahasa Betawi, artinya berjinjit). Disebut demikian karena sepeda itu harus dinaiki dengan cara berjinjit. Sepeda lawas pertama kali diciptakan di Inggris sekitar tahun 1790 dan diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes. Dua sepeda ini belum memiliki mekanisme seperti sepeda jaman sekarang, hanya berupa dua rangka roda dari kayu. Kemudian oleh Karl Von Drais, seorang mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman, dilakukan modifikasi dengan memberikan sistem kemudi pada roda depan. Sepeda yang telah dimodifikasi ini diberi nama Draisienne, dan kepopuleran sepeda tersebut dimuat di sebuah surat kabar lokal Jerman pada tahun 1817. Pada perkembangan selanjutnya, sepeda ini terus dimodifikasi oleh para ahli, seperti Kirkpatrick Macmillan (1839) yang menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne. Kemudian James Starley (1870) dan keponakannya John Kemp Starley melakukan modifikasi lain dengan menambahkan rantai pada sepeda untuk menggerakkan roda belakang dan ukuran kedua rodanya sama sehingga sepeda lebih nyaman dan aman untuk dinaiki siapa saja pada tahun 1886. Penemuan penting juga dilakukan oleh John Boyd Dunlop pada tahun 1888, yaitu teknologi ban sepeda yang bisa diisi dengan angin (pneumatic tire). Setelah itu, perkembangan sepeda bergerak dengan sangat pesat dan berbagai bentuk sepeda mulai diciptakan.

Di Indonesia sendiri, kepopuleran sepeda di bawa oleh orang-orang Belanda. Sejak kedatangan sepeda dari Belanda, sepeda menjadi kendaraan elit pada masa itu. Orang-orang, terutama orang yang bukan pribumi, sengaja bersepeda untuk menikmati keindahan alam di Indonesia. Lambat laun, karena kemajuan teknologi, kepopuleran sepeda menjadi hilang sejak ditemukannya kendaraan bermotor. Akan tetapi bukan berarti keberadaan dan penggunaan sepeda hilang sama sekali. Bahkan pada saat ini, bersepeda menjadi salah satu pilihan gaya hidup masyarakat.

Kata bibi saya, ojek sepeda ontel itu sudah ada sejak dulu ketika dia masih menjadi seorang mahasiswi. Para tukang ojek memberikan jasa sepeda layaknya para tukang ojek sepeda motor sekarang. Akan tetapi, keberadaan ojek sepeda di Kota Tua, yang secara resmi, baru ada sekitar dua tahun yang lalu. Informasi itu saya dapatkan dari salah seorang tukang ojek sepeda yang saya tanyai.

Saya dan Ageunk sempat berniat untuk menyewa salah satu sepeda supaya bisa berkeliling Kota Tua dengan tidak jalan kaki. Namun niat itu diurungkan ketika kami mengetahui harga sewanya adalah Rp 20.000,- per jam untuk berkeliling di Lapangan Fatahillah dan Rp 30.000,- untuk berkeliling ke lima wilayah wisata Kota Tua dengan seorang pemandu. Mengingat kami hanya membawa uang pas-pasan, kami tidak jadi menyewa sepeda.

Saya dan Ageunk kemudian hanya menonton atraksi Kuda Lumping hingga malam tiba dan setelahnya kami kembali pulang ke Lenteng Agung.

Kota Tua adalah kotanya anak muda. Menurut saya, itu kalimat yang cocok untuk kawasan wisata malam tersebut. Saya ingat cerita paman saya yang mengatakan bahwa sejak dulu Kota Tua memang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda.

“Dulu, pulang dari kampus, kami sering berkumpul di sana sambil makan-makan atau sekadar ngobrol ringan sampai malam tiba. Anak-anak muda banyak yang ke sana, rata-rata mahasiswa dan pelajar SMA dan SMP,” kata paman saya.

Tentunya, suasana dulu dan sekarang pasti berbeda. Meskipun saya orang yang baru pertama kali datang ke sana, saya bisa membayangkan hal itu. Apabila dahulu orang-orang datang dan meramaikan Kota Tua dengan berkumpul dan bercanda tawa, hal yang serupa juga dilakukan oleh orang-orang jaman sekarang. Akan tetapi dengan suasana yang berbeda, yaitu Kota Tua sebagai kawasan wisata malam yang resmi serta diselingi dengan berbagai atribut-atribut modern. Karena Kota Tua adalah kawasan wisata malam, adalah suatu hal yang wajar ketika saya terpana melihat kenyataan bahwa semakin hari larut, suasana Kota Tua semakin ramai oleh anak-anak muda.

“Memang kotanya anak muda  nih Kota Tua!” kata saya kepada diri sendiri.

Ageung, Zikri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s