Maaf Tahun Ini

Artikel ini pernah dimuat dalam akumassa.org ( http://akumassa.org/kontribusi/sukabumi-jawa-barat/maaf-tahun-ini/ )

Setelah berpuasa sebulan lamanya, akhirnya pada tanggal 1 Syawal para umat Islam merayakan Hari Kemenangan, yaitu Idul Fitri. Untuk setiap tahunnya penetapan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan menjadi perdebatan. Di Indonesia sendiri, perdebatan ini tidak lepas dari dua organisasi masyarakat (ormas) besar di Indonesia,  Muhammadiyah dan Nadlatul Ulama (NU). Muhammadiyah berpatokan dengan Hisab, sedangkan NU dengan Rukyat. Sama seperti pada tahun ini. Dalam kalender Masehi, menyatakan bahwa pada tanggal 30–31 Agustus 2011 merupakan Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Kita mulai berpuasa pada tanggal 1 Agustus 2011. Ya, kalau dihitung-hitung memang jika Hari Raya jatuh pada tanggal 30 Agustus, maka kita hanya berpuasa selama 29 hari.

Ketika aku mencari di internet tentang penetapan Hari Raya Idul Fitri, banyak artikel yang memuat kebingungan masyarakat kapan akan berlebaran di tahun ini. Akhirnya aku meng-klik satu artikel tentang Idul Fitri di Wikipedia. Dalam kalender Islam, penetapan Hari Raya Idul Fitri selalu sama setiap tahunnya, yaitu 1 Syawal. Namun dalam kalender Masehi pasti berbeda setiap tahunnya, karena dalam kalender Islam penetapan hari ialah berdasarkan fase bulan, sedangkan kalender Masehi berdasarkan fase bumi mengelilingi matahari. Perbedaan inilah yang menyebabkan penetapan Idul Fitri selalu berubah di dalam kalender Masehi, yaitu terjadi perubahan 11 hari lebih awal setiap tahunnya. Pada tahun lalu kita merayakan Idul Fitri pada tanggal 10 September 2011. Maka, 11 hari sebelum 10 September adalah 30 Agustus.

Tahun ini, pada 29 Agustus 2011, pemerintah mengadakan sidang Isbath untuk penetapan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah pada pukul 19.00 WIB. Pada hari ketika sidang Isbath sedang berlangsung orang-orang di kampungku, Parungkuda, RT 04/04, Sukabumi masih melaksanakan shalat tarawih. Namun di kampung sebelah sudah mengumandangkan takbir “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illa Allah, Allahu akbar, Allahu akbar, wa li-illahi al-hamd”. Aku dan keluarga sempat bingung. Keputusan kapan hari raya belum pasti, sedangkan di rumah sudah memasak untuk hari lebaran esok.

Dengan berbekal keputusan pemerintah yang menetapkan Hari Raya Idul Fitri pada tanggal 31 Agustus 2011, maka ibuku pun membungkus semua makanan yang telah selesai dimasak untuk disimpan di lemari pendingin untuk hari lusa. Dan takbir di kampung sebelah tiba-tiba berganti dengan suara“Amiiiinnn”. Ya, ketika mendengar keputusan pemerintah yang menetapkan Hari Raya pada tanggal 31 Agustus, maka orang-orang kampung sebelah memutuskan untuk menghentikan takbiran kemudian menggantinya dengan shalat tarawih.

Banyak yang menyalahkan pemerintah atas perbedaan jatuhnya tanggal Hari Raya. “Kenapa pemerintah tidak mengadakan sidang Isbath pada sore hari?” Karena jika sidang Isbath diadakan pada sore hari, mungkin tidak akan ada perbedaan di kampungku.

Pagi hari tanggal 30 Agustus 2011, terdengar suara mikrofon dari kejauhan mengatakan “Bagi yang mau melakukan shalat Id hari ini, bisa di masjid…….”. Ternyata ada juga yang merayakan Idul Fitri pada hari itu di RT sebelah. Ibuku pun sibuk memasak lagi, karena sebagian makanan sudah berkurang untuk makan kemarin. Beberapa saudaraku malahan memotong ayam lagi untuk hari esok.

Malam hari pada tanggal 30 Agustus ramai oleh suara takbir di mana-mana. Kembang api menghiasi langit dengan warna-warni yang beragam. Akhirnya esok kita akan merayakan Idul Fitri.

Tidak ada yang berbeda di Hari Raya tahun ini. Rutinitasnya masih sama seperti tahun-tahun lalu. Shalat Id, nyekar, berkumpul bersama keluarga besar. Sebenarnya ada sih yang sedikit berbeda. Tahun ini aku tidak dapat THR (Tunjangan Hari Raya) dari para uwak, karena alasan aku sudah bekerja. Kini aku yang harus memberikan THR kepada para ponakan.

Di hari Sabtu-nya, keadaan jalan raya menjadi sangat padat. Terutama di sepanjang jalan Sukabumi menuju Bogor. Kalau biasanya Sukabumi-Bogor bisa ditempuh dalam waktu 3 jam, hari itu menjadi 11 jam. Keadaan ini dikarenakan adanya arus balik para pemudik dan orang-orang yang akan berwisata ke Pelabuhan Ratu. Dari pertigaan Karang Tengah sampai Ciawi macet total hari itu. Jalur alternatif pun tidak mampu menampung kendaraan-kendaraan. Motor yang biasanya bisa memanfaatkan celah-celah kecil di antara mobil-mobil, malam itu ikut lumpuh juga.

Malam itu, ibuku akan bersilaturahmi ke rumah temannya yang berjarak tidak jauh. Biasanya bisa ditempuh dengan menggunakan angkutan umum sekitar 10 menit. Malam itu ibu yang menggunakan motor menempuhnya dengan waktu 2 jam. Menurut orang-orang sekitar, ini adalah kemacetan terparah yang terjadi di kampungku, Parungkuda. Banyak mobil-mobil bak terbuka yang penuh dengan orang-orang yang akan pulang dan berangkat ke Pelabuhan Ratu. Dari arah Jakarta memang harus melewati Jalan Raya Parungkuda untuk menuju ke Pelabuhan Ratu. Banyak orang yang memutuskan untuk menggelar tikar untuk istirahat terlebih dahulu, karena pegal berada di mobil seharian. Malahan, ada gosip yang beredar di kalangan teman-temanku,  bahwa ada orang yang tergilas kakinya oleh mobil yang melintas saat sedang berisitirahat di pinggir jalan. Ada juga orang yang meninggal karena kehabisan nafas di mobil ketika macet hari itu.

Kemacetan ini tidak hanya berdampak kepada pengendara mobil, namun bagi pedagang-pedagang di pasar juga. Temanku yang bekerja di pasar sebagai penjual buah merasakan imbasnya. Pada Hari Raya biasanya dia mendapatkan hasil sekitar 6 juta Rupiah. Namun hari itu dia hanya mendapatkan sekitar 1 juta Rupiah. Karena jalan lumpuh oleh macet, orang-orang menjadi malas ke pasar untuk berbelanja. Banyak lapak-lapak di pasar yang tutup di siang hari karena tidak ada pembeli.

Beda lagi bagi para pedagang asongan. Mereka bisa mendapat keuntungan lebih. Sampai-sampai, air mineral di toko-toko dalam pasar habis oleh para pedagang asongan. Dan bagi warung-warung sayuran dekat rumahku menjadi untung. Karena banyaknya orang-orang yang malas ke pasar akhirnya memutuskan untuk belanja di warung-warung itu, sehingga warung-warung itu kehabisan barang yang akan dijual.

Terminal Cibadak pun tampak sepi. Angkutan-angkutan umum memutuskan untuk libur karena macet. Ketika aku sedang asyik mengambil gambar dengan kamera video yang aku bawa, tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berteriak, “Ciawi-ciawi, Rp. 25.000 aja!”. Setelah beberapa menit aku memperhatikan laki-laki itu, akhirnya aku mengerti. Laki-laki itu adalah calo yang menawarkan angkutan umum ke Ciawi. Tidak seperti angkutan umum biasanya, angkutan ini lebih mewah. Sebuah mobil kijang dengan plat nomor hitam yang ditambangkan menjadi angkutan umum dadakan. Tentunya dengan ongkos yang lebih mahal. Tarif normal dari Cibadak ke Ciawi yang biasanya Rp. 10.000, naik  menjadi Rp. 25.000.

Kami ingin menjadi warga negara yang baik. Maka kami mengikuti apa yang ditetapkan pemerintah. Maka… yah… tidak masalah bagi ibuku untuk menghangatkan masakannya kembali dan berbelanja ekstra lagi untuk ketertundaan ini. Itu tandanya kami ikut ambil peran mendukung pemerintah dengan memutar roda pembangunan walau hanya di putaran poros ekonomi kecil. Kami ikuti kenaikan harga, kenaikan tarif blablabla… dan kami menerima kemacetan sistim yang menyebabkan kemacetan parah di jalanan lintas kota depan rumah kami, sebagai hal biasa yang terjadi di hari-hari yang kami rayakan dengan kerohanian yang kami mengerti, memaafkan.

Ageung

Satu pemikiran pada “Maaf Tahun Ini

  1. gan kalaw ke parungkuda sukabumi biasa nyah naik angkutan umum apa gan??v ana dari sukabumi gan?? mohon info ana dari ciamis gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s