Obrolan Cucian

Photo-0006

“Itu cucian kenapa difoto-foto, Geung?”

“Dokumentasi cucian terbanyak. Terus sebagai bukti sudah pindahan… Hahahaha!”

Photo-0008

“Kok, banyak banget baju yang dicuci?”

“Itu baju-baju dari kosan yang ditinggal selama setahun lebih. Kemungkinan bajunya, sih bersih-bersih aja, tapi ya karena udah ditinggal selama setahun, takut kotor.”

“Lah, kenapa, tuh kosan ditinggalin lama banget?”

“Jadi, begini ceritanya… Waktu itu, aku pulang kampung ke Sukabumi selama sebulan. Setelah kembali ke Lenteng Agung, dan telat bayar kosan, jadi sama Bapak kosnya diberesin, dipak ke dalam kardus-kardus semua barang-barangnya. Waktu itu, aku bawa uang sebesar Rp. 500.000,- untuk bayar kosan. Harga sewanya sebesar Rp. 400.000,- Waktu aku mau bayar uang kos, Bapak kosnya biilang kalau aku nunggak 2 bulan. Aku ingat betul, waktu itu aku datang tanggal 15, belum waktunya bayar kos untuk bulan selanjutnya. Tapi Si Bapak tetep keukeuh harus bayar 2 bulan. Aku bersikeras gak mau bayar. Jadinya, barang-barang aku ditahan. Hahaha! Selama beberapa waktu aku tinggal di markas komunitas. Nah, karena aku memutuskan untuk kembali ke Sukabumi, mau tidak mau aku harus membayar  uang sebesar Rp. 800.000 itu. Kesel!“

Photo-0015

“Hahaha! Parah banget. Bapak kosan aku selow-selow aja. Aku pernah nunggak dua bulan dan gak balik-balik ke kosan, eh kosan aku malah diurus. Sekarang malah dapet kamar baru dan bersih. Hahaha!”

“Boleh dong, lain kali kalau aku merantau lagi ke Jakarta, ngekos di situ.”

“Gak boleh, itu kosan cowok! Hahaha! Kalau mau, kosan di depannya, tempat adek aku… kosan cewek… tapi mahal! Hahaha!”

Photo-0011

“Kosan kamu emang berapa harga sewanya?”

“Rp.450.000,- bebas listrik. Dan itu bisa dibilang kosan termurah di sekitaran Kukusan Teknik. Hehe!”

“Ah, mahal juga ternyata! Kosan aku yang dulu itu juga bebas listrik dengan harga Rp. 400.000,-”

“Ya, biasa… Kukusan Teknik, kan kampung mahasiswa, jadi para pemilik kos naro harga sedikit lebih tinggi. Hahaha!”

“Ya… bisa dibilang kosan aku juga dalam lingkungan kampus. Di seberangnya kampus IISIP, dan kebanyakan yang kos di situ mahasiswa IISIP.”

“Haha, ya… gitu deh… gara-gara UI-nya kali…”

“Emang kenapa UI-nya?”

“Hampir rata-rata sekarang ini, mahasiswa UI itu kalangan menengah ke atas, dan yang kos di kawasan Kukusan Teknik adalah mahasiswa rantauan. Tapi… gak tau deh… pokoknya setahu aku, harga kisaran rata-rata kosan di sana Rp. 500.000,- sampe Rp. 800.000,- sebulannya.”

Photo-0014 Photo-0013 Photo-0018

“Eh, tapi itu kok baju bisa banyak banget? Nyolong dari mana? Hahaha!”

“Baju aku semua. Ya, ada yang bawa dari Sukabumi, ada juga yang dikasih sama orang-orang. Maklum, perantau yang gak bawa apa-apa, hehehe! Jadi, pertama kali aku pindah ke Lenteng Agung, aku cuma bawa baju satu tas besar, karpet, kasur, ricecooker, bantal dan guling. Setiap aku pulang ke Sukabumi, aku nyicil membawa baju ke Lenteng Agung. Aku aja kaget, pas kemarin pindah ke Sukabumi lagi. Gila, banyak banget!”

Photo-0016

“Ya, begitu… sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit! #asyek! Hahaha! Hm… itu udah kelar nyuci semua bajunya?”

“Dalam kurun waktu tiga hari, akhirnya semuanya kelar. Bayangin, pulang ke Sukabumi, tas yang tadinya cuma ada satu, beranak pinak jadi tas kecil-kecil dan kardus-kardus. Dalam satu hari, aku nyuci sebanyak 3 ember besar. Ya, kalau dihitung-hitung, ada sekitar 9 ampe 10 ember semuanya. Hahahaha…!”

Photo-0023

“Anjrit, banyak banget! Hahaha! Eh, kamu nyucinya pake sabun apaan?”

“Sabun cuci biasa. Sekali nyuci, aku bisa pakai 2 bungkus deterjen harga Rp. 1000,-. Belum baju-baju yang putih, aku pisahin rendamannya karena pakai pemutih. Kemarin itu, kalau gak salah aku pakai 3 bungkus pemutih seharga RP. 500,- perbungkusnya. Belum lagi, aku juga pakai pelembut pakaian sebanyak 9 bungkus seharga Rp. 500,- perbungkusnya. Jadi ternyata, bukan cuma ngabisin tenaga, tapi ngabisin isi kantong juga. Hahaha! Ya, untuk mencuci aja aku ngabisin uang sebesar Rp. 12.000,-. Ya, gak seberapa, sih. Tapi lumayan lagi, bisa beli rokok sebungkus. Hahaha!”

Photo-0020 Photo-0019

“Hahaha! Terus kamu waktu nyuci, udah kayak ibu-ibu di iklan sabun cuci, dong?! Waktu jemur pakaian, bersinar-sinar gitu… Hahaha!”

“Sialan, kamu!”

Parungkuda, 15 Desember 2012

Ageung dan Zikri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s