Judul-judulan Dalam Rumah-rumahan

Neng ayo neng, ayo maen pacar-pacaran

Neng ayo neng, ayo maen pacar-pacaran

Daripada pacar beneran

Pikiran pusing tidak karuan

Kumpul kebo, ya cuma kebo-keboan

Mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Pengantar Minum Racun (PMR) yang berjudul Judul-judulan, mengingatkan aku pada satu permainan saat masa kecil. Mungkin hampir semua anak perempuan di dunia ini sering memainkannya. ‘Rumah-rumahan’ adalah nama permainan itu. Impian memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia, aku wujudkan dalam permainan rumah-rumahan ini.

Neng ayo neng, ayo maen kawin-kawinan

Neng ayo neng, ayo maen kawin-kawinan

Daripada kawin beneran

Pikiran pusing tidak karuan

Naik ranjang, ya cuma ranjang-ranjangan

Habis sudah pacar-pacaran

Habis sudah kawin-kawinan

Punya anak, namanya… Anak-anakan

Mengapa ketika mendengarkan lagu ini, ingatanku tertuju pada permainan ‘rumah-rumahan’? Ya, karena kami (aku dan teman-teman) selalu menyanyikan lagu ini ketika bermain. Setelah sekitar sepuluh tahun lebih tidak memainkan permainan itu, timbul pertanyaan dalam benakku: mengapa lagu ini yang kami nyanyikan? Mungkin temanya serupa dengan permainan kami. Lihat saja liriknya, yang secara tidak langsung menceritakan tentang sandiwara atau peran yang erat kaitannya dengan situasi ruang di bawah atap, alias rumah. Memang, waktu itu aku tidak menyadari hal ini, tetapi ketika diingat-ingat lagi, lucu juga! Hehe

Ini lagu lagu-laguan

Judulnyapun judul-judulan

Maaf ya neng…

Inikan cuma mainan

Permainan itu sering aku dan teman-teman mainkan ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Aku bersama teman-teman sepermainan memiliki peran masing-masing. Ada yang mendapat peran sebagai ibu, bapak, tante, anak, berbagai peran kami mainkan bergiliran. Adegannya bermacam-macam, kami beradegan menikah, memasak, mengurus anak, bertamasya dan masih banyak lagi. Tak jarang kami memakai peralatan yang ada di lemari ibuku untuk melengkapi dandanan kami.

Lebih lucunya lagi, kami menyanyikan lagu Judul-judulan sambil menari bak artis Bollywood di filem-filem India. Maklum, aku dan sekeluarga adalah penikmat filem Bollywood. Seperti ketika adegan melamar, kami menyenandungkan lirik ‘neng ayo neng, ayo maen kawin-kawinan’. Pemeran sebagai pelamar akan menari-nari mengelilingi sang pujaan hati dengan membawa setangkai bunga plastik di tangannya, persis seperti filem Bollywood. Bagiku, ini suatu akulturasi budaya oleh anak-anak yang terpengaruh oleh medium audio-visual. Tanpa sadar, karena kebiasaan menonton filem India, kami melakukan adaptasi antara musik populer di dalam negeri dengan produk populer dari luar negeri, yakni filem India. Ternyata, permainan anak-anak bisa memberikan refleksi sejauh ini, ya? Hehehe!

Neng ayo neng, ayo maen cium-ciuman

Neng ayo neng, ayo maen cium-ciuman

Daripada cium beneran

Pikiran pusing tidak karuan

Belom dicium, kok eneng nyosor duluan

Sedikit data informasi tentang Pengantar Minum Racun (PMR), mereka adalah sebuah kelompok musik dangdut yang terkenal pada tahun 80’an.  Berdiri pada tahun 1979, PMR terdiri dari Jhonny Iskandar (vokalis), Boedi Padukone (gitar), Yuri Mahippal (mandolin dan cuk), Imma Maranaan (bass), Ajie Cetti Bahadur Syah (perkusi), Harri “Muke Kapur” (mini drum). Lagu yang mereka bawakan banyak yang berasal dari lagu yang sudah terkenal dengan lirik yang diubah sedemikian rupa menjadi lirik yang konyol dan lucu.

Torerojing, torejing, torejing

Habis sudah pacar-pacaran

Habis sudah kawin-kawinan

Punya anak, namanya… Anak-anakan

Ini lagu lagu-laguan

Judulnyapun judul-judulan

Maaf ya neng,…

Inikan boong-boongan

Pada saat Harmoko menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia, yaitu sekitar tahun 1980’an, banyak lagu-lagu yang dicekal karena dianggap tidak dapat membangun mental bangsa. Salah satunya Judul-judulan, karena dianggap memiliki lirik yang vulgar. Oh iya, pada saat itu juga lagu Hati Yang terluka dari Betharia Sonata pun dicekal karena liriknya yang cengeng.

Neng ayok neng ayok maen peluk-pelukan

Neng ayok neng ayok maen peluk-pelukan

Daripada peluk beneran

Pikiran pusing tidak karuan

Belom dipeluk, kok eneng meluk duluan

Belom dipeluk, kok eneng meluk duluan

Belom dipeluk, kok eneng meluk duluan 

Lalu, hikmah apa yang aku dapatkan dari ingatan masa kecil itu? Tidak lain adalah sebuah kegetiran yang sedikit melankolis yang tak aku sadari pada kegembiraan ketika memainkan adegan ‘rumah-rumahan’. Lagu Judul-judulan dicekal pada masa Orde Baru karena liriknya yang vulgar sehingga dianggap tidak dapat membangun mental bangsa. Jelas, kebebasan berekspresi pada masa itu dibatasi. Namun, kini sejak jatuhnya Orba, keran kebebasan berekspresi terbuka kembali. Dengan cepat, segala produk budaya menjadi populer. Seperti lagu Judul-judulan kembali kami dengar di tahun 1999-an dan menjadi soundtrack favorit kami untuk permainan rumah-rumahan.

Namun begitu, hilangnya sistem kontrol ternyata juga tak sepenuhnya positif. Era kebebasan juga memberi efek negatif, di mana salah satu contohnya ialah dengan gampangnya lagu bertema orang dewasa menjadi domain telinga anak-anak. Bahkan, fenomena itu masih berlangsung hingga sekarang, di mana lagu cinta-cintaan sudah menggantikan lagu bertema anak-anak.

Parungkuda, 14 Januari 2013

Ageung

3 pemikiran pada “Judul-judulan Dalam Rumah-rumahan

  1. Saya pernah dapat celetukan dari kenalan, “Gak usah kesal sama DPR, kita juga dulu punya Menteri Penerangan yang ngeselin.” Hehehe
    Jadi kepikiran kalau lagu-lagu zaman sekarang yang digandrungi pasar nasibnya bagaimana kalau masih ada Departemen Penerangan😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s