Cerita Di Belakang Warung Bordir

Satu lagi cerita dari Pekanbaru. Kali ini Zikri bercerita tentang keberadaan warung bordir di depan rumahnya. Selamat membaca..!😀

DSC02761

Kalau menghubungkan kegiatan menjahit dengan ibu saya, itu sudah biasa. Sebab, dari saya kecil saya sudah sering melihat ibu menjahit baju, terutama baju untuk Hari Raya Idul Fitri buat kakak dan adik saya. Waktu itu, ibu masih menggunakan mesin jahit manual, yang harus dikayuh untuk menggerakkan jarum penjahitnya.

Ini contoh mesin jahit yang modelnya sama dengan mesin jahit yang dulu sering digunakan oleh ibu ketika menjahit baju kakak dan adik saya.
Ini contoh mesin jahit yang modelnya sama dengan mesin jahit yang dulu sering digunakan oleh ibu ketika menjahit baju kakak dan adik saya.

Saya tidak pernah berpikir bahwa ibu akan membuka usaha jahit-menjahit meskipun dia dulu pernah mengatakan suatu saat akan mencoba mencari peruntungan dengan membuka usaha jahit kalau sudah pensiun jadi PNS.

DSC02768

Nah, pada tanggal 15 Januari 2013, hari pertama liburan di Pekanbaru, ketika saya baru tiba di rumah, saya kaget melihat warung yang dulunya adalah Warnet (unit usaha dari Koperasi RW 03, Kelurahan Jadirejo) sekarang sudah berubah menjadi warung bordir, atau warung menjahit.

“Ini punya siapa?” Tanya saya kepada Ayah.

“Ini punya PNPM,” jawabnya. “Dikelola oleh ibu-ibu, warga RW 03.”

Ibu saya, termasuk salah satu anggota yang mengelola badan usaha di bawah PNPM itu.

Ibu sedang berbincang dengan paman saya yang datang berkunjung ke  warung bordir milik PNPM yang ada di depan rumah saya.
Ibu sedang berbincang dengan paman saya yang datang berkunjung ke warung bordir milik PNPM yang ada di depan rumah saya.

PNPM yang ayah saya maksud adalah sebuah program langsung dari pemerintah, di bawah Menko Kesra, dan merupakan singkatan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat. Kegiatan yang diikuti oleh warga di Keluharan Jadirejo, Kecamatan Sukajadi, tempat saya tinggal adalah PNPM Mandiri Perkotaan. PNPM Mandiri ini diakui sebagai program nasional dalam wujud kerangka kebijakan untuk menanggulangi kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat.

Om Riko (kiri) dan ayah saya (kanan) sedang berbincang di depan warung Desain Grafis dan Warung Bordir.
Om Riko (kiri) dan ayah saya (kanan) sedang berbincang di depan warung Desain Grafis dan Warung Bordir.

Berdasarkan keterangan dari Om Riko, salah seorang warga di RW 03, tetangga saya, yang aktif dalam kerangka kerja PNPM Kelurahan Jadirejo, PNPM itu merupakan wujud nyata dari Pemerintah yang bertujuan untuk menggabungkan semua program pemberdayaan masyarakat di Indonesia dalam satu wadah. Dengan kata lain, PNPM menjadi induk programnya.

“Dulu namanya P2KP, tahun 1999,” terang Om Riko kepada saya dua hari yang lalu, ketika berbincang-bincang sambil ngopi di warung usaha miliknya, yakni sebuah warung usaha desain grafis. Warung desain grafis itu sendiri juga terealisasi berkat program dari PNPM, dan letaknya tepat di sebelah warung bordir yang dikelola oleh ibu. “Kalau tidak salah, tahun 2000, namanya berubah jadi PNPM, diresmikan di Bali oleh Presiden langsung. Program ini masuk ke Pekanbaru tahun 2008, di 21 kelurahan, dan pada tahun 2009 terealisasi ke 30 kelurahan.”

Om Riko di ruang kerjanya.
Om Riko di ruang kerjanya.
Arena 66, warung usaha milik Om Riko dan PNPM.
Menara 66, warung usaha milik Om Riko dan PNPM.
Om Riko sedang mencetak desain untuk hiasan mug.
Om Riko sedang mencetak desain untuk hiasan mug.

Berdasarkan cerita ayah, yang dulu aktif di PNPM Kelurahan Jadirejo pada tahun 2010 hingga 2011, sebagai Koordinator LKM Maju Bersama, pengembangan usaha mandiri bagi warga masyarakat itu semuanya atas jasa program PNPM ini. Realisasi program dilaksanakan oleh Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM). Dalam pelaksanaannya, LKM membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Indah Bordir untuk menyelenggarakan pelatihan usaha kecil menengah (UKM).

“Di kelurahan kita sendiri, dilaksankan tiga cakupan kerja, yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi,” ujar ayah menerangkan.

“Cakupan kerja yang seperti apa, tuh?” saya bertanya.

“Untuk lingkungan, ada perbaikan lingkungan setempat, untuk cakupan sosial, ada pelatihan-pelatihan, dan untuk ekonomi, ada pinjaman bergulir,” kata ayah.

Setelah lebih jauh menanyakan hal itu, saya jadi tahu bahwa belum lama ini, di Kelurahan Jadirejo dilaksanakan aksi perbaikan lingkungan berupa perbaikan drainase, semenisasi dan perbaikan posyandu. Lalu, diadakan juga pelatihan-pelatihan bidang kreatif, seperti servis HP, tata boga, menjahit atau bordir, desain grafis, dan montir atau servis motor. Selain itu, juga dilakukan sebuah kegiatan pinjaman bergulir untuk kelompok masyarakat yang membutuhkan, yang berhasil tersalurkan kepada 18 kelompok (1 kelompok terdiri dari 5 orang) yang masuk dalam kategori masyarakat kurang mampu. Semua kegiatan itu berangkat dari program PNPM tersebut.

Salah satu penyelenggaraan semenisasi di sebuah lokasi di Kelurahan Jadirejo. Saya mendapatkan foto ini dari arsip milik ayah.
Salah satu penyelenggaraan semenisasi di sebuah lokasi di Kelurahan Jadirejo. Saya mendapatkan foto ini dari arsip milik ayah.

DSC02102

Nah, untuk keterangan lebih jauh tentang PNPM ini, teman-teman bisa melihatnya di website resmi PNPM, http://www.pnpm-mandiri.org/, atau website resmi P2KP, http://www.p2kp.org/.

Kembali ke persoalan jahit menjahit. Jadi, pada Bulan Maret 2011, PNPM di tempat tinggal saya di Pekanbaru itu mengadakan pelatihan selama tiga bulan untuk keterampilan membordir pakaian. Kegiatan pelatihan itu diikuti sebanyak 18 orang, termasuk ibu, yang akhirnya aktif memproduksi pakaian sehingga terbentuklah sebuah UKM bernama UKM Balqis pada Bulan Juli 2011. UKM itu didirikan oleh 10 orang dari 18 orang peserta pelatihan.

“Dari banyak pelatihan yang diselenggarakan, cuma dua yang jadi UKM, yakni UKM Balqis dan UKM Desain Grafis,” ujar ayah.

DSC02763DSC02771DSC02769 DSC02772 DSC02773 DSC02775

Sekarang, anggota UKM Balqis hanya tinggal 5 orang, yakni Desi, tetangga saya (menjabat sebagai ketua); ibu, menjabat sebagai bendahara; Sri Yuliarti, menjabat sebagai sekretaris; Roswita Linda dan Rosmaini, sebagai anggota.

“Lah, lima orang yang lainnya pada kemana?!” tanya saya.

“Ya, hilang!” jawab ibu. “Ada yang pulang kampung, ada yang membuka usaha sendiri, ada juga karena alasan pekerjaan lain dan tidak aktif lagi…”

Salah seorang anggota UKM Balqis sedang menjahit
Salah seorang anggota UKM Balqis sedang menjahit

DSC02779 DSC02777

Menurut cerita ibu, terbentuknya UKM Balqis ini tidak lepas dari bantuan donatur, pinjaman dana dari UP2K (Unit Peningkatan Peran Keluarga) yang langsung dari Walikota, dan pinjaman dana dari Bank Pengkreditan Rakyat (BPR). Dalam pengelolaannya, UKM Balqis menerapkan manajemen bagi hasil layaknya koperasi, tetapi tidak ada sistem simpanan wajib.

DSC02770 DSC02783 DSC02781

“Terus, untuk pembagian jam kerjanya?” saya bertanya sementara tangan saya dengan cepat terus mencatat keterangan demi keterangan yang keluar dari mulut ibu, ayah, dan Om Riko.

“Ya, kerjanya sesuai dengan waktu luang,” kata ibu tertawa. “setelah selesai semua pekerjaan rumah tangga, UKM Balqis baru dibuka, hingga sore hari.”

“Pendistribusian produknya?”

“Melalui promosi anggota, menunggu pesanan konsumen, distribusi ke pasar setempat,” ujar ibu. “Bahan dasarnya juga dari pasar setempat.”

DSC02086

Contoh hasil bordiran dari anggota UKM Balqis.
Contoh hasil bordiran dari anggota UKM Balqis.

DSC02079 DSC02080 DSC02085

DSC02095 DSC02096

Beberapa asil produksi yang siap dipasarkan.
Beberapa hasil produksi yang siap dipasarkan.

Lebih jauh, ibu dan ayah menceritakan bahwa UKM Balqis, yang sekarang ini hanya dikelola oleh 5 orang anggota yang tersisa, merupakan salah satu UKM unggulan PNPM Kota Pekanbaru.

“Kemarin sempat mendapat banyak kunjungan dari luar kota,” kata ayah. “Dari Jakarta, Jambi, Sawah Lunto… mereka semua datang berkunjung ke sini…”

Salah satu dokumentasi kunjungan dari pegawai kecamatan setempat.
Salah satu dokumentasi kunjungan dari pegawai kecamatan setempat.

DSC02040

UKM Balqis juga sempat mengikuti beberapa pameran bazaar yang diadakan oleh beberapa lembaga pemerintah lokal dan EO, seperti pada saat kegiatan acara MTQ Tingkat Kota Pekanbaru dan MTQ Tingkat Provinsi Riau, Pameran Expo Pekanbaru, Expo Riau di Malaysia, dan juga dalam rangka kegiatan promosi salah seorang calon walikota yang mengikuti pemilu pada waktu itu. Sedangkan dari Disperindag sendiri, kegiatan pameran dan bazaar UKM-UKM se-Indonesia juga turut membantu mempromosikan dan memasarkan produk-produk UKM Balqis.

Tim UKM Balqis ketika mengikuti pameran bazaar MTQ Pekanbaru.
Tim UKM Balqis ketika mengikuti pameran bazaar MTQ Pekanbaru.

DSC02138 DSC02776

Hingga kini, menurut ibu, UKM Balqis masih tersendat di persoalan modal dan usaha promosi atau pemasaran. Selain itu, persoalan tenaga kerja juga menjadi kendala utama. Manajemen tenaga kerja yang tidak memiliki perangkat yang ideal menyebabkan para tenaga kerja tidak dapat bergerak secara maksimal. “Etos kerja masyarakat kita yang pemalas dan ingin serba mudah pun menjadi salah satu faktor utama,” keluh ibu.

Ibu (baju biru), ketika sedang menunggu stand bazaar pada acara MTQ Pekanbaru.
Ibu (baju biru), ketika sedang menunggu stand bazaar pada acara MTQ Pekanbaru.

Yah, begitu lah sedikit cerita yang saya dapat selama liburan di Pekanbaru. Cerita ini setidaknya menjadi jawaban akan pertanyaan saya tentang keberadaan warung bordir di depan rumah saya itu. “Gileee… tiga tahun yang lalu isinya komputer super canggih semua, eh, sekarang malah mesih jahit! Hahaha!” gurau saya pada ayah.

Pekanbaru, 29 Januari 2013

Zikri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s