Beranda » Artikel » cerita singkat tentang pesan singkat

cerita singkat tentang pesan singkat

Jarak sudahlah tidak menjadi masalah untuk dapat saling berkomunikasi. Teknologi sudah maju pesat. Tercipta sebuah alat canggih untuk membuat jarak yang jauh menjadi dekat. Telepon genggam atau lebih dikenal Handphone (Hp) membuat jarak menjadi tidak masalah. Di jaman modern ini, Hp sudah bisa dinikmati dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Hanya dengan membeli pulsa kita dapat berhubungan langsung dengan orang yang posisinya jauh dari kita. Terlebih lagi Hp memiliki fasilitas Short Message Service (SMS), yang memberikan kemudahan bagi pengguna untuk menyampaikan pesan dengan tarif yang relatif murah.

Kehadiran teknologi ini telah membantu semua orang. Benar-benar semua orang, tanpa terkecuali. Dengan kehebatannya yang membuat kita bisa berkomunikasi jarak jauh, tanpa tatap muka, teknologi Hp ini juga membuka peluang bagi terjadinya kejahatan, di mana para pelaku melakukan berbagai modus kejahatan untuk menjebak korbannya, tanpa menatap batang hidung si korban. Dan salah satu cara yang sering digunakan dalam tindakan kejahatan itu adalah penipuan melalui SMS.

Aku pernah punya pengalaman menarik terkait fenomena ini (dan sepertinya semua orang yang memiliki Hp pasti pernah mengalami ini). Pada suatu hari, aku sedang bercakap-cakap dengan ibuku melalui telepon genggam. Aku berencana mengirim uang untuk ibuku di Sukabumi siang itu. Karena waktu itu aku sedang berada di pinggir jalan raya, percakapan dengan ibu terganggu. Akhirnya, aku mematikan telepon dan melanjutkan percakapan kami melalui pesan singkat (SMS). SMS berakhir ketika aku menanyakan nomor rekening bank yang akan menjadi tujuanku mengirim uang. Lama kutunggu-tunggu, SMS balasan dari ibu tidak juga kuterima.

Tiba-tiba datang SMS dari nomor yang tidak dikenal, yang berbunyi seperti ini:

‘Tranfer ke Mandiri aja Norek. 157-00-0256427-7 atas nama Eko Susanto’.

Aku sempat berpikir nomor rekening ini adalah nomor yang diberikan ibuku. Untung saja aku tidak langsung mengirimkan uang ke rekening tersebut karena baru kemudian kutahu bahwa itu bukan SMS dari ibuku. Nasib baik berpihak padaku. Tak lama setelah datangnya SMS itu, ibuku menghubungiku melalui HP untuk memberitahukan nomor rekening yang sebenarnya.

“Lah nomor na lain nu tadi bu?” (nomornya bukan yang tadi, Bu?) tanyaku kebingungan.

“Nu tadi nu mana?” (Yang tadi yang mana?)

“Eta ning, atas nama Eko Susanto?” (Itu, atas nama Eko Susanto?)

“Eh, bukan… Awas penipuan!”

Berceritalah ibu bahwa beliau pun pernah hampir terkena penipuan semacam itu. Situasinya sama seperti yang aku alami. Jadi, saat itu ibu sedang berkomunikasi dengan adikku yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur. Adikku berencana akan mengirim uang juga untuk ibu. Seseorang mengirimi adikku SMS untuk mentransfer ke rekening bank tertentu. Untungnya ibu segera menghubungi adikku dan dia pun selamat dari penipuan.

Kalau dipikir-pikir, jaman sekarang ini, SMS penipuan memang marak terjadi di mana-mana. Aku pun beberapa kali menerima SMS untuk mengirimkan pulsa dari nomor yang tak dikenal.

‘Yang, kirimin pulsa dong, yang, 20 ribu ke nomor aku yang baru, nanti aku telepon kamu. I Love You.’

Aku langsung tertawa membaca SMS itu. Sejak kapan aku dipanggil ‘Yang’?! Dengan pengalaman-pengalaman itu aku menjadi cuek terhadap SMS semacam itu. Kadang juga SMS serupa itu mengatasnamakan dirinya sebagai ibu, ayah, kakak, saudara sampai pacar.

‘Kirimin Mama pulsa sekarang ya. Yang 20 ribu aja’

‘De, kirimin Papa pulsa, ya..’

…dan masih banyak lagi SMS yang mengatas namakan keluarga.

Menanggapi pengalaman semacam itu, kemudian aku mencari tahu lewat internet tentang kasus-kasus penipuan melalui SMS. Tak disangka, dari satu artikel yang kutemukan ternyata tindak kejahatan ini bahkan melibatkan sindikat internasional. Seperti peristiwa penangkapan salah satu sindikat ‘SMS mama-papa’ yang berlokasi di Tangerang Selatan pada bulan Juni 2011 lalu. Dalam penangkapan itu, polisi mengamankan 31 warga Taiwan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti 25 unit telepon rumah dan 3 jaringan internet yang biasa dipakai untuk menipu korban.

Selain itu, ada juga kasus penipuan lainnya yang aku baca di http://www.banjarmasin.com.id.

Dayat, seorang warga Banjarbaru, bercerita tentang Hp miliknya berulang kali dihubungi oleh nomor tidak dikenal. Ketika Dayat mengangkat teleponnya selalu saja dimatikan oleh pihak yang menelpon. Karena sudah bosan Hp-nya berdering terus, akhirnya Dayat mematikan teleponnya. Ternyata, setelah Hp-nya dimatikan, orangtua Dayat di Banjarmasin ditelepon oleh pihak tidak dikenal yang mengabarkan bahwa Dayat mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di Rumah Sakit Umum. Ketika keluarga Dayat menghubunginya untuk memastikan keadaannya, telepon Dayat tidak bisa dihubungi. Akhirnya keluarga Dayat mempercayai berita kecelakaan itu. Si penipu meminta orangtua Dayat untuk mentransfer uang sejumlah Rp. 15 juta ke sebuah rekening bank atau lewat pengiriman pulsa. Keluarga Dayat pun mentransfer pulsa sejumlah Rp. 500.000 ke nomor telepon si Penipu. Ketika Dayat menyalakan Hp kembali, sms-sms dari keluarganya masuk untuk menanyakan kondisinya. Dia pun segera menghubungi keluarganya untuk memberitahukan informasi itu tidak benar. Yang membuat aneh Dayat adalah si penipu itu juga menghubungi nomor telepon tantenya, nomor telepon rumah dan ibunya.

Cerita Dayat hampir sama dengan hal yang aku alami. Dayat merasa aneh, kenapa si penipu mengetahui nomor telepon keluarganya. Sedangkan aku, bingung karena SMS transfer uang itu datang tepat pada saat aku dan ibu sedang membicarakan transfer uang.

Hal ini aneh menurutku. Apakah ini suatu kebetulan? Pelaku penipuan seolah tahu segala aktivitas kita. Bahkan, seperti kasus si Dayat, si pelaku tahu semua nomor telepon anggota keluarganya. Jangan-jangan, setiap percakapan atau SMS kita melalui telepon genggam diawasi oleh si penipu???! Hm… kalau memang seperti itu, serem juga ya!

Ada lagi contoh kasus lainnya, sebagaimana yang aku baca di internet. Mungkin teman-teman pernah menerima SMS untuk bergabung menjadi agen penjual pulsa? Hati-hati, ya, SMS semacam ini pun kadang merupakan penipuan. Banyak yang tergiur karena harga jualnya di bawah pasaran pada umumnya. Ketika kita sudah mentransfer uang untuk saldo pertama, misalnya sebesar Rp. 500.000, saldo yang masuk menjadi besar sampai berjuta-juta. Ujung-ujungnya, nanti kita akan dihubungi untuk mengkonfirmasi bahwa ada kesalahan pengiriman saldo. Setelah itu, pelaku biasanya meminta kita untuk mentransfer uang setengahnya dari saldo yang sudah kita terima. Setelah mentransfer, kita tetap tidak bisa melakukan transaksi penjualan pulsa, dan nomor-nomor telepon yang menghubungi kita itu tidak bisa dihubungi lagi. Hm… ada-ada saja para pelaku kejahatan. Mereka selalu menemukan cara dengan memanfaatkan apa yang ada.

Sebenarnya, ceritaku ini bukan cerita yang baru, sih!. Seperti yang aku katakan di awal tulisan ini, semua orang yang memiliki telepon genggam pasti pernah mengalami hal ini. Iya, gak sih? Iya aja deh, ya! (ceritanya maksa. Hahaha!). Aku menulis ini, hitung-hitung sekedar berbagi pengalaman dan mengingatkan teman-teman untuk tetap waspada. Pokoknya, kalau menerima SMS atau telepon dari nomor yang tidak dikenal, jangan langsung percaya, deh! Lebih baik telusuri dulu dengan teliti, karena bisa jadi kita sedang dijebak oleh pelaku kejahatan.

Parungkuda, 2 Februari 2013

Ageung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s