hujan di depan pabrik

Tanah masih basah

selepas hujan sore hari

Bujang-bujang pedagang

ngaso di warung kopi

mendengarkan dendangan lagu cinta

dari MP3 perangkat mobile

 IMG0191A

“Hai, lihat! Betapa manisnya, dia?!”

“Dia manis! Tidak dengan kau!”

“Jam berapa, sekarang?”

“Pukul empat lewat sedikit…”

“Ya, elah… udah gak sabar menyambut pujaan hati muncul dari balik pagar biru?”

“Aku tidak seperti kau, yang masih aja godain cewek!”

“Gadisku orang yang tangguh! Bekerja seharian melawan Oni yang keras kepala!”

“Sore masih panjang, kawan!”

IMG0196AIMG0192AIMG0194AIMG0205AIMG0204A

“Lagu ini mencurahkan isi hatiku.”

“Lagu apa? Lagu cengeng dari band kondang Wali?”

“Dasar bujang malang! Kau tak akan dilirik gadis-gadis pabrik.”

“Mengapa tidak?”

“Waktu mereka sudah habis untuk melayani Oni.”

“Ada banyak ekspor!”

“Alah, paling-paling nanti kita mengimpor barang lagi. Lalu, pacar-pacar kita merengek-rengek minta dibeliin. Uang penghasilan ngojek seharian mana cukup?!”

“Beli pulsa saja tidak cukup.”

“Makanya, mendingan dengerin lagu, yak?!”

“Kau saja! Aku tidak suka. Kalau lagu Iwan Fals, aku suka.”

“Masa kekasihku bekerja untuk menghasilkan barang-barang yang nantinya kembali diimpor?”

“Bukannya diekspor?”

“Ya, tapi nanti diimpor lagi…!”

IMG0197A

“Ah, sore masih panjang!”

“Hujannya seperti ilalang yang hidup segan mati tak mau…”

IMG0212A IMG0213A IMG0214A IMG0215A IMG0216A IMG0217A IMG0218A IMG0221A IMG0222A IMG0223A IMG0224A IMG0225A IMG0226AIMG0406A

“Gimana dagangan hari ini?”

“Lumayan, tapi tidak seperti tanggal lima.”

“Alah, tanggal lima juga gak ada yang beli gorengan.”

“Seringnya kutang ama celana dalem.”

“Hahaha!”

“Supaya bisa tampil keren pas malam minggu. Tanggal tujuh, kan Hari Minggu!”

“Iya, yak?! Yah, aku harus mengajak si Eneng nonton konser Wali!”

 IMG0254A IMG0255A IMG0257A IMG0259A IMG0260A IMG0261A IMG0262A IMG0265A IMG0266A

“Sedang baca apa kamu, A?”

“Saya sedang baca tentang Don Corleone yang hidup di Amerka.”

“Dia pengusaha?”

“Begitulah, tetapi sedikit berbeda. Lebih banyak tentang perdagangan gelap.”

“Lah, di sini juga perdagangan gelap.”

“Seperti di film-film, jualannya pake kode.”

“Narkotik?”

“Apaan? Jualan cireng! Hahaha!”

“Kenapa harus diam-diam?”

“Gak boleh sama Oni-nya.”

“Ini, juga, kita dagang cuma boleh masuk pas jam istirahat.”

“Somay-nya masih ada, A?”

“Udah habis. Ini lagi nunggu hujan reda, baru pulang.”

“Iya, dari tadi hujan, reda, hujan, reda. Udah senja gini, padahal…”

 IMG0195A

“Oh, sore sudah larut!”

“Lembur euy…!”

 IMG0232A IMG0231A IMG0230A IMG0229A IMG0228A IMG0256A

“Gila, yak! Dari pagi sampai malam begini…”

“Mereka tidak pernah mau rugi.”

“Hari libur saja tetep gak mau rugi.”

 IMG0235A IMG0236A IMG0237A IMG0238A IMG0239A IMG0240A IMG0241A IMG0242A

“Orang-orang diatur dengan upah per jam. Gimana bisa nabung biar kaya?!”

“Lah, itu pedagang-pedagang bisa kaya, kok!”

“Iya, penghasilannya saja sehari bisa ratusan ribu…”

IMG0399A

“Tapi tidak seberapa dengan yang ngangkut-ngangkut barang.”

“Iya, belum lagi cara berpakaian juga dilarang-larang.”

“Yang sakit, mau pulang, juga dilarang.”

“Mau gimana lagi? Yang penting Oni-nya senang.”

IMG0272A

Parungkuda, 26 Maret 2013

Ageung (dan Zikri)

Satu pemikiran pada “hujan di depan pabrik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s