Bening Tirta: “Melek media, cerita, kesahajaan dan kekeluargaan”

Halo teman-teman pembaca! Kali ini blog dariwarga memuat ulasan ringkas nan bernas dari salah seorang teman, Muhammad Bening Tirta, yang sudah membaca buku Bagian Kampung Sawah versi ebook. Menarik sekali jika mencermati ulasan Bening tentang inisiatif warga dalam menyebarkan informasi (narasi-narasi kecil) yang ada di sekitar warga, mengingat fenomena jurnalisme warga mulai tumbuh di lingkungan masyarakat secara luas. Selain itu, kritiknya terhadap kualitas penyajian buku Bagian Kampung Sawah juga mencerahkan dan menjadi catatan tersendiri bagiku untuk meningkatkan kualitas berkarya di masa yang akan datang.
Silahkan baca dan tanggapi ulasan ringkas dari Bening mengenai buku Bagian Kampung Sawah, berikut ini:

***

Mengangkat cerita dari pedesaan ke permukaan adalah sesuatu yang sangat jarang, setidaknya sejak saya mulai melek media dan buku-buku. Warga kota tentu sudah jengah dihidangkan dengan konten media yang itu-itu saja. Roda kehidupan juga seakan hanya di kota-kota besar dan hanya soal sandiwara di pemerintahan pusat. Padahal jika kita, warga kota, sudi meluangkan waktu melihat dan mendengar cerita dari pedesaan akan ada banyak hikmah yang bisa diambil. Hikmah tentang beberapa hal yang telah pudar di perkotaan, contohnya kesahajaan dan kekeluargaan.

Bagian Kampung Sawah (Project of [cetak]dariwarga)
Bagian Kampung Sawah (Project of [cetak]dariwarga)

Belum pernah saya temui reportase yang apik mencuat dari daerah pedesaan. Inisiatif dari sekelompok pemuda “melaporkan” kegembiraan dan juga kesenjangan yang dirasakan warga di pedesaan juga merupakan hal yang langka ditemui. Kita tahu banyak pemuda yang merantau dari desa ke kota. Tapi, sebagian yang tersisa, antara belum melek teknologi, tidak punya waktu karena harus menghidupi keluarga, atau malah terjebak dalam lambatnya ritme hidup di desa. Saya suka semangat Ageung dan kawan-kawan untuk memulai perubahan dari rumah sendiri, kemudian desanya, dan seterusnya. Proyek ini langka dan dikerjakan oleh orang memiliki pemikiran langka pula.

Bening Tirta Muhammad
Bening Tirta Muhammad

Dari segi cerita, bahasa yang gurih dan twist yang jenaka cukup membuat saya tertahan untuk membaca e-book ini sekali duduk. Menarik dan segar. Bagaimanapun masih banyak yang harus ditingkatkan, misalnya penataan letak foto-foto dan teknik pengabadian “momen” ke dalam bentuk foto. Saya melihat e-book ini hampir seperti photo essay, tapi rangkaian foto-foto yang diterakan belum bisa memberikan cerita yang kronologis dan sinkron. Jika setiap lembar, dimana ada foto atau paragraf, dibayangkan sebagai bagian dari sebuah alur cerita, maka terlihat alur yang melompat-lompat. Kemudian, teknik pengabadian momen yang saya maksud adalah bagaimana gambar harus bisa bercerita, mewakili emosi, dan bahkan mempertegas pesan yang ingin disampaikan. Terakhir, dari segi pencetakan, saya rasa e-book ini masih bisa diringkas menjadi 2/3 atau setengahnya. Foto-foto yang tidak “menambah” secara signifikan dalam esensi cerita lebih baik dihilangkan saja.

Saya sadar proyek ini terlalu dini untuk dikuliti karena masih seperti calon buah yang tampak setelah putik dibuahi dan mahkota bunga gugur. Bagaimanapun, kritik saya di atas didorong oleh harapan saya yang besar agar proyek ini dilanjutkan ke tingkat penyajian yang lebih baik, dan lebih banyak kabar dari pedesaan Indonesia yang bisa kita baca dan dengar.

16 Juli 2013

Bening Tirta Muhammad

Satu pemikiran pada “Bening Tirta: “Melek media, cerita, kesahajaan dan kekeluargaan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s