Ngabuburit di Stasiun Parungkuda

Halo-halo! Kali ini aku muat sebuah tulisan dari adikku, Dina ‘Alit’ Fauziah, tentang ngabuburit warga di sekitar rumah kami di dekat Stasiun Parungkuda. Silahkan dibaca! Terimakasih.🙂

Suasana sore hari menjelang buka puasa di sekitaran rel dekat Stasiun Parungkuda (Juli, 2013)
Suasana sore hari menjelang buka puasa di sekitaran rel dekat Stasiun Parungkuda (Juli, 2013)

Sudah beberapa hari ini, hujan selalu saja terjun dari langit, turut menyejukan suasana di Bulan Ramadhan, mengurangi keluhan dari orang-orang yang sedang berpuasa. Biasanya, saat terik, ada saja yang mengeluh jika cuaca panas akan cepat haus. Termasuk aku. Pernah suatu hari, aku merasa sangat kepanasan karena matahari begitu terik,  kubuka pintu kulkas dan rasanya sejuk sekali. Batal nggak, ya?? Hehe!

Warga yang tinggal di dekat Stasiun Parungkuda biasanya menghabiskan waktu menunggu buka puasa dengan duduk-duduk santai di rel kereta.
Warga yang tinggal di dekat Stasiun Parungkuda biasanya menghabiskan waktu menunggu buka puasa dengan duduk-duduk santai di rel kereta.

Kegiatan apa, ya yang identik dengan Bulan Ramadhan?

Kulihat salah satu temanku di Parungkuda mengunggah sebuah foto. Dari suasana latarnya, aku sudah bisa menebak di mana foto itu diambil. Pasti di Stasiun Parungkuda! Di tambah lagi judul fotonya “ngabuburit”. So pasti itu foto ngabuburit di Stasiun Parungkuda. Soalnya, menurutku, tempat ngabuburit yang paling asik dan lengkap, ya Stasiun Parungkuda. Mau cari menu untuk berbuka puasa yang sudah siap santap, ada banyak pilihan. Berbagai minuman segar untuk berbuka puasa, juga dijual di sana. Atau untuk yang suka makan kue-kue saat berbuka puasa, di sana banyak para penjual aneka kue dan gorengan. Sedaaap!!!

Suasana kepadatan dan kemacetan gerak orang-orang di sekitar Stasiun Parungkuda jika ngabuburit.
Suasana kepadatan dan kemacetan gerak orang-orang di sekitar Stasiun Parungkuda jika ngabuburit.

Selain banyak penjual menu berbuka puasa, di Stasiun Parungkuda juga banyak penjual mainan dan sepertinya tidak lengkap kalau penjual petasan kembang api tidak ikut partisipasi di acara ngabuburit. Saat terakhir ngabuburit di Stasiun, tahun 2010, aku masih melihat ada beberapa orang yang menyewakan game atau biasa kami menyebutnya jimbot. Biasanya, disewakan dengan harga Rp.500-Rp.1000/game. Main sepuasnya sampai game over. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), temanku Serli pelanggan setia sewa jimbot. Ia bisa betah bermain berlama-lama. Kalau aku, sih tidak usah tunggu lama-lama! Belum lima menit, permainannya sudah game over. Payah! Hahaha!

Salah satu toko penjual buah di dekat Stasiun Parungkuda.
Salah satu toko penjual buah di dekat Stasiun Parungkuda.
Suasana keramaian di Stasiun Parungkuda. Warga berhamburan ke rel kereta mendatangi lapak para pedagang.
Suasana keramaian di Stasiun Parungkuda. Warga berhamburan ke rel kereta mendatangi lapak para pedagang.
Suasana keramaian dan kemacetan di jalan dekat Stasiun Parungkuda pada waktu ngabuburit Bulan Ramadhan.
Suasana keramaian dan kemacetan di jalan dekat Stasiun Parungkuda pada waktu ngabuburit Bulan Ramadhan.

Bagaimana kalau turun hujan?

Kebanyakan para penjual di Stasiun Parungkuda menggelar dagangan mereka di sepanjang stasiun karena memang tidak ada disediakan stand khusus untuk pasar Ramadhan oleh pemerintah setempat. Jadi, mereka berjualan beratapkan langit. Saat terik, ya kepanasan. Saat hujan? Beberapa penjual akan membereskan dagangan mereka, tentu saja. Namun, ada juga yang bertahan di pinggir-pinggir atap stasiun. Beberapa penjual es biasanya memasang payung atau terpal pada gerobak mereka. Saat hujan pun, acara ngabuburit tetap berlangsung, hanya saja tidak terlalu ramai. Seandainya disediakan tempat khusus yang memadai untuk pasar di Bulan Ramadhan, mungkin saat-saat ngabuburit akan lebih asik meskipun hujan.

Salah satu penjual petasan yang mulai marak di Bulan Ramadhan juga ikut meramaikan ngabuburit di Stasiun Parungkuda.
Salah satu penjual petasan yang mulai marak di Bulan Ramadhan juga ikut meramaikan ngabuburit di Stasiun Parungkuda.
Salah satu penjual serba mainan di Stasiun Parungkuda yang ikut meramaikan ngabuburit.
Salah satu penjual serba mainan di Stasiun Parungkuda yang ikut meramaikan ngabuburit. Tidak menggunakan terpal pelindung hujan, hanya beratapkan langit.
Selain 'jimbot', buku teka-teki silang juga menjadi incaran warga di sekitar rumah karena menjawab pertanyaan-pertanyaannya dapat menemani waktu luang sambil menunggu buka puasa.
Selain ‘jimbot’, buku teka-teki silang juga menjadi incaran warga di sekitar rumah karena menjawab pertanyaan-pertanyaannya dapat menemani waktu luang sambil menunggu buka puasa.
Salah satu penjual takjil di Stasiun Parungkuda yang memancaatkan atap ruko sebagai pelindung hujan.
Salah satu penjual takjil di Stasiun Parungkuda yang memancaatkan atap ruko sebagai pelindung hujan.

Ngomong-ngomong ngabuburit, tentu tak lengkap jika tidak bicara menu buka puasa. Aku tak pernah lupa santapan buka puasa di rumah, di Parungkuda. Biasanya, untuk buka puasa, ibuku membuat kue sendiri. Pokoknya, ibuku master chef-nya Kampung Sawah—nama jadul yang dulu lekat dengan lokasi tempat rumahku sekarang ini berdiri. Mau kue kering atau kue basah, kue manis atau kue asin, macam-macam gorengan juga, ibu bisa buat semuanya. Tapi, kalau untuk buka puasa, Risoles buatan ibu yang paling enak. Meskipun bikin risoles agak ribet, tapi kalo udah makan risolesnya tidak akan ada rasa penyesalan, deh udah bantuin ibu bikin risoles. Uwenak tenan!!! Kapan, ya bisa menikmati risoles buatan ibu lagi? Sudah tiga kali puasa, aku tidak di Parungkuda.

Selain untuk buka puasa, kami sering membantu ibu juga untuk membuat kue lebaran. Terlihat di foto, Indah, si bungsu, sedang membantu ibu membuat kue.
Selain untuk buka puasa, kami sering membantu ibu juga untuk membuat kue lebaran. Terlihat di foto, Indah, si bungsu, sedang membantu ibu membuat kue.
Hmmm...! Nyam nyam nyam! Selamat berbuka puasa, Parungkuda! :D
Hmmm…! Nyam nyam nyam! Selamat berbuka puasa, Parungkuda!😀

Untung saja aku menulis ini saat sudah berbuka puasa. Jadi membayangkan menu berbuka puasa yang yahut-yahut tidak membuat puasaku batal. Hehehe!***

Sebuah cerita kenangan tentang Parungkuda, ditulis di Balikpapan, 23 Juli 2013 oleh Dina ‘Alit’ Fauziah. Foto oleh Dian ‘Ageung’ Komala & Manshur Zikri

Satu pemikiran pada “Ngabuburit di Stasiun Parungkuda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s