Kristanti Wardani: “Selamat tinggal sejarah buatan orang asing!”

Hai, teman-teman pembaca! Kali ini, di dariwarga, aku memuat satu tulisan review lagi tentang buku Bagian Kampung Sawah dari salah satu teman, bernama Kristanti Wardani (Email: minoritaskiri@gmail.com). Sebuah penghargaan yang luar biasa ketika seorang blogger pengelola blog ruangkiri.blogspot.com ini, tetiba menghubungiku melalui email dan meminta izin “mengintip” Bagian Kampung Sawah versi ebook. Dan tak lama kemudian, ia mengirimkan sebuah ulasan mengenai buku tersebut.

Sangat menarik melihat kritik dari Kristanti Wardani, terutama penekanannya pada soal pengabadian sebuah peristiwa lokal menjadi sejarah yang berasal dari tangan warga lokal. Mimpi akan suatu masa di mana referensi sejarah kampung kita mengacu pada referensi lokal menjadi harapan besar kita semua. Sudah saatnya kita tidak bergantung lagi pada sejarah-sejarah buatan orang asing. Membuat peta desa kita sendiri, mengapa tidak!?

Silahkan baca dan tanggapi ulasan Kristanti Wardani mengenai buku Bagian Kampung Sawah, berikut ini! Selamat membaca!😀

***

Sebenarnya, ini sebuah ketidaksengajaan yang membawa berkah. Iseng berkenalan di dunia maya, membuat saya terdampar di blog dariwarga.wordpress.com. Kebetulah pula, yang saya lihat kali pertama dari blog ini ialah wara-wara tentang sebuah buku yang akan cetak independen. Buku Bagian Kampung Sawah ini sangat menarik perhatian saya. Entah kenapa, mengingatkan saya akan sebuah kerja bersama yang belum selesai dengan warga desa di Borobudur.

Bagian Kampung Sawah (Project of [cetak]dariwarga)
Bagian Kampung Sawah (Project of [cetak]dariwarga)

Pengalaman berkesan di Borobudur memberikan pengetahuan berharga kepada saya mengenai keberdayaan warga lokal. Warga lokal, sejatinya, menjadi manusia yang paling mengenali lingkungan sekitarnya, lingkungan tempat tinggalnya. Oleh sebab itu, mereka pula yang bisa memutuskan arah pembangunan di tempat tinggalnya. Bukan pemerintah, bukan lembaga swadaya masyarakat, bukan mahasiswa KKN, buka orang di luar wilayah mereka.

Namun, seperti jamak terjadi di banyak tempat, jika kita tinggal cukup lama di suatu kawasan, terkadang kita malah tak tahu potensi (positif dan negatif) dari kawasan itu. Terdengar aneh, namun sering saya jumpai. Mungkin karena terlalu lama ditempati sehingga menjadi suatu hal yang biasa-biasa saja dari sudut pandang pribadi. Untuk itulah dokumentasi dan proses pengenalan lingkungan tempat tinggal menjadi penting untuk warga lokal.

Seperti yang saya baca di e-book Bagian Kampung Sawah ini. Sebagaian besar tulisan di buku ini lebih merupakan ingatan-ingatan personal yang dituliskan. Ada juga tulisan yang bersifat pengamatan, baik dari orang asli Parungkuda maupun dari pendatang yang kebetulan singgah di rumah Ageung. Dua sudut pandang itu sama pentingnya. Sama-sama dokumentasi yang terkesan sederhana namun punya nilai yang sangat berharga. Ah, seandainya banyak orang melakukan hal ini di tempat tinggalnya, saya yakin di suatu masa nanti referensi sejarah kampung akan mengacu pada referensi lokal. Selamat tinggal sejarah buatan orang asing! Mungkin agak keras namun sudut pandang lokal selama ini sering tergusur oleh hasil studi yang dilakukan oleh orang-orang di luar kampung itu sendiri.

Silahkan add facebook penulis: Kristanti Wisnu Aji Wardani
Silahkan add facebook penulis: Kristanti Wisnu Aji Wardani

Dari segi penulisan, tulisan ini ringan dan “minta” untuk dihabiskan sekali waktu. Tapi juga punya daya untuk “memanggil” kita membukanya tiap waktu. Mungkin karena bersifat personal, jadi terasa seperti membaca buku harian. Ringan, sederhana, namun berkarakter. Juga tak hanya menceritakan tentang keindahan desa namun juga mengangkat konflik-konflik yang terjadi di dalamnya. Bukankah, desa tak hanya cerita tentang romantika belaka?

Jika boleh memberi saran, ada baiknya kalau buku ini dilengkapi dengan peta lokasi desa. Setelah membaca tulisan-tulisan di dalamnya, saya yang orang luar Parangkuda ini jadi tertarik juga ingin berkunjung.

Atau mungkin jika ingin sentuhan yang lebih personal, bisa juga memberikan denah kampung yang dibuat secara manual. Dari sana, pembaca diajak untuk “berkeliling” desa Parungkuda. Ikut menyelami masa kecil Ageung dan Alit, misalnya. Bagi saya, peta atau denah sangat membantu untuk membawa saya pada kondisi yang sebenarnya. Pun membantu saya membandingkan perubahan kawasan Parungkuda dari waktu ke waktu.

Sedikit masukan lagi, jika berkenan. Alangkah baiknya jika nama penulis di tiap bab dicantumkan. Menurut saya, ini diperlukan agar pembaca tahu sedang diajak oleh siapa berkelana ke Parungkuda. Soalnya saya suka bingung, siapakah tokoh “aku” yang sedang bercerita ini. Mengingat buku ini ditulis oleh tiga orang penulis.

Mungkin itu saja celotehan dari saya. Saya menunggu cerita-cerita tentang Parungkuda yang lain, yang lebih “intim” tentang kawasan ini.

Artikel review ini ditulis via email, 3 Agustus 2013

oleh Kristanti Wardani

2 pemikiran pada “Kristanti Wardani: “Selamat tinggal sejarah buatan orang asing!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s