Sketsa Pabrik #2

P

ada siang hari yang panas di Pekanbaru, Riau, Zikri mengirim sebuah pesan singkat melalui android-nya kepada Ageung yang berada di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Tepat pukul 11:20 WIB, Ageung, yang saat itu sedang membantu ibunya beberes rumah, melihat pesan dari Zikri berupa pertanyaan singkat, tetapi—sebagaimana yang Ageung sadari—pertanyaannya bukanlah sekedar basa-basi. Zikri sedang mengajaknya “bermain-main”.

dariwarga_sketsa pabrik #2_01

Minggu ini masih minggu libur, masih dalam nuansa lebaran. Buruh-buruh pabrik tidak masuk kerja. Begitu pun dengan Ageung. Sedari kemarin, ibu ngomel karena, menurutnya, Ageung selalu bangun siang. Ageung tak terlalu mempermasalahkan omelan ibu. Omelan ibu lebih membuatnya nyaman dibandingkan omelan Oni, Bos Korea pemilik pabrik. Ah, pabrik! Ageung pun bingung, mengapa bahkan di hari libur ini pun, Zikri dengan isengnya bertanya-tanya soal pabrik, seakan-akan menguatkan kesan bahwa pabrik memang tak bisa lepas dari kesehariannya sebagai warga Parungkuda. Meladeni rasa penasaran Zikri tentang pabrik, Ageung menjawab pesan singkat melalui perangkat mobile miliknya sembari mengangkut kain kotor ke rumah Uwa Eel untuk segera dicuci.

dariwarga_sketsa pabrik #2_02

Buruh, pabrik, pengangguran, dapat uang dengan mudah… Perbincangan itu makanan sehari-hari, dan sudah menjadi semacam kewajaran bagi masyarakat di sekitar rumah Ageung untuk mengamini kehadiran perusahaan-perusahaan asing. Berbincang tentang masyarakat lokal Parungkuda, berarti berbicara tentang fenomena pabrik. Datanglah ke desa ini, telusuri Jalan Raya Parungkuda di sore menjelang maghrib! Rombongan massa buruh keluar pabrik menjadi pemandangan yang menarik perhatian, tetapi hal itu jadi pemandangan yang biasa bagi warga Parungkuda.

dariwarga_sketsa pabrik #2_03

Beberapa saudara bekerja di pabrik. Tetangga juga ada yang bekerja di pabrik. Sebagian besar teman-teman di sekitar rumah juga “lari” ke pabrik. Ada pabrik di pinggir jalan, di belokan gang, di sebelah warung makan, di sebelah taman kota. Di dalam angkot ada buruh pabrik. Di warung juga ada buruh pabrik. Di masjid dan musholla juga buruh pabrik. Di mana-mana, di Parungkuda, ada buruh dan pabrik.

dariwarga_sketsa pabrik #2_04

Sebuah penelitian ilmiah oleh seorang mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB), Nuzulia Farhani, pada tahun 2011 (lihat di repository.ipb.ac.id), menyebutkan bahwa pada tahun 2007, tercatat ada 139 pabrik di sepanjang jalan dari Cicirug hingga Parungkuda, diantaranya ialah 57 perusahaan pakaian jadi, 12 perusahaan pakaian rajutan, 6 perusahaan peci, 26 perusahaan elektronik, dan 38 perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Dan dirasa-rasa, jumlah pabrik di Parungkuda semakin bertambah, begitu pula dengan jumlah buruhnya. Semakin banyak generasi muda bertumbuh kembang di desa ini, hanya menjadi tenaga siap sedia untuk mengisi kekosongan sumber daya manusia di pabrik; buruh cadangan. Pengharapan yang lebih baik di ranah pekerjaan, terutama bagi mereka yang berkenan berusaha lebih keras, ada di luar Parungkuda.

dariwarga_skesta pabrik #2_05

Buruh, Pabrik dan Parungkuda. Di zaman yang sudah semakin tua ini, di era kegembiraan atas hadirnya teknologi informasi dan komunikasi, percakapan tentang keseharian buruh tetap menjadi perhatian. Maka tak heran, hitung-hitung mengisi waktu luang di hari libur, berbagi cerita tentang kesan-kesan menjadi buruh pabrik adalah salah satu kegiatan yang tak kalah menyenangkan dibandingkan dengan menonton TV.

Parungkuda & Pekanbaru, 12 Agustus 2013

Ageung & Zikri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s