Sketsa Pabrik #3

Saat itu sedang terjadi kesurupan massal di pabrik. Kejadian mulai kesurupannya pagi, sekitar jam setengah delapan. Ada sekitar 40 orang yang kesurupan. Orang-orang (buruh-buruh) berkumpul di halaman dan melantunkan shalawat, berharap kesurupan itu segera berakhir. Video ini direkam oleh D, salah satu buruh PT. Nina dengan menggunakan kamera handphone-nya. D membagi-bagikan rekaman ini ke buruh-buruh lainnya, salah satunya aku, pada Bulan Mei 2013.

Video rekaman (kamera handphone; 3gp) situasi kesurupan massal di Pabrik Nina, Parungkuda, Sukabumi. from Dian Komala on Vimeo.

Peristiwa ini sempat ditulis oleh Zikri di dalam blognya. Meskipun sedikit lebay, catatan Zikri ini sedikit menggambarkan peristiwa yang terjadi saat itu.

Catatan di Blog Zikri, 11 April 2013

Dua hari yang lalu, Ageung bercerita bahwa sekitar empat puluh orang buruh di PT. Nina sempat mengalami kesurupan. (“Kayak yang di tivi tivi, nih!” kata saya dalam hati).

“Aku gak tahu cerita awalnya, tapi katanya, sih satu persatu pada pingsan, terus jerit-jerit. Pertamanya 8 orang, nambah terus sampe yang aku denger terakhir 40 orang,” Ageung menjelaskan.

Ageung belum pernah bercerita kalau di PT. Nina ada narasi atau gosip tentang keberadaan setan. Tentunya peristiwa kesurupan itu akan cocok skenarionya jikalau memang misalnya di pabrik tersebut ada semacam legenda urban di kalangan buruh mengenai hantu atau setan penunggu gedung pabrik. Saya mulai membayangkan sebuah kisah misteri tentang seorang buruh perempuan pabrik yang mati gantung diri karena ditinggal kekasihnya (#dubrak!). Memang, sih, Ageung adalah pegawai baru di pabrik itu, dan mungkin teman-temannya belum sempat bercerita tentang misteri-misteri seputar pabrik yang angker.

Akan tetapi, ada kemungkinan lain: bisa jadi aksi kesurupan massal itu hanyalah sebuah pertunjukkan dari para buruh untuk melakukan semacam protes. Saya teirngat cerita saudara saya, Hauza, tentang aksi kesurupan massal siswa-siswi di sebuah SMA tempatnya bekerja sebagai pembimbing ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis). Hauza mengatakan bahwa siswa-siswi itu tidak benar-benar kesurupan. “Mereka hanya berpura-pura untuk mencari perhatian, umumnya didorong oleh latarbelakang masalah pribadi. Itu wajar di kalangan remaja, mereka masih labil dan sedang mencari jati diri,” jelas Hauza ketika menceritakan aksi bijaknya dalam menangani kasus tersebut. Nah, tidak menutup kemungkinan motif yang sama juga terjadi di kalangan buruh PT. Nina, kan?

Lebih dari satu minggu yang lalu, Ageung menulis tentang gaji buruh pabirk PT. Nina yang jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan UMR Jakarta. Meskipun dalam tulisan itu Ageung tidak menceritakan soal keluhan para buruh pabrik secara eksplisit, saya tetap berspekulasi bahwa persoalan gaji mungkin ada hubungannya dengan peristiwa kesurupan massal tersebut. Kesejahteraan buruh yang dipotong habis-habisan oleh para penguasa pabrik bukanlah masalah yang baru. Dengan berpura-pura kesurupan, buruh bisa mengekspresikan protes mereka kepada atasan (semacam inovasi dari mogok kerja, barangkali?! #asyek).

Ageung sendiri berpendapat bahwa aksi kesurupan yang melibatkan puluhan buruh itu dapat terjadi karena rasa empati yang ada pada masing-masing buruh satu sama lain. Ia masa bodoh dengan penyebab “kesurupannya”, dan lebih tertarik untuk menganalisa mengapa aksi itu bisa terjadi secara massal.

“Karena ada rasa empati itu, orang yang ada di dekatnya akan merasakan hal yang sama,” kata Ageung. “Kesurupan itu sendiri, kan dipicu bukan karena adanya hal yang bersifat magis. Hahaha! Sotoy, nih bahasanya!”

Hm… cukup rasional, sih…

Pada Bulan Mei, kesurupan terjadi lagi. Dan pada saat itu lah aku menerima rekaman video dari D. Rekaman itu tersimpan di dalam harddisk-ku selama lebih kurang dua bulan. Aku sempat mencatat situasi terkait peristiwa hari itu.

Catatan di status facebook-ku, 21 Mei 2013

Terjadi kembali, kesurupan massal di PT. Nina, hari ini pada tanggal 21, sekitar pukul setengah sembilan pagi. Satu-persatu karyawan jatuh pingsan dan disusul dengan teriakan-teriakan. Karyawan berhamburan keluar gedung. Ketika karyawan masuk kembali ke dalam gedung karena diperintahkan oleh atasan, bertambah lagi karyawan yang kesurupan. Semua berhamburan keluar karena takut tertular kesurupan. Satu jam lewat sudah, ada yang sudah sadar dan ada juga yang kembali tak sadar, berteriak. Desakan dari warga di luar pagar, membuat semua karyawan dipulangkan……

dariwarga_sketsa pabrik_01

Kesurupan pada Bulan Mei itu terjadi dua kali. Selama 2 hari, kesurupan massal itu menyebabkan pekerjaan di pabrik terganggu sehingga kami, para buruh, dipulangkan lebih awal. Setelah beberapa hari, sekitar 5 karyawan yang dianggap sebagai biyang kerok kesurupan oleh pihak pabrik dikeluarkan atau diberhentikan dari hak kerja.

Catatan di status facebook-ku, 22 Mei 2013

Kembali terjadi peristiwa kesurupan massal di PT. Nina 1, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, sekitar pukul 7. Karyawan-karyawan bersholawat bersama di halaman mendoakan teman-teman mereka yang kesurupan. Warga berkumpul di balik gerbang dan kemudian mendobrak pintu, berteriak kepada karyawan untuk segera pulang. Karyawan pun dipulangkan, namun pada pukul 12.30, karyawan harus kembali untuk bekerja (karyawan yang kuat imannya).

dariwarga_sketsa pabrik_02

Parungkuda, 15 Agustus 2013

Ageung & Zikri

Satu pemikiran pada “Sketsa Pabrik #3

  1. “Dengan berpura-pura kesurupan, buruh bisa mengekspresikan protes mereka kepada atasan (semacam inovasi dari mogok kerja, barangkali?! #asyek)”

    Menarik. Dilihat dari kondisi yang sudah dijabarkan, bisa jadi lebih kepada aksi protes.

    Saya mau berbagi cerita sedikit. Sekitar dua bulan yang lalu, seorang teman mengundang adiknya yang lelaki dan kekasih adiknya untuk berkunjung ke Taman Baca tempat saya bergiat, Taman Baca Bulian.
    Saat itu, pengurus Taman Baca sedang mengadakan rapat di dalam. Oleh karena itu, sang adik dan kekasihnya, bersama beberapa volunteer yang lain, bertugas menghandle pemustaka yang datang dan beberapa kegiatan kreativitas untu adik-adik pemustaka yang datang.
    Ketika sudah petang, adik-adik pemustaka pulang. Kami yang pengurus masih rapat di dalam. Di tengah rapat, teman saya menengok sebentar keadaan adik dan kekasih adiknya.
    Tak berapa lama, teman saya kembali masuk ke dalam dengan wajah panik. Katanya, kekasih adiknya kesurupan.
    Kami lantas kaget! Tidak pernah ada sejarahnya kalau tempat itu ada penunggunya, bahkan bisa buat orang kesurupan.
    Selidik demi selidik, ternyata sang kekasih hanya berpura-pura kesurupan. Lucu. Apa sebab?
    Ternyata dia ngambek karena merasa diabaikan oleh kekasihnya yang asyik bermain dengan adik-adik pemustaka. Kurang lebih, tingkah kesurupannya hanya sebagai aksi protes supaya diperhatikan.😀

    Bisa jadi kesurupan massal yang terjadi di pabrik hanya sebagai aksi protes akibat atmosfer kerja atau tak terpenuhinya kesejahteraan. Apalagi momentumnya juga lumayan sesuai untuk protes-protes, yaitu di bulan Mei. Saya sendiri agak sulit percaya sama kesurupan.

    Atau hanya iseng.

    “Setelah beberapa hari, sekitar 5 karyawan yang dianggap sebagai biyang kerok kesurupan oleh pihak pabrik dikeluarkan atau diberhentikan dari hak kerja.”

    Nah, dibuat-buat, tapi untuk apa? Mengapa mereka picu kesurupan massal ini? Dan dari mana pabrik tahu kalau merekalah biang keroknya?
    Saya penasaran🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s