Upacara 17 Agustus ala RT 10

Upload ke youtube-nya Jokowi, terus ke SBY!” seru ketua RT 10/02, Jagakarsa, Lenteng Agung, yang bernama asli Juanda.

Enam puluh delapan tahun yang lalu, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Di tahun 2013 ini pun, seluruh warga Indonesia merayakannya. Tidak terkecuali warga RT 10/02, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kami berkumpul bersama di sana. Selama upacara berlangsung, aku banyak mendengar sebuah kalimat dari mulut Pak RT, “Dengan kasih sayang, kami berkumpul di sini.”

dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_04 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_03 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_02 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_01

Pada umumnya, seperti yang selalu kurasakan ketika masih duduk di bangku sekolah, 17 Agustus identik dengan rangkaian upacara bendera. Biasanya, di beberapa daerah, seperti tempat tinggalku di Sukabumi, murid-murid dari berbagai sekolah se-kecamatan  berkumpul di sebuah lapangan luas. Upacara selalu dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi, dari berbagai kalangan, seperti: Pak Lurah, Camat, Bupati hingga Gubernur. Barisan-barisan panjang berjejer di lapangan upacara, seperti misalnya di daerahku, Parungkuda, kami berkumpul di lapangan bola Babakan Peundeuy. Kami berkumpul di momen upacara dengan kepentingan membawa keharuman nama sekolah kami masing-masing.

Upacara 17 Agustus yang dilakukan oleh warga lokal di lingkuntan RT 10/02, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Video ini direkam pada tanggal 17 Agustus 2013, menggunakan kamera Canon Power Shot A2300 HD.

Suasana upacara yang berbeda kurasakan di RT 10 di tahun ini. Di halaman yang kurang lebih hanya seluas 100 meter persegi, kami berkumpul. Tidak ada pejabat yang datang, kecuali Ketua RT sebagai Pembina Upacara. Selebihnya, anak-anak Pendidikkan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan para orang tua mereka. Tidak banyak barisan di lapangan itu, hanya ada tiga baris pendek. Tidak mewakili institusi mana pun, kami cukup membawa diri kami sendiri untuk berkumpul di sana.

dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_17 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_15 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_16

Rangkaian upacara berlangsung dengan urutan yang sama seperti biasanya. Pemimpin Upacara masuk lapangan, Pembina Upacara memasuki lapangan upacara, Pemimpin Upacara melaporkan kepada Pembina Upacara, pengibaran bendera, pembacaan Teks Proklamasi, pembacaan Teks Pancasila, pembacaan Pembukaan UUD  1945, amanat Pembina Upacara dan sebagainya.

dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_08 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_07 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_05 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_06

“Pengibaran sang merah putih, diiringi lagu Indonesia Raya.”

Namun, berhubung di halaman itu tidak ada tiang bendera maka RT 10 punya cara sendiri untuk mengibarkan sang merah putih. Petugas pengibar bendera adalah tiga anak SD. Mereka tidak menggerek tali agar bendera ke atas mencapai ujung tiang, melainkan dengan cara membawa bambu yang sudah diikat dan dililit bendera. Seiring disenandungkannya lagu Indonesia Raya, perlahan-lahan bambu diputar untuk mengembangkan bendera sampai dapat berkibar. Karena tak adanya tiang bendera permanen yang dapat berdiri tegak di tempat itu, sebagaimana yang sering kita lihat di lapangan upacara sekolah, ketiga anak tersebut memegang bambu sampai upacara selesai. Unik bukan? Bagiku unik, karena ini adalah pengalaman pertamaku menyaksikan pengibaran bendera seperti itu.

dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_14dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_13dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_12dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_09dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_10

Hal yang menarik lainnya adalah sesi amanat Pembina Upacara yang disampaikan oleh Pak RT. Dalam amanatnya, dia menyerukan “Merdeka! Merdeka!” yang kemudian diserukan kembali oleh anak-anak. Itu, sih masih biasa. Ini dia bedanya: Pak RT bukannya menceritakan sejarah tentang kemerdekaan Indonesia, yang biasanya diserukan oleh pembina-pembina upacara pada umumnya, melainkan dia malah menceritakan ‘sejarah administrasi’ ke-RT-annya, yaitu anggaran RT. Dia menjabarkan tentang uang yang masuk dan keluar di kas RT. Seperti misalnya anggaran untuk kegiatan 17 Agustusan tersebut.

“Anggaran untuk kegiatan ini, kita mengeluarkan dana sebesar Rp. 5.120.000. Dari kas RT sebesar bla bla bla dan bla bla bla…” begitu kira-kira kata Pak RT. Yah, aku memang tidak mengingat angka-angka yang dia ucapkan. Terlalu banyak angka di sana. Dan ajaibnya, anak-anak peserta upacara dengan fokus menyimak angka-angka itu. Hahaha!

dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_15

Setelah kegiatan upacara selesai, ada pemberian hadiah kenang-kenanganan untuk anak-anak peserta upacara. Ada sekitar empat puluh empat paket yang dibagikan teruntuk anak-anak PAUD, TK, SD dan SMP. Mereka berbaris membawa selembar kertas bertuliskan nama mereka masing-masing, yang kemudian ditukarkan dengan hadiah tersebut.

dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_16

Rangkaian acara 17-an itu tidak berakhir pada upacara bendera saja. Ya, seperti biasanya peringatan hari kemerdekaan, ada acara berbagai macam lomba. Di kesempatan kali itu, aku melihat ada tiga perlombaan. Pertama, lomba makan kerupuk yang diadakan dalam dua sesi, yaitu sesi untuk anak usia balita dan usia SD. Kedua, lomba yang diperuntukkan untuk ibu-ibu, yaitu memasukkan kacang goreng ke dalam botol dengan menggunakan sumpit. Untuk lomba kacang ini, Pak RT berpartisipasi menjadi peserta. Ketiga, lomba main bola dengan botol. Jadi, anak-anak harus menggiring bola dengan menggunakan botol yang digantung tali dan diikat di pinggang.

dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_18 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_19 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_19 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_20 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_21 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_22

Pada lomba yang ketiga, ada kecelakaan di sana. Ketika para pemain sedang saling memperebutkan bola, tak disengaja botol dua pemain saling beradu sehingga menyebabkan botol mereka pecah. Pemain diamankan oleh panitia dan pecahan botol segera disingkirkan. Dengan adanya pengalaman itu, mereka mengganti trik permainan menjadi bermain bola dengan menggunakan topeng berbentuk kerucut.

dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_22dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_23 dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_24

Malam harinya, dengan sumringah, aku menceritakan peristiwa lucu pada upacara itu kepada Zikri melalui ponsel. Dia berkomentar, “Di sini (Pekan Baru), jarang ada upacara warga gitu karena di sini dekat dengan kantor-kantor pemerintahan dan sekolah. Jadi, orang-orang biasanya upacara di sana. Paling, warga itu nunggu lomba-lomba yang diadain sama RT atau RW setempat. Sama halnya dengan waktu kita sekolah, upacara itu dilakukan karena adanya aturan sekolah yang mewajibkan untuk ikut, bukan berdasarkan inisiatif kita sendiri. Nah, di RT 10 itu, ada inisiatif itu. Rasa nasionalisme warga memunculkan keinginan untuk berkumpul bersama untuk upacara bendera 17 Agustus.”

Aku sangat setuju dengan pendapat Zikri. Ya, di sekolah, aku pasti akan dihukum karena tidak mengikuti upacara. Warga RT 10, tidak harus merasakan ketakutan itu. Mereka hadir karena inisiatif itu muncul dari diri mereka sendiri. Ibu-ibu dan bapak-bapak datang karena anak mereka antusias mengikuti upacara. Tapi bukan berarti takut dihukum sama anaknya, yak! Hahaha! Justru mereka ingin membahagiakan anak-anak mereka. Ya, intinya, upacara ini ada karena adanya inisiatif warga itu sendiri.

dariwarga_upacara 17 agustus ala rt 10_25

Dan tentunya, rasa kebanggan itu ingin ditunjukkan seluas-luasnya, dan mungkin salah satu caranya adalah dengan mengunggah ke media sosial sebagaimana yang diserukan oleh Pak RT kepadaku di awal kegiatan ini. Hm… betapa menariknya inisiatif warga. Tetap semangat deh, Pak! Hehehe…!

Lenteng Agung, 27 Agustus 2013

Ageung

Satu pemikiran pada “Upacara 17 Agustus ala RT 10

  1. Sangat Menarik dan Sangat mengharukan saat pengibaran sangsaka merah putih, tapi hal yang sangat Menyedihkan Bendera kebangsaan tidak selamanya Kokoh berdiri, karena dalam kurun waktu berapa hari saja sangsaka merah putih kembali di turunkan dan di simpan. hal itu yg membuat Jiwa kita didak memiliki Pendirian. di ambil dari kutipan lagu kita ” Siapa berani menurunkan engkau serentak rakyatmu membela, sang merah putih yg perwira berkibarlah selama lamanya ” Mungkin pernah kita mendengar lagu ini tetapi tidak kita gubris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s