Proyek Mie Ayam

Latar belakang idenya sederhana saja: kami seringkali bertengkar memperdebatkan harus makan mie ayam yang mana, mau yang dekat tapi rasa pas-pasan, atau yang jauh tapi rasanya memuaskan. Pertengkaran juga sering terjadi dalam memutuskan apakah hari ini makan mie ayam atau tidak.

Proyek Mie Ayam 4

“Baru saja kemarin kita makan mie ayam, sekarang ingin makan lagi?! Lama-lama perut kita bisa rusak!” biasanya aku akan berujar seperti itu.

Tak jarang pula, justru aku yang lupa, sudah berapa lama tidak makan mie ayam. Dan itu membuat Ageung kesal karena salah satu makanan kesukaannya adalah mie ayam.

Jika kau melihat pertengkaran kami soal mie ayam, kau pasti mengira aku sangat membenci mie ayam. Itu tidak sepenuhnya benar. Dulu, waktu aku masih di Pekanbaru, Riau, tetanggaku adalah penjual mie ayam. Mas Kadir, namanya. Setiap akhir pekan, ayahku selalu membeli mie ayam bakso Mas Kadir untuk orang-orang di rumah. Tapi, ibuku mendidik anak-anaknya untuk tidak terlena dengan yang namanya jajan. Jika ayah membeli mie ayam, itu berarti saatnya berpesta untuk makanan mewah. Mewah karena mie ayam adalah menu makanan yang jarang kusentuh. Makan mie ayam sore hari, berarti tak akan makan nasi malam hari.

Kebiasaan ini menjadi salah satu karakterku, dan itu sangat berbeda dengan Ageung, khusus untuk kasus mie ayam ini. Baginya, mie ayam itu adalah jajanan sementara aku melihatnya sebagai ‘makanan serius’. Nah, mungkin kau sudah mulai sedikit mengerti mengapa pertengkaran kami soal mie ayam bisa terjadi. Ini perbedaan prinsip!

Proyek Mie Ayam 3

Aku sering bertanya-tanya, apa karena tak terlalu akrab dengan mie ayam makanya aku tidak tahu apa bedanya mie ayam kampung dengan mie ayam cina? Aku pertama kali mendengar dua istilah itu dari Ageung.

“Nah, kalau ini, nih namanya mie ayam kampung…” Ageung menjelaskan pada suatu hari ketika kami makan mie ayam gerobak di sekitaran UI.

Di mataku, mie ayam yang kumakan saat itu tak ada bedanya dengan mie ayam di Pekanbaru: ada mie, semur ayamnya, pake sayur sawi (yang warnanya ijo-ijo itu), dikasih saus sedikit lebih banyak, tuangkan sedikit air kaldu (kalau mau lebih mewah, bisa pesan dengan bakso urat atau bakso telor plus pangsit), lalu makan menggunakan sumpit.

Akan tetapi Ageung bersikeras bahwa mie ayam itu berbeda dengan mie ayam yang ia makan di Serang bersama Merre. “Itu mie ayam cina,” katanya.

Menurut Ageung, mie ayam kampung memiliki diameter lebih besar, sedangkan mie ayam cina lebih kecil dan pipih; penjual mie ayam kampung biasanya pakai gerobak, sedangkan mie ayam cina bentuk warung dan sajian makanannya lebih mewah, dijual oleh orang Cina, dan biasanya lebih mahal.

“Rasanya?” tanyaku.

“Kalau menurut aku, rasanya gak bisa disamain… enak gak enaknya beda…,” jawab Ageung.

“Sama aja, ah!” kataku datar.

“Kamu, mah semua makanan main enak-enak aja!” kata Ageung menoyor kepalaku.

***

Yang kami percaya dalam melakukan aktivitas di dariwarga ialah keakraban dan kekerabatan sosial menjadi kunci untuk memahami warga dan segala hal yang melingkungi dan mengisinya. Sejauh apa kita bisa melebur dan menyatu dalam kekerabatan itu akan menentukan kualitas pemahaman kita terhadap masyarakat.

Proyek Mie Ayam 2

Tentu saja, aksi mengakrabkan diri itu dibarengi dengan kesadaran, baik sebagai individu maupun publik, yang memiliki arah jelas untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menggelitik rasa penasaran dalam kegiatan sehari-hari. Seperti misalnya, yang seringkali melintas di kepalaku ketika makan mie ayam, “Sudah berapa mangkok mie ayam atau bakso yang terjual hari ini?” atau “Berapa biasanya rata-rata jumlah mangkok yang terjual di setiap warung mie ayam?”

Proyek Mie Ayam 1

Mie ayam merupakan salah satu makanan populer masyarakat kita. Tidak bisa dipukul rata untuk seluruh masyarakat Indonesia, sih! Tapi, paling tidak, aku menyadari ini dari empat tahun merantau ke Jakarta dan sempat ke beberapa kota: mie ayam selalu ada di setiap tempat. Warung mie ayam adalah salah satu ruang pertemuan publik, antara si A dengan para B, antara Keluarga C dengan pasangan D, antara pembeli, penjual, pengamen, yang juga populer, bahkan lokasinya tercantum dalam peta-benak masing-masing penggila mie ayam.

Kau tidak salah jika menganggapku terlalu melebih-lebihkan mie ayam. Dan memang benar, bukan hanya mie ayam, jenis makanan lain pun akan mengalami hal-hal seperti itu serta mengundang pertanyaan-pertanyaan yang sama mengenai warungnya, rasa makanannya, si penjualnya, jumlah mangkok yang terjual, dan sebagainya jika selama orang-orang yang memiliki satu tali keakraban dengan makanan tersebut mau sedikit bertahan di tempat duduknya sembari berpikir untuk menjawab pertanyaan, “Sebenarnya apa, sih yang sedang kumakan sekarang ini?”

Dari sekian banyak makanan yang lezat-lezat itu, kami memilih mie ayam sebagai salah satu proyek untuk memahami dinamika kehidupan masyarakat di Parungkuda. Mengapa? Aku tak perlu mengulang cerita tentang pertengkaran soal mie ayam itu, kan?! Sederhananya, kami ingin membuat pertengkaran ini menjadi permainan yang seru, asik, dan menggembirakan.

Kami ingin tahu ada berapa banyak warung mie ayam yang bisa kami jelajahi di Parungkuda. Kami ingin tahu dari mana saja para penjual mie ayam itu berasal. Kami ingin tahu, berapa mangkok mie ayam yang bisa mereka jual dalam sehari. Kami ingin tahu, apa lagi menu makanan yang mereka jual selain mie ayam. Kami ingin tahu alasan mengapa mereka memilih menjadi pedagang mie ayam. Kami ingin tahu mengapa orang-orang memilih makan mie ayam di warung itu. Kami ingin tahu bagaimana pendapat orang lain mengenai cita rasa mie ayam yang mereka makan. Kami ingin tahu… kami ingin tahu… kami ingin tahu…

***

Cara melakukannya, juga sederhana. Awalnya kami berpikir akan melakukan wawancara mendalam dengan seorang penjual dan beberapa orang pembeli. Ternyata itu tak mudah dan makan banyak waktu. Lagi pula, cara seperti itu akan menyebabkan kami berpatok pada satu dua warung mie ayam saja.

Proyek Mie Ayam 7

Jadi, kami memutuskan untuk menggunakan semacam instrumen berupa angket/kuesioner, berisikan daftar beberapa pertanyaan terbuka dan tertutup, yang menjadi panduan kami untuk menanyakan beberapa hal kepada si penjual mie ayam dan beberapa orang pembelinya. Cara ini lebih mudah dan lebih terpola (sebab, kami akan menanyakan pertanyaan yang sama kepada puluhan orang yang ingin kami pilih). Kami tidak meminta si responden untuk mengisi sendiri. Justru, kami mengajaknya untuk berbincang, sembari menanyakan pertanyaan-pertanyaan penting, lalu mencantumkan inti jawaban mereka ke dalam kuesioner yang kami pegang (tentu saja, selain mencatat jawaban mereka, kami juga merekam perbincangan yang berlangsung).

Pada setiap kuesioner, kami membawa surat permintaan izin kepada si penjual mie ayam agar warung atau tempat usahanya kami liput dan kami tulis. Setelah si penjual mie ayam memahami maksud dari proyek yang kami lakukan, lalu membubuhkan tandatangan persetujuannya untuk mau berpartisipasi, kami biasanya akan memulai obrolan dengan bertanya, “Boleh kami rekam gak, Pak?”

Dan bagaimana supaya proses wawancara ini berjalan dengan santai dan lancar? Kami melakukan berbagai trik untuk menghilangkan ketegangan si responden, seperti misalnya meminta foto bersama. Ada banyak cara, sebenarnya, tapi foto bersama adalah salah satu cara yang paling ampuh supaya si penjual mau lebih terbuka dan membangun keakraban dengan kami.

Kami menandai setiap kuesioner yang sudah terisi sesuai dengan urutan data dan tanggal, dan juga nama orang yang melakukan riset di lapangan. Data-data dari kuesioner ini lah yang nanti akan menjadi bahan utama untuk menganalisa persoalan-persoalan yang kami temukan selama makan mie ayam di beberapa warung. Tidak ada batasan waktu dan jumlah. Kami akan mengumpulkan sebanyak-banyaknya, dan meyakini akan dapat membaca dan membahas sebuah persoalan tertentu dari pola pertanyaan yang kami ajukan kepada sekian banyak penjual mie ayam di Parungkuda, baik yang berhubungan dengan sejarah si penjual dan warungnya, isu-isu di sekitar lokasi, tanggapan publik konsumen mie ayam, fluktuasi harga pasar, maupun yang lainnya yang bisa jadi tak pernah diduga sebelumnya.

***

“Terus ini nanti untuk apa?” tanya Pak Suhardi, responden pertama yang warung mie ayamnya kami datangi kemarin. Pertanyaan yang sama juga muncul dari salah seorang pegawai di warung mie ayam Mas Darmo.

“Kami akan membuat karya tulis dan memuatnya di dalam webblog bernama dariwarga, Pak!” kami menjawab dengan penuh semangat. “Kalau sudah terkumpul banyak, kami berencana akan membuat karya buku.”

“Untuk dijual?”

“Enggak, Pak! Bukunya, ya sebagai karya saja, semacam karya seni gitu, deh, Pak! Yang pasti bukan untuk dijual. Ini seperti penelitian, gitu.”

Mereka hanya mengangguk atau berseru, “Oh…!” sambil tetap sibuk menyiapkan beberapa mangkok mie ayam untuk para pembeli yang sudah menunggu di meja makan warung.

Ya, seperti proyek [cetak]dariwarga sebelumnya, Bagian Kampung Sawah, Proyek Mie Ayam ini pun kami rencanakan akan menghasilkan output berupa buku yang dicetak sendiri tanpa embel-embel komersil. Tujuannya? Apakah aku harus menjelaskan lagi apa pentingnya aksi dokumentasi dan mengelola arsip? Kami hanya tak mau menambah masalah di masa depan. Jika suatu saat nanti sudah tak ada orang yang menjual mie ayam, melalui aksi kecil ini, paling tidak kami berharap ada sumber tulisan yang bisa kita baca kembali.

***

“Kalau dicetak, nge-print foto-fotonya bikin mahal!” ujarku suatu hari kepada Ageung. “Soalnya warna semua.”

“Ya, tinggal dibikin gak berwarna aja!” kata Ageung datar. “Yang penting, kan nilai informasinya. Selama sudut ambilan gambarnya bagus, fotonya pasti bagus. Cetak hitam putih juga gak masalah, kan?”

Masalahnya, terkadang foto berwarna jika dicetak menjadi hitam putih, hasilnya tak sebagus yang dibayangkan. Kami lantas berpikir, bagaimana jika sedari awal mengerjakan proyek ini, teknologi kamera foto yang kami gunakan sengaja diatur untuk mengambil gambar dengan efek hitam-putih? Apa salahnya jika ‘mengharuskan’ teknologi kamera berwarna mengambil gambar hitam-putih?

Proyek Mie Ayam 6

Tak ada landasan dan latarbelakang atau alasan estetika atau teori fotografi dalam hal ini. Alasan kami mengambil gambar dengan efek warna hitam putih hanyalah strategi berkarya tanpa mengurangi nilai informatif dari objek yang akan kami tangkap. Memang benar, warna adalah salah satu unsur informasi yang penting dalam fotografi dan dunia jurnalisme. Tapi, bereksperimen dengan mencari unsur lain selain warna (misalnya, lebih menekankan bentuk objek atau peristiwa massa) yang bisa dijadikan esensi keindahan dan informasi di dalam karya foto, merupakan pilihan yang tak kalah menarik. Dengan kata lain, warna hitam putih yang kami sajikan ini bukan karena ingin mendramatisir objek, melainkan alasan kemudahan.

***

“Bagaimana itu kisahnya tentang mie ayam…?” tiba-tiba Aliet, adiknya Ageung yang berada di Balikpapan, Kalimantan Timur, bertanya melalui facebook. Tak lama kemudian, ia menghubungi melalui ponsel dan bertanya lebih jauh.

Aku menjelaskan Proyek Mie Ayam kepada Aliet, dan cara-cara melakukannya. “Mungkin kamu bisa juga meriset mie ayam-mie ayam yang ada di sana,” kataku.

Aliet menyambut ide proyek ini dengan antusias. “Siiiiiippp…. udah nggak terlalu repot urusan TK… mari mie ayaaaaaaamm…!” serunya di Halaman Facebook Blog Dariwarga.

Dengan ikut sertanya Aliet, proyek ini akan mendapat dua sumber data. Pertama data tentang mie ayam-mie ayam di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, dan kedua tentang mie ayam-mie ayam yang ada di Balikpapan. Berdasarkan dengan gagasan awal yang dikatakan Ageung, dariwarga tidak mengharuskan wilayah tertentu.

“Dari mana saja boleh,” kata Ageung. “Mengapa lebih banyak membahas Parungkuda, ya karena aku orang Parungkuda. Tapi masih ada banyak ‘dariwarga-dariwarga’ lain di tempat lain, yang bisa melakukan hal yang sama.”

Jadi, proyek mie ayam ini, kemungkinan besar dilakukan di dua tempat tersebut. Aliet akan mengumpulkan data mengenai mie ayam di Balikpapan semampunya. Data darinya itu akan menjadi pengayaan informasi dan membantu meluaskan cakrawala pembacaan dariwarga tentang fenomena mie ayam, seperti misalnya melihat perbandingan antara Parungkuda dan Balikpapan yang terpisah oleh laut. Selama tentang mie ayam dari-warga-untuk-warga-oleh-warga, proyek ini bisa berjalan.

***

Proyek Mie Ayam 8

Sekian dulu pengantar mengenai Proyek Mie Ayam yang sedang dilakukan oleh dariwarga. Kami berharap proyek ini berhasil rampung dan menambah kekayaan intelektual di ranah pengetahuan jurnalisme warga.

“Makan mie ayam di mana kita sekarang?” tanyaku kepada Ageung seraya mematikan laptop dan bergegas ke luar rumah untuk membantunya riset lapangan. #asyek

***

Foto-foto diambil dari instagram Ageung. Follow instagramnya: dianageung

Parungkuda, 1 September 2013

Zikri

8 pemikiran pada “Proyek Mie Ayam

  1. saya berminat ikut bantuin project ini..
    Kebetulan saya punya usaha Mie Ayam Sehat Warna-Warni “WASEGI”
    Counternya di Foodcourt Yogya Sukabumi Lantai 3.
    Kapan-kapan kita bisa sharing mengenai mie ayam ya…
    sambil nyicipin mie ayam saya..

    1. Terimakasih atas kunjungannya ke blog kami, Kang Endud Badrudin.
      Wah, di Kota Sukabumi, ya? Hm… sepertinya menarik dan kami penasaran ingin mencoba mie ayam WASEGI. Kami pasti akan menyempatkan diri berkunjung dan berbincang-bincang dengan Kang Endud.

      Salam,
      dariwarga.😀

      1. lokasinya di Yogya Toserba Jl. Martadinata Kota Sukabumi
        foodcourt-nya terletak di lantai 3.
        Posisi Konter Mie Ayam Wasegi berada di bagian ujung sebelah selatan atau sejajar dengan lokasi lift, dekat dengan kassa (kasir) juga…

      2. Menarik sekali idenya teh ageung… ditunggu kelanjutan project jurnalisme tentang mi ayamnya..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s