Mie Ayam dan Bakso FOKUS

Biasanya, kalau sudah harus membawa kuesioner ke suatu tempat dan menemui seorang responden, saya akan merasa canggung tingkat tinggi. Tapi, kalau tidak dilakukan, bagaimana mungkin proyek ini bisa jalan. Rencana ini sudah lama tertunda, dan saya harus membawa kabar baik dan hasil yang memuaskan kepada teman-teman dariwarga bahwa kuesioner yang kami rancang itu reliable dan layak digunakan.

Lokasi warung Mie Ayam dan Bakso FOKUS, milik Pak Suhardi
Lokasi warung Mie Ayam dan Bakso FOKUS, milik Pak Suhardi

Warung mie ayam yang saya datangi pada siang hari, sekitar pukul dua belas itu, tidak begitu ramai. Ada dua orang yang sedang makan mie ayam bakso di sana. Warung tersebut menyempil di antara ruko-ruko yang berjejer di belakang Stasiun Parungkuda. Antara warung itu dan stasiun, melintas jalan aspal, bernama Jalan Raya Pakuwon.

Nama warung mie ayam yang dimiliki dan dikelola oleh Pak Suhardi itu bernama Mie Ayam dan Bakso FOKUS (pakai huruf kapital). Baru saja saya akan memesan semangkok mie ayam, saya mendengar Pak Suhardi berseru, “Gak apa-apa, A… santai saja!” Dia berbicara kepada seorang pembeli yang meminta waktu sejenak untuk membeli rokok, tapi belum akan membayar. Sepertinya, Pak Suhardi melayani pelanggannya dengan memberikan keramahan yang total.

Ketika mie ayam saya jadi, Pak Suhardi berkat, “Nih, saya kasih ati ayam, bonus. Silahkan…!”

Tapi saya tak suka hati ayam. Isi mangkok di hadapan saya ludes semua dalam sekejap, kecuali hati ayamnya. Dan selama proses makan mie ayam itu, saya mengambil gambar sana-sini menggunakan kamera digital yang saya bawa.

Pak Suhardi melayani pembeli.
Pak Suhardi melayani pembeli.

“Pak, saya sebenarnya sedang mengerjakan penelitian, nih,” kata saya memulai perbincangan sembari membayar mie ayam yang saya pesan. “Saya dan teman-teman ingin menulis cerita tentang mie ayam. Warung mie ayam Bapak rencananya mau saya tulis juga. Kira-kira bisa gak, Pak?”

Pak Suhardi melihat saya dengan tatapan penuh tanya, kemudian melirik kamera dan kertas yang saya bawa. Kebetulan, ketika saya memulai obrolan itu, tidak ada seorang pun pembeli yang singgah dan makan di warung. Pak Suhardi lalu duduk di salah satu bangku, dan bertanya, “Maksud dan tujuannya untuk apa?”

“Ya, buat ditulis aja, Pak.”

“Terus ini untuk apa?” Pak Suhardi bertanya lagi.

“Kami akan membuat karya tulis dan memuatnya di dalam webblog bernama dariwarga, Pak!” saya menjelaskan. “Rencananya kami akan mendatangi sekitar seratus penjual mie ayam di Parungkuda. Kalau sudah terkumpul banyak, kami berencana akan membuat karya buku.”

Pak Suhardi tampak cukup mengerti dengan maksud saya. Tanpa perlu bertanya dengan basa-basi ke sana ke mari, Pak Suhardi berbicara banyak mengenai nasib para pedagang kecil. Tak lupa, dia juga mengutarakan pendapatnya tentang strategi memulai usaha warung, seperti mie ayam.

“Sekarang sudah gampang,” ujarnya. “bisa pinjam modal ke bank, lalu sedikit demi sedikit dicicil. Yang penting kejujuran aja, Mas. Situ kalau usaha tidak jujur dan tidak punya tekad, gak akan pernah bisa jalan.”

“Oke, oke, sebentar, Pak!” kata saya menahan kata-katanya. “Sebenarnya saya punya beberapa pertanyaan yang bisa dijawab dulu, misalnya mengenai warung ini, Pak. Bagaimana ceritanya dulu ketika Bapak memulai usaha mie ayam.”

Bapak yang berasal dari Karanganyar ini menjelaskan bahwa dia dulu sempat berpindah-pindah kerja. Bahkan, dia juga sempat bekerja di pabrik. Lalu, dia merantau dan akhirnya memutuskan berusaha sendiri. Sejak tahun 1997, dia memulai usaha mie ayam. Dulunya, dia berjualan mie ayam menggunakan gerobak yang disewa dengan sistem setoran sebesar Rp 300,- setiap harinya. Setelah memiliki uang yang cukup, dia memutuskan membuka warung sendiri dengan modal Rp 300 ribu (jika sekarang, sekitar Rp 3 juta). Sejak lima atau tujuh tahun yang lalu, Pak Suhardi membuka warung di dekat Stasiun Parungkuda meskipun dia tidak tinggal di daerah itu.

“Saya sendiri tinggal di sana, dekat sekolah YPI (Yayasan Pendidikan Islam),” katanya. Setelah mengkonfirmasi pada Ageung, sekolah yang dimaksud berada di Jalan Raya Pakuwon, sebelum pertigaan Angkrong.

Di tengah-tengah perbincangan kami, seorang pembeli datang. Anak muda seumuran mahasiswa. Melihat saya yang membawa kamera, kertas, dan sibuk menulis (dan juga sepertinya dia mendengar perbincangan kami), dia tersenyum.

Usman, salah seorang langganan Pak Suhardi, sedang membayar mi ayam.
Usman, salah seorang langganan Pak Suhardi, sedang membayar mi ayam.

Saya menghampiri pemuda itu ketika Pak Suhardi menyiapkan menu pesanannnya. Saya mengutarakan maksud mengenai penelitian yang sedang dariwarga kerjakan, dan memintanya untuk menjawab beberapa pertanyaan dari saya. Tak terlalu sulit, si pemuda yang mengaku bernama Usman ini menjawab semua pertanyaan saya.

“Mahasiswa, ya A?” tanyanya.

“Iya,” jawab saya tersenyum, sementara Usman mengangguk-angguk tanda mengerti kegiatan yang sedang saya lakukan.

Tak lama kemudian, pembeli yang lain datang. Pasangan suami isteri beserta seorang anak perempuan mereka. Mereka juga menjadi target responden yang saya tanyai mengenai pendapat mereka tentang warung mie ayam. Berbeda dengan Usman yang sudah sering makan mie ayam di warung FOKUS, Rudi dan istrinya, responden kedua yang saya tanyai itu, baru pertama kali makan di sana.

Rudi dan keluarga (pembeli yang baru pertama kali makan mi ayam Pak Suhardi).
Rudi dan keluarga (pembeli yang baru pertama kali makan mi ayam Pak Suhardi).

“Menurut saya harga mie ayam bakso di sini lebih masuk akal, ya,” kata Rudi. “Rasanya juga pas. Gak seperti yang di Pasar Parungkuda itu, lebih mahal, di sini cuma tujuh ribu.” Saya menanyakan warung mie ayam di Pasar Parungkuda yang dia maksud (tentunya nama warung itu tak akan saya sebutkan di sini). Harganya lebih mahal dua ribu rupiah dibandingkan Mie Ayam dan Bakso FOKUS.

Beberapa menit kemudian, saya kembali menghammpiri Pak Suhardi yang sedang sibuk menyiapkan mie ayam (ketika itu, warung sudah lebih ramai dari sebelumnya.

“Pendapat Bapak mengenai harga sembako di pasar gimana, Pak?” tanya saya.

Pak Suhardi kemudian menjawabnya dengan menggebu-gebu. Tak henti-hentinya dia mencela pemerintah yang tak bisa mengatur stabilitas harga. Selain itu, dia juga menyalahkan oknum-oknum yang memanfaatkan setiap kesempatan.

“Coba bayangkan, masa harga bawang merah segini aja bisa mahal, enam puluh ribu sekilo, tapi cuman begini,” kata Pak Suhardi seraya memperlihatkan sebungkus bawang goreng kepada saya. “Apalagi namanya kalau bukan oplosan?!”

Pak Suhardi mengakui bahwa bahan-bahan yang dia pergunakan untuk meramu mie ayamnya memang didapat dengan membeli di Pasar Parungkuda. Dengan modal sekitar Rp 1,4 juga seharinya, dia membeli bahan-bahan seperti mie, sayuran, bumbu, dan daging (yang digiling sendiri hingga menjadi bakso). Pak Suhardi mengatakan bahwa mie ayam baksonya memiliki resep rahasia, tetapi ia enggan membocorkannya. Biasanya, dia bisa menjual 150 hingga 200 mangkok sehari, dari mulai buka warung pukul delapan atau sembilan pagi, dan tutup pada pukul delapan atau sembilan malam.

Bapak yang logat Jawa-nya masih kental ini juga mnceritakan bahwa alasannya membuka warung mie ayam sendiri adalah karena tak suka bekerja sebagai buruh.

“Bekerja disuruh-suruh itu bertentangan dengna hati nurani saya, sebenarnya,” kata Pak Suhardi. “Kalau usaha sendiri, lebih bebas, lebih merdeka. Beginilah kerja swasta, resiko dan untungnya ditanggung sendiri.”

Pak Suhardi menandatangani persetujuan mendukung penelitian dariwarga.
Pak Suhardi menandatangani persetujuan mendukung penelitian dariwarga.

Di akhir perbincangan kami, saya memperlihatkan kuesioner yang sepanjang obrolan saya isi. Saya meminta Pak Suhardi untuk membaca pengantar dan surat persetujuan untuknya supaya memberi izin kepada saya untuk menulis tentang usaha mie ayamnya. Pak Suhardi tertawa, kemudian meminta pulpen saya dan langsung menandatangani surat tersebut.

Sepertinya, setelah membaca kuesioner yang saya bawa (beserta dengan pertanyaan-pertanyaannya), dia merasa lebih percaya bahwa saya adalah mahasiswa. Oleh karenanya, perbincangan kami tidak berhenti sampai di daftar pertanyaan saja. Tanpa saya tanya, Pak Suhardi lagi-lagi mengeluarkan pendapat dengan menggebu-gebu. Dia menyarankan, pemuda-pemuda seperti saya yang suka menulis harus merekrut orang banyak, mengajak kerja sama berbagai institusi pendidikan (dia mengatakan salah satunya Institut Pertanian Bogor), untuk melakukan banyak penelitian.

“Supaya Republik ini juga bisa produksi sendiri, produksi gandum, bisa ekspor ke luar negeri. Jangan hanya bisa ekspor tenaga kuli saja!” kira-kira begitulah pesan Pak Suhardi di akhir obrolan kami.

Zikri berfoto bersama Pak Suhardi.
Zikri berfoto bersama Pak Suhardi.

Setelah puas berbincang dengannya, saya memutuskan pulang ke rumah Ageung, dan berencana akan melakukan riset ke warung mie ayam lainnya yang tak berjarak jauh dengan warung mie ayam FOKUS.

Parungkuda, 1 September 2013

Zikri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s