Mie Ayam dan Bakso Mas Darmo

“Dibacain aja, saya gak bisa baca!” seru Mas Darmo pemilik warung Mie Ayam Bakso Mas Darmo, ketika aku menyodorkan lembaran kertas berisi beberapa pertanyaan tentang warung mie ayam.

Lokasi warung mie ayam Pak Darmo.
Lokasi warung mie ayam Mas Darmo.

Dalam beberapa waktu ke depan, aku bersama Zikri dan Aliet akan menjalani sebuah proyek bernama Mie Ayam. Aku akan berkeliling Parungkuda mencari warung mie ayam. Rencananya, Zikri juga akan mencari di sekitaran Depok dan Jakarta, sedangkan Aliet di daerah Balikpapan, Kalimantan Timur.

Nah, pada hari Sabtu kemarin, aku bersama Zikri untuk pertama kalinya turun ke lapangan. Bertempat di Jalan Raya Pakuwon, Parungkuda, Sukabumi, atau lebih tepatnya, di dekat Stasiun Parungkuda. Di sebelah kanan jalan menuju Pakuwon, terdapatlah sebuah warung mie ayam, bernama Mie Ayam dan Bakso Mas Darmo. Bila kita bertanya kepada warga sekitar Stasiun Parungkuda tentang bakso yang enak, mereka akan langsung menjawab “Mas Darmo!”

Warung Mie Ayam dan Bakso Mas Darmo.
Warung Mie Ayam dan Bakso Mas Darmo.

Senja, Jalan Raya Pakuwon cukup ramai, karena jalan itu merupakan salah satu jalan yang dilalui oleh para buruh pabrik pulang kerja. Suara motor terdengar ke sana ke mari, “Brrreeemmm… brrreeemmmm…” Cukup bising suasana di jalan raya itu.

Ageung sedang makan mie ayam Mas Darmo.
Ageung sedang makan mie ayam Mas Darmo.

Bakso Mas Darmo sudah ada sejak aku kecil, sekitar tahun 1995an. Dari mulai harga sebesar Rp. 250,- per mangkok hingga sekarang tahun 2013, setelah mengalami beberapa kenaikan harga BBM dan sembako, menjadi Rp. 7.000,- per mangkoknya. Mas Darmo memang sudah terkenal sejak dulu. Aku bisa bilang begitu karena rumahku cukup dekat dengan warungnya sehingga secara tidak langsung aku memantau perkembangannya. Dari warung yang berukuran sempit, kira-kira bisa menampung sekitar 10 pelanggan, hingga sekarang dia memperluas warungnya. Karena alasan perluasan itulah, dia menambah menu dagangannya, mie ayam.

Dan sepertinya, karena ada mie ayam ini, warungnya menjadi tambah ramai. Sekarang pun dia memiliki dua pegawai yang membantunya berdagang.

Suasana di warung Mas Darmo.
Suasana di warung Mas Darmo.
Suasana di warung Mas Darmo.
Suasana di warung Mas Darmo.

Aku dan Zikri membagi tugas. Aku kebagian tugas sebagai pewawancara, sedangkan Zikri sebagai pendokumentasi. Sebelum mulai wawancara saja, Zikri sudah ke sana ke mari memotret sehingga, menurutku, menarik perhatian orang-orang yang ada di warung itu.

 “Pegawainya siapa namanya, Mas?” tanyaku.

“Jedol..”

“Jetol?”

“J.. E.. D.. O.. L..”

“Oh, Jedol?” kataku mengulangi ejaan Mas Darmo. “Wah, ternyata dia bisa baca, loh! Katanya gak bisa baca… Hahaha!” aku berujar di dalam hati.

Sebelum bertemu Mas Darmo, kami sempat mengajak seseorang di warung itu untuk diwawancara, namanya Joko. Aku mendapat kesan bahwa ada perasaan takut dari adik Mas Darmo itu ketika kami mengajaknya berbincang. Mungkin, adiknya gerogi karena kami membawa kamera dan kertas. Kemudian dia menyuruh kami untuk ngobrol langsung dengan Mas Darmonya sendiri. Ternyata, Mas Darmo sangat santai menghadapi kami meskipun pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan dijawab dengan seadanya. Sikap Mas Darmo itu yang malah membuatku jadi gerogi. Jadi, ya, perbincangan kami jadinya terkesan tek-tok.

Aku pun bertanya-tanya dalam hati, “Lah, sama tetangga kenapa jadi gerogi gini? Padahal, biasanya lancar waktu di Jakarta?”

Aku merasakan adanya jarak dengan Mas Darmo dibandingkan dengan Pak Juanda, seorang Ketua RT di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Aku bisa dengan santainya ngobrol ngalor ngidul dengan Pak RT. Hal ini membuatku berpikir kembali tentang bagaimana silaturahmi yang terbangun selama 18 tahun ini antara aku dan Mas Darmo. Akhirnya, aku menyadari hubungan itu, bahwa hanya sebatas hubungan antara pedagang dan pembeli. Dapat dikatakan, aku tidak terlalu akrab dengan lingkunganku sendiri.

Tapi bukankah tidak ada kata terlambat. Aku bisa bisa memulainya dengan proyek mie ayam ini. Proyek ini menciptakan hubungan lain antara aku dan Mas Darmo.

Ageung berfoto bersama Mas Darmo.
Ageung berfoto bersama Mas Darmo.

Untuk lebih mencairkan suasana, aku meminta foto bersama dengan Mas Darmo.

“Itu, pacarnya gak cemburu? Hahaha!” jail Mas Darmo.

“Nggak, kok, Mas,” jawab Zikri.

Gak usah cemburu, saya tahu dia dari kecil,” kata Mas Darmo, dan… “Klik!” berfotolah kami.

Ageung berbincang dengan dua orang pembeli di warung mie ayam Mas Darmo.
Ageung berbincang dengan dua orang pembeli di warung mie ayam Mas Darmo.

Selain mewawancarai Mas Darmo sebagai pemilik warung Mie Ayam Bakso Mas Darmo, kami pun mewawancarai pelanggan. Sepasang suami istri, Taufik dan Tessy, adalah pembeli terpilih yang kami tanyai. Mereka adalah salah satu dari sekian banyak pelanggan Mas Darmo. Memulai perkenalan dengan warung ini dengan kebetulan lewat kemudian mampir, hingga sekarang mereka menjadi pelanggan setia.

“Susah nyari bakso enak di sini,” ujar Taufik. “Cuma ada dua, yang di sini dan yang di Lapang (sebuah lokasi di daerah Babakan Pendeuy).”

Sayangnya, hanya mereka berdua yang bisa kami wawancara. Yang lain enggan untuk ditanyai. Seperti Mas Joko, tampaknya ada rasa takut dalam diri mereka untuk menghadapi kamera (“Gara-gara Zikri, nih! Main jepret jepret tanpa permisi!” gerutuku dalam hati. Hahaha!).

Demikian catatan harian kami mengenai mie ayam. Lain waktu, kami akan memuat kabar terbaru mengenai proyek ini, dengan subjek atau narasumber serta lokasi warung mie ayam yang berbeda, tentunya. Selamat makan! Nyam nyam nyam!

Parungkuda, dini hari, 2 September 2013

Ageung

Satu pemikiran pada “Mie Ayam dan Bakso Mas Darmo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s