Mie Ayam SUROBOYO

Warung Mie Ayam SUROBOYO.
Warung Mie Ayam SUROBOYO.

“Makan mie ayamkah kita, Mbak?” tanyaku pada Mbak Eka dan Mbak Retno.

“Ayo, mie ayam mana? Aku sekalian mau cari kue ulang tahun,” Mbak Eka langsung semangat menanggapi ajakanku.

Gak bisa aku. Ada seminar nanti jam dua. Sampai malam taulah…” kata Mbak Retno (“Yaaah, Mbak Retno gak bisa ikut,” keluhku dalam hati).

“Ya, sudah! Gak usah pergi aja. Gimana kalau jumat aja?”

“Yah, Mbak, keburu ngeces aku. Sudah dari Hari Jumat yang lalu, kita gak jadi makan mie ayam.”

Denah lokasi Warung Mie Ayam SUROBOYO.
Denah lokasi Warung Mie Ayam SUROBOYO.

Sepulang sekolah, kami berangkat tanpa Mbak Retno. Sebenarnya, sih tadinya kami tidak jadi pergi makan mie ayam. Aku hanya mengantar Mbak Eka pergi mencari kue. Tapi di perjalanan, Mbak Eka mengajakku makan. Dia tahu, di sekolah aku tidak ikut makan karena memang sudah berniat mau makan mie ayam.

Selesai membeli kue, dengan semangatnya aku menuju warung pangsit mie ayam + bakso SUROBOYO. Meskipun lokasi warungnya masuk ke dalam gang, cukup mudah bagiku untuk menemukannya. Patokannya, di Jalan Jendral Sudirman, gangnya terletak di antara Gedung BRI dan Mesjid Agung At-Taqwa.

Suasana di dalam warung Mie Ayam SUROBOYO.
Suasana di dalam warung Mie Ayam SUROBOYO.

Wah, warungnya ramai! Kami sampai tidak kebagian kursi. Mbak Eka sempat mengajakku makan di tempat lain, tetapi aku meminta agar kamu mau menunggu sebentar lagi saja. Lagi pula, ada yang sudah mau selesai makan, kok! Sekitar lima menit, kami menunggu dan akhirnya kebagian kursi juga. Saat itu, ada banyak karyawan yang sedang makan siang di sana. Sambil menunggu, aku sempat jepret-jepret menggunakan kamera ponselku dan beberapa orang mulai melirik ke arah kami.

Si mas pnjual mi ayam sedang meracik mie ayam.
Si mas pnjual mi ayam sedang meracik mie ayam.

Biasanya orang yang berjualan di tempati adalah bapak-bapak. Aku biasa memanggilnya Pak Lek. Akan tetapi sudah beberapa bulan ini, orang yang menjualnya adalah mas-mas, dan sekarang malah ada ibu-ibu. Ibu yang kumaksud itu sibuk mondar-mandir mengantar pesanan. Kalau aku perhatikan, ibu ini tugasnya khusus untuk membuatkan minum dan mengantar pesanan. Sedangkan mas-mas yang ternyata keponakan si ibu, tugasnya adalah meracik mie ayam.

“Mas, mie ayamnya dua, yang satu setengah porsi aja!” Mbak Eka mulai memesan.

“Loh, Mbak Eka katanya mau pesan minum aja, kan tadi sudah makan di TK!” kataku, sementara Mbak Eka malah senyum-senyum saja menanggapi olokanku.

“Kan cuma setengah porsi?! Gak apa-apa lah…” katanya. Aku maklum, lagi pula siapa, sih yang bisa tahan dari godaan mie ayam.

Mas penjual mie ayam yang enggan disebut namanya (tapi tak enggan difoto).
Mas penjual mie ayam yang enggan disebut namanya (tapi tak enggan difoto).

Saat kami duduk, pelanggan yang tadinya memenuhi warung sudah mulai selesai makan. Waktu jam makan siang sudah hampir habis. Padahal, aku belum sempat mewawancarai salah satu dari mereka. Baiklah, tidak apa-apa! Masih ada ibu dan mas penjualannya.

Catatan lapangan Alit mengenai Mie Ayam SUROBOYO.
Catatan lapangan Alit mengenai Mie Ayam SUROBOYO.

Aku sempat menanyakan nama keduanya. Tapi bukannya menjawab, mereka malah senyum-senyum. Ya, apalah arti sebuah nama?! Yang penting, aku dikasih izin sama ibunya buat nanya-nanya. Karena Zikri, yang biasa kupanggil Uda, belum mengirimkan daftar pertanyaan yang dijadikan bahan wawancara, jadi aku pakai pertanyaan darurat dan catatan darurat.

Ternyata, Pak Lek yang biasanya melayani pesanan pelanggan itu adalah saudara dari suaminya ibu penjual mie ayam yang sedang kuajak ngobrol, dan sekarang dia sedang pulang kampung. Ibunya tetap tidak mau menyebutkan nama. Saat kutanya tahun berapa ia mulai berjualan, ibunya sempat bingung, lalu dia menjawab, “Mungkin sudah sekitar sepuluh tahun yang lalu.”

Catatan lainnya yang kudapat adalah meskipun ibu dan bapak pemilik warung ini bukan asli orang Surabaya, kota asal mereka bertetangga dengan Surabaya, yaitu sang ibu dari Jombang, dan sang bapak dari Pacuan (Malang). Mie Ayam + Bakso Suroboyo ini mereka buat sendiri, alias tidak beli mie yang sudah jadi dari pabrik mie.

Sajian mie ayam SUROBOYO.
Sajian mie ayam SUROBOYO.

Siang itu, ada yang kurang rasanya. Kekuarangan itu juga dirasakan oleh Mbak Eka dan langsung di tanyakan kepada si ibu. Dan ternyata, pangsitnya tidak ada. Wah, padahal itu bagian penting dari rasa!

“Pak Dhe yang buat pangsit sedang sakit, jadi kerupuk dan pangsitnya tidak ada,” kata si ibu.

Biasanya, dalam semangkuk mie ayam ini terdapat pangsit basah (bakwan), mie suroboyo, acar, bawang goreng dan suwiran ayam (bukan semur ayam). Jangan lupa pentolan!!! Di Balikpapan, biasanya bakso yang ukurannya kecil-kecil di sebut pentolan. Lalu, tinggal kita tambahkan sambel, saus, dan kecap sesuai selera. Di warung mie ayam ini, juga disediakan cabe rawit utuh. Nah, cocok, tuh buat penggemar pedas!

Saat aku membayar mie ayam, datang seorang pelanggan yang kelihatannya ramah. Dan ternyata memang beneran ramah, meskipun si pelanggan yang merupakan seorang ibu itu sedikit pemalu (Ia juga tidak mau menyebutkan nama dan difoto). Pelanggan yang baru tiba ini adalah seorang guru TK juga, sama sepertiku. Ibu ini cukup sering makan di warung Mie Ayam Suroboyo karena lokasinya searah dengan rute ke pasar. Setiap pulang mengajar, biasanya ibu ini pergi ke Pasar Klandasan dan kadang mampir ke warung mie ayam.

“Rasanya pas untuk kelas ekonomi makanya sering kemari,” katanya. “Tapi tempatnya kurang luas…tapi unik, sih!”

Nah, aku tidak tahu, tuh uniknya sebelah mana. Yang aku tahu, rasanya enak dan menurutku harganya cukup murah, yakni seharga Rp. 11.000/porsi dan Rp.7.000/setengah porsi. Dengan ibu itu, aku juga sempat berbincang-bincang tentang per-TK-an.

Para pelanggan sedang memesan dan membayar mie ayam.
Para pelanggan sedang memesan dan membayar mie ayam.

Saat asik berbincang-bincang dengan si ibu guru TK, aku kehilangan Ibu penjual mie ayam. Si mas penjual mie ayam mengatakan bahwa ibunya sedang sholat dulu di Mesjid Agung At-Taqwa. Padahal, masih ada pertanyaan yang ingin aku ajukan. Ya, sudahlah! Mungkin lain kali saja. Cukup sekian dulu untuk Mie Ayam Suroboyo-nya, ya. Sampai jumpa di kisah mie ayam selanjutnya. Selamat makan mie ayam.😉

Balikpapan, 2 September 2013

Aliet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s