1056

Zikri iseng browsing di internet menelusuri laman-laman blog yang pernah kami buat bersama (Ageung, Zikri dan Merre). Nama blog itu lewatjamenam.blgospot.com. Dan satu artikel menarik ditemukan, sebuah tulisan yang bercerita tentang pengalaman kehilangan handphone di taksi, dan keajaiban si Bodas yang memiliki ingatan fotografis. Silahkan dibaca…!😀

——————————————————————————————————————————-

dariwarga_gambar bodas-taksi_01

Pada Hari Rabu, tanggal 31 Mei 2011, pukul 14.00 WIB, aku pergi menjemput ponakanku, Bodas, yang bersekolah di daerah Cibubur. Dari Lenteng Agung aku menaiki angkot berwarna biru, bernomor 129 jurusan Pasar Minggu–Pal (Depok). Perjalanan waktu itu cukup macet, ditambah lagi angkotnya sering berhenti untuk menunggu penumpang lain.

Akhirnya, sekitar pukul 14.40, sampailah aku di Pal, tepat di depan Rumah Sakit Tugu. Perjalanku belum selesai sampai di Pal, aku masih harus menaiki angkutan untuk sampai di sekolah Bodas itu. Jika menaiki angkutan umum, aku harus naik angkot satu kali lagi dan setelah itu naik ojek. Yah, itu akan lebih memperlambat proses penjemputanku. Padahal, Bodas pulang sekolah pada pukul 14.30. Sudah dipastikan aku terlambat. Aku pun memutuskan untuk menggunakan jasa Taksi.

Oh ya, sekolah Bodas itu adalah sekolah dengan sistem pendidikkan inklusi. Maksud dari pendidikkan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutusan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak muda pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.

Bodas termasuk anak berkebutuhan khusus, karena Bodas adalah anak penyandang autisma. Autisma adalah suatu kondisi seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Banyak yang bilang, penyandang autisma adalah anak yang mempunyai dunianya sendiri. Nah, di klinik milik sekolah ini, Bodas mendapatkan terapi yang membantu dia untuk lebih mudah membentuk hubungan sosial dan komunikasi secara normal.

Taksi pun tak kunjung lewat di depanku. Baru pada sekitar pukul 15.00, akhirnya taksi yang tak kunjung datang itu, lewat juga. Tangan kulambaikan untuk menyetop taksi itu, namun taksi itu enggan mengantar ke daerah yang kutuju. Aku pun segera menelepon pihak sekolah Bodas, untuk memberitahu kalau aku terlambat menjemput sambil memaki supir taksi itu dalam hati. Aku pun memutuskan untuk naik angkot bernomor 41 dan berhenti di seberang pusat perbelanjaan besar. Sebab, menurutku mobilisasi taksi yang lewat pasti akan lebih sering. Dan memang benar, ternyata banyak taksi yang lewat. Sekitar pukul 15.10, sebuah taksi berwarna kuning lewat di seberang jalan. Aku langsung melambaikan tangan dan memintanya untuk memutar balik jalan ke arahku. Duduklah aku dalam taksi itu dan segera meluncur ke sekolah.

15.20, aku sampai di sekolah. Sekitar sepuluh menit-an aku berada di sekolah untuk mengobrol dengan guru sambil menunggu Bodas memakai sepatu dan langsung meluncur ke klinik di Kelapa Dua.

Aku langsung menyuapi Bodas dengan bekal yang aku beli di rumah makan padang di sekitar klinik. Pukul 16.00, bel berbunyi, tanda jadwal terapi Bodas akan dimulai. Ketika aku akan menghubungi kakakku (ibu dari Bodas) via ponsel, telepon genggamku yang biasa kusimpan di kantong celana tidak ada pada tempatnya. Aku cari-cari di dalam tas, tidak ada juga. Lalu aku ingat-ingat terakhir kali aku menggunakan telepon genggam itu. Yah, terakhir kali aku menerima telepon dari kakakku ketika aku masih dalam taksi. Aku pun yakin kalau telepon genggamku tertinggal di taksi.

Aku langsung turun ke bawah dan menemui satpam, untuk menanyakan wartel terdekat. Pak Satpam tidak tahu di mana wartel atau warnet terdekat. Lalu dia menawarkan untuk menelepon melalui telepon klinik. Bodohnya, aku tidak hafal nomor teleponku sendiri. Aku pun kembali naik ke atas untuk meminta nomor telepon kakakku ke salah seorang terapis Bodas. Dapatlah nomor telepon kakakku, dan langsung aku menghubunginya untuk menanyakan  nomor teleponku sendiri. Setelah mendapat nomor teleponku, aku langsung menghubunginya. Sebelumnya, aku bertanya kepada Bodas, berapa nomor seri yang tertera pada pintu taksi yang kami naiki tadi. Siapa tahu dia ingat karena dia sangat terobsesi dengan angka-angka.

“Bodas, tadi taksinya nomor berapa, ya?”

“1…0…5…6..”

“Masa sih?” Aku sedikit tidak yakin dengan jawaban Bodas.

“Benar, 1056.” Bodas meyakinkan. Namun aku masih tidak percaya.

Kemudian aku lekas turun untuk menelepon.

Dan ternyata langsung dijawab oleh sang supir taksi tadi.

“Bu, ini hp-nya ketinggalan!”

“Iya, Pak. Bapak bisa balik lagi gak ke tempat yang tadi?” Aku merasa sedikit lega.

“Wah, Bu, saya sudah di pool. Mending ibu aja yang ke sini, nanti saya simpan hp-nya di satpam!”

“Di mana pool-nya, Pak?”

“Di Depok, Simpangan Depok.”

Aku langsung meluncur ke Simpangan Depok dengan dua kali ganti angkot. Sampailah aku di pool taksi itu. Menyeberang jalan, memasuki pool taksi dan langsung mencari pos satpam. Dari pos satpam, aku diantar menuju satu ruangan. Di sana telah duduk seorang laki-laki berkemeja merah, aku memanggilnya Bapak. Sebelum aku bisa mendapatkan telepon genggamku kembali, ternyata harus ada prosedur yang dikerjakan. Mengisi sebuah surat pernyataan pengembalian barang, setelah selesai mengisi surat dan menandatanganinya. Aku sempat bertanya nomor seri yang tertera di pintu taksi yang tadi kami naiki. Si Bapak menjawab ‘1056’. Karena aku tidak yakin dengan jawaban Bodas, aku pun tidak sadar bahwa nomor seri taksi itu sama seperti yang diucapkan Bodas. Aku pun berpamitan pulang.

Telepon genggam langsung aku simpan di dalam tas dan kembali menaiki angkot untuk menjemput Bodas. Aku sedikit terlambat ketika sampai di klinik. Bodas sudah selesai terapi sekitar lima menit yang lalu. Aku langsung ngobrol dengan Bu Jubay, terapis Bodas. Bu Jubay menceritakan bagaimana satu jam dilewati oleh Bodas sebagai laporan wajib setelah terapi.

Awal sesi, Bu Jubay meminta Bodas untuk menggambar dengan perintah:

“Coba Bodas, gambar Ageung kehilangan telepon genggam!”

Ajaibnya Bodas menggambar sebuah taksi dengan nomor pintu 1056. Padahal Bu Jubai mengira Bodas akan menggambar telepon genggam. Dan aku pun tidak bercerita langsung kepada Bodas, bahwa telepon genggamku telah tertinggal di taksi. Tapi Bodas ada di ruangan yang sama, saat aku bercerita kepada para terapisnya. Namun dia, sebagaimana umumnya anak autis, tidak pernah terlihat peduli. Namun itu mengindikasikan bahwa dia mampu merekam segala hal yang baik, karena aku tahu mereka memiliki kapasitas otak yang luar biasa terutama yang mberhubungan dengan kemampuan visual.

dariwarga_gambar bodas-taksi_02

Lenteng Agung, 21 Juli 2011

Ageung (dan gambar oleh Bodas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s