dermolen

Kamu tahu tempat yang asik untuk dikunjungi malam minggu ini?, Ke mana?, Dermolen, Apa itu?, Pasar malam di sebelah sana, kita bisa saja telusuri rel kereta, tapi karena sudah malam, naik angkot saja!, Jauh, ya?, Tidak, Sebelum atau sesudah Bojongkokosan, kalau dari sini?, Sebelum itu.

Apa itu dermolen?, Yang melingkar-lingkar itu, Ada banyak benda yang bentuknya melingkar di mana-mana, Kamu harus memperhatikan semuanya secara dekat, biar pun melingkar, mereka berbeda-beda, Dermolen itu apa istimewanya?, Lingkarannya beda, ada keramaian.

Tak seperti malam biasanya yang sepi jika kita menaiki angkutan menuju arah Cicurug pada malam hari. Sekarang, begitu ramai dan macet. Ada keramaian di sebelah sana. Ageung berkata, Tempatnya dekat dengan sekolahku dulu. Zikri menanggapi datar, Oh, ya?, Iya, karena sekarang malam minggu, pasti ramai sekali di sana.

Masih di sekitaran Jalan Raya Siliwangi-Parung Kuda, muda-mudi merayapkan sepeda motornya ke sebuah gang yang dari pinggir jalan raya sudah terdengar suara-suara bising, dari mesin pemutar bianglala, musik penghibur komidi putar, teriakan bocah-bocah, atau cekikikan gadis-gadis yang malu-malu kucing digoda para lelaki muda yang nongkrong sambil merokok. Tapi ini, malam minggu, dermolen lah bintangnya.

Bagaimana kita bisa melihat dengan lebih asik…Kita punya medium, kata Zikri. Ayo ke sini! kata Ageung, Ke mana?, Ke tempat di mana kita bisa melihat lebih dekat, Oh, ya ya ya! Lihatan bisa dibuat menjadi lebih asik.

Ah, aku terlalu terburu-buru menurunkan lensanya, Utak-atik lagi! Harus akrab dulu dengan suasananya, Ya, memang harus lebih dekat, Harus lebih dekat!

Perhatikan, bidangnya dibagi menjadi sembilan bagian, kalau misalnya nanti ada peringatan kotak warna kuning, bisa jadi artinya kamu berdiri di tempat yang kurang tepat. Zikri berkata, Coba kalau misalnya kugeser tanganku sedikit ke kanan. Tuh, kan?! seru Ageung.

Objek yang diam mungkin lebih mudah, tapi tak semuanya seperti itu, Yang bergerak pun bisa mendiam di medium, Lihat lebih dekat, Lebih dekat lagi, Ya, lebih dekat.

Mata kita sering kali lupa pada lihatan yang menarik, Makanya jangan pernah lupa abadikan, Medium ini bisa melihat apa yang tak bisa kita lihat, Kita lihat, tapi cepat melupakan, medium membantu kita untuk mengingat, apa yang ditangkap medium bergantung pada tangkapan mata kita, batas semesta bingkaian itu ada karena semesta mata kita.

Untuk menyadari persoalan-persoalan yang tersebar banyak di tengah warga, kita harus peka terhadap pola. Titik, garis, bidang, tekstur, komposisi, melatih kita untuk belajar melihat pola. Ageung menggoda Zikri dengan berkata, Cieee…iya, abang mainstream!

Eh, beneran, lho! Bingkai kamera bisa membekukan pola dan kita bisa melihatnya lebih jelas, Dan lebih dekat, tentunya. Lalu Ageung mengarahkan kameranya sekejap, lalu berseru, Ini! Boleh…boleh…!, Uh, mayak!

Lihat lebih dekat lagi!, Bagaimana dermolen? Terlalu ramai dan bising di sini, Ya, di lihat saja, jangan didengarkan. Hahaha!, Istirahat di sana dulu! Ngerokok, yuk, ah!, Eh, yang ini bisa, lho! Pola!, Ah, mainstream! Kenapa tidak begini saja? kata Ageung seraya menunjukkan hasil bingkaianya, Lumayan lah…, Dasar mayak, kamu! Bang mainstream…oh, abang mainstream. Ageung lalu berjalan menuju tenda yang menjual barang-barang berwarna kuat.

Kualitas gambarnya berbeda, antara handphone dan kamera digital. Yang penting, kan bukan halus atau tidak gambarnya, tapi sudut ambilan gambarnya, Iya, mengerti, tapi gelap di sini!, Manfaatkan cahaya yang ada, akal-akali alatnya.

Bukan bulat atau tidak bulat, tapi cair atau tidak cair, itu, kan yang penting? Katanya, sih begitu…, Kok, tidak yakin? Hm…

Yang tidak teratur pun, katanya memiliki pola, Kalau polanya bisa dibaca, kemudian ditata, komposisinya bisa saja berbeda-beda, yang tidak berbentuk pun bisa memiliki bentuknya sendiri, Ya, bingkaian itu memang hebat, ya!

Kalau kita punya bingkaian yang jelas, kita punya fokus, sehingga semuanya akan jelas dan layak dicerna dengan baik. Paling tidak, orang-orang bisa menikmatinya, Makanya bikin puisi jangan ngasal karena galau, Kayak yang gak pernah ngegalau lewat puisi aja!, Eh, aku lagi serius ini, jangan diajak becanda!, Iye, dah…abang mainstream. Ageung berjalan lagi, lalu berkata, Kalau begitu, dermolennya kita bingkai saja.

Sedari tadi aku masih bingung, apa, sih dermolen itu?, Kamu belum tahu dan mengerti juga? Tuh, coba lihat! Dermolen…!

Melingkar, bukan…!😀

Parungkuda, 7 September 2013

Ageung dan Zikri

Satu pemikiran pada “dermolen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s