mangamehan nan taserak, manjampuik nan tingga

Beberapa menit yang lalu, aku berbincang dengan ayah Zikri, namanya Jufri Hasan. Karena Zikri kakak beradik memanggilnya Papi, aku pun juga menyapanya dengan sebutan Papi.

Sebenarnya, itu pertama kalinya aku berbincang secara langsung via message di facebook. Sebelumnya, interaksiku dengan Papi hanya sekedar memberi komentar, like, atau sharing artikel, foto, atau status di facebook.

Tidak ada banyak basa-basi dalam percakapan kami. Setelah bertanya kabar satu sama lain, aku pun bertanya soal sebuah himpunan kesenian yang pernah diceritakan Zikri kepadaku. Kata Zikri, kerja komunitas kesenian yang bernama Himpunan Kesenian Tradisional Minang (HKTM) ini adalah salah satu kegiatan yang sedang digeluti oleh Papi, sebagai orang asli Sumatera Barat yang tinggal dan hidup di Pekanbaru, Riau. Dari perbincanganku dengan Papi, aku mengetahui bahwa dia berperan sebagai Pembina organisasi tersebut.

Berikut ini kulampirkan percakapan kami. Oh, iya… nama akun facebook Papi cukup unik, yaitu Beandrix Panyalai.

21:06 Dian Ageung Komala  “Papi…”

21:12 Beandrix Panyalai “Apa kabar Ageung dan keluarga?”

21:12 Dian Ageung Komala “Baik, Papi… Di sana, apa kabar?”

21:13 Beandrix Panyalai “Baik juga. Salam buat mamanya ageung.”

21:14 Dian Ageung Komala “Iya, Papi. Salam juga buat mami…Hehehe! Eh, Zikri cerita, katanya di Pekanbaru ada komunitas seni Minang, ya, Pi? Yangg Papi pernah kasih lihat fotonya juga di facebook.”

21:15 Beandrix Panyalai “Iya. Cuma, bagaimana , ya untuk bikin cerita kayak Ageung, bisa membuat ceita tentang baksonya Mas Darmo.”

21:16 Dian Ageung Komala “Hehehe! Ya, ditulis apa adanya aja, Pi…sebagaimana yang Papi lihat, tahu dan mengerti…seperti catatan harian. Yang penting, kalau udah akrab dengan lingkungannya, pasti ada banyak cerita dan kegiatan yang bisa ditulis.”

21:18 Beandrix Panyalai “Menulis di mana? Papi, kan tak begitu paham menulis di facebook dan lainnya itu di internet.”

21:19 Dian Ageung Komala “Oh…, Papi udah pernah bikin note di facebook, bukan? Yangg ada foto “selamat datang Agi”, anaknya Bang Fauzan. Di situ aja nulisnya, terus disebarkan ke teman-teman di facebook!”

21:21 Beandrix Panyalai “Iya. Apa itu boleh kayak gitu? Soalnya, susunan kalimatnya Papi kurang pas bikinnya.”

21:23 Dian Ageung Komala “Sekarang begini, deh! Mau Ageung bantuin gak? Hehehe!”

21:25 Beandrix Panyalai “Itu yang Papi harapkan dari Ageung, bisa bantu mengembangkan komunitas seni Minang, Riau, melalui fecebook.”

21:27 Dian Ageung Komala “Sip lah…! Gimana kalau sekarang Ageung tanya (beberapa hal soal HKTM), Papi jawab, yak! Hehehe! Nanti Ageung berencana mau bikin artikel, isinya percakapan kita berdua soal HKTM.”

21:28 Beandrix Panyalai “Ok, siip!”

21:28 Dian Ageung Komala “Ya, pertanyaan pertama, tentunya HKTM itu apa sih, Pi?”

21:30 Beandrix Panyalai “HKTM, Himpunan Kesenian Tradisional Minang, yang berada di Pekanbaru, Riau. Anggotanya terdiri dari beberapa group kesenian.”

21:31 Dian Ageung Komala “Sudah berdiri sejak kapan, Pi? Dan markas/tempat ngumpul HKTM, di mana?”

21:33 Beandrix Panyalai “Sejak tanggal 18 Mei 2013. Markasnya di Jalan Pepaya, No.66 (Sekretariat di rumah kita, Jalan Pepaya).”

21:34 Dian Ageung Komala “Ng…keseneian apa aja, sih yang ada di HKTM, Pi?”

21:36 Beandrix Panyalai “Kesenian Tambua Tassa, Saluang, Randai, Rabab, Tari Gelombang, Silat…”

21:36 Dian Ageung Komala “Tambua Tassa itu gendang, yak?”

21:37 Beandrix Panyalai “Ya, gendang besar.”

21:37 Dian Ageung Komala “Saluang itu suling, bukan?”

21:39 Beandrix Panyalai “Saluang niupnya dari ujung bambu. Kalau suling, niupnya beberapa senti dari ujung bambu.”

21:41 Dian Ageung Komala “Ooh…ya ya… Itu HKTM-nya ada kegiatan rutin, gak sih? Semacam kayak manggung sederhana atau latihan reguler komunitas, gitu?”

21:44 Beandrix Panyalai “Ini Papi kirimkan orang sedang main saluang. Ada, setiap anggota group membuat jadwal latihannya masing-masing. Kami, dari pengurus, akan mengusahankan hadir setiap latihan.”

21:45 Dian Ageung Komala “Widih…keren, tuh fotonya…! Foto-foto kesenian lainnya ada, gak? (dokumentasi foto itu penting banget…).”

21:59 Beandrix Panyalai “ini orang main tambua tassa dan tari gelombang. Lupa Papi satu lagi keseniannya, tari piring, silat.”

22:00 Dian Ageung Komala “Eh, kirain tadi Papi ketiduran…taunya, dateng dengan foto-fotonya…Hehe.”

22:02 Beandrix Panyalai “Itu acara menyambut Bulan Suci Ramadhan kemarin, acaranya di markas/sekretariat HKTM, Jalan Pepaya, No. 66, Pekanbaru.”

22:03 Dian Ageung Komala “Itu setiap tahun rencananya akan selalu ada?”

22:06 Beandrix Panyalai “Insya Allah! HKTM berdiri, kan baru beberapa bulan ini. Itu lah hari Papi cerita sama Zikri, bagaimana HKTM ini bisa berkembang dengan adanya internet ini. soalnya, dari anggota kita, Papi lihat belum ada yang bisa membuat yang kayak Ageung, bercerita tentang bakso Mas Darmo itu.”

22:10 Dian Ageung Komala “Anggota HKTM ada anak-anak mudanya? Seharusnya, sih, anak muda jaman sekarang, mengerti tentang media sosial melalui internet. Ya, umumnya, kan anak muda sekarang senang menggunakan media online, seperti facebook, karena memang sebaiknya ujung tombak pengelolaan media untuk komunitas itu ada di tangan pemuda.”

22:17 Beandrix Panyalai “Dari anak-anak SD, remaja dan orang-orang tua, perlu Ageung ketahui, mereka ini malahan ada yang tidak sekolah. Cuma, karena jiwa berkesenian Minang ada itu lah yang Papi dan kawan-kawan coba menghimpun dalam wadah HKTM ini. Dalam mengunakan media online, mereka bisa, malahan cukup pintar. Tapi membuat suatu yang berguna untuk HKTM, mereka bilang tidak mampu.”

22:21 Dian Ageung Komala “Susah juga, yak!? Mau tidak mau, harus minta bantuan orang dekat dan yang punya pengalaman bermedia sosial. Seharusnya, sih Zikri harus menulis tentang HKTM, menurut Ageung. Ade atau Ipah, harusnya bisa. Atau mungkin, yang paling dekat atau yang ada di sana, Hauza. Meskipun, bentuknya hanya sebagai foto-foto dokumentasi, tapi itu penting. Misalnya, Papi sulit menjabarkannya dalam bentuk tulisan, tapi Papi bisa menarasikannya melalui foto-foto. Karena foto juga berbicara. Hehehe…!”

22:24 Beandrix Panyalai “Iya, tapi dia bilang belum banyak tahu tentang keberadaan HKTM ini, dan itu Ageung bisa lihat hasil dari beberapa foto yang Papi kirim. Itu, kan asal jepret.”

22:25 Dian Ageung Komala “Kok, Ageung melihatnya gak kaya foto asal jepret. Sudut ambilannya bagus. Buktinya, Ageung yang orang luar Pekanbaru, bisa menangkap pesan kegiatan itu. Lagipula, kan konteksnya ini kita adalah warga, bukan kalangan profesional. Foto hasil dokumentasi warga biasa juga punya esensi yang penting. Bukan hanya fotografer ternama saja yang bisa memberikan informasi melalui foto. Tinggal bagaimana kita memberdayakan fotonya…dikelola, apakah jadi ilustrasi tulisan, foto esai, atau apa pun.”

22:30 Beandrix Panyalai “Itu yang tak dimengerti oleh kita di daerah, termasuk Papi. Kadang-kadang, foto-foto itu, dokumentasi itu, cuma untuk sesaat saja. Udah dilihat, udah! Bukan disimpan, malahan letaknya pun sembarangan saja di secretariat. Ini, satu lagi foto yang ada sama Papi!”

22:32 Dian Ageung Komala “Nah, itu dia! Dokumentasi bisa dimulai dari sekarang. Ketika Ageung, Zikri, Ade atau Ipah, sebagai orang-orang yang tidak menetap di Pekanbaru, bisa menulis dan membahas HKTM ini, tetapi itu akan sulit dilakukan jika tidak ada data dokumentasinya. Teman-teman HKTM bisa menjadi pen-support data untuk kami yang ingin menulis.”

22:36 Beandrix Panyalai “Insya Allah! Papi akan coba mendokumentasikan apa yang dilakukan dalam kegiatan HKTM, dan saran dari Ageung ini akan Papi sampaikan juga kepada kawan-kawan di HKTM.”

22:36 Dian Ageung Komala “Data itu bisa berbentuk apa pun. Bisa foto…, obrolan yang sedang kita lakukan ini juga dapat dianggap sebagai data.”

22:38 Beandrix Panyalai “Ok! Akan kita laksanakan, tapi Papi butuh bantuan Ageung dalam hal ini.”

22:38 Dian Ageung Komala “Iya, nanti juga Ageung akan sering-sering diskusi sama Zikri, karena Zikri mungkin lebih mengerti dibanding Ageung tentang HKTM ini, karena dia pernah lihat langsung. Nah, itu juga sih, kenapa Zikri waktu itu gak menulis tentang Tambua Tassa, padahal katanya dia rekam. Tenang, Pi, nanti Ageung suruh Zikri menulis tentang HKTM.”

22:40 Beandrix Panyalai “Ya, itulah harapan Papi dan kawan-kawan waktu ketemu dengan Zikri. Dia bilang lagi ada tugas.”

22:40 Dian Ageung Komala “Ah, itu mah alasan dia aja! Hahaha! Mungkin nanti kalau Zikri pulang kampung ke sana, dia bisa buatin blog untuk HKTM.”

22:42 Beandrix Panyalai “Memang Japang (panggilan Zikri di rumah.red) itu banyak alasan kalau lagi malas. Tapi, warung Si Ozi itu selesai dia bikin selama di Pekanbaru.”

22:42 Dian Ageung Komala “Terus, bisa ngajarin gimana mengelolanya sama teman-teman HKTM. Oh, iya itu Ageung baca yang di akumassa. Ngomong-ngomong, HKTM itu ada ketuanya?”

22:45 Beandrix Panyalai “HKTM mempunyai susunan kepengurusan, dan kebetulan Papi dan beberapa kawan diangkat sebagai pembina dari HKTM tersebut. Dan ketuanya, Pak Erwin Agus. Wakilnya, Pak Efendi Jafri. Sekretarisnya, Endra Junaidi, dan Bendahara, Pak Yendrizal Tanjung.”

22:46 Dian Ageung Komala “Tugas Papi sebagai pembina HKTM itu yang seperti apa konkretnya?”

22:52 Beandrix Panyalai “Yang Papi lakukan baru sebatas menyelesaikan kesalahpahaman antara anggota dalam suatu kegiatan. Dalam pembinaan, kita coba menyatukan prinsip dalam berkesenian ini, karena kesenian yang ada itu masih saling menonjolkan kesenian kedaerahan mereka masing-masing. Merobah pikiran itulah Papi kewalahan, karena Papi pun dalam berkesenian itu bukan bidang Papi.”

22:55 Beandrix Panyalai “Cuma, kebetulan Papi lihat kawan-kawan waktu itu latihan di depan rumah, ada beberapa group yang latihan, lantas Papi bilang sama kawan-kawan, bagaimana kalau kita himpun kawan-kawan yang lain dalam satu wadah dalam berkesenian ini.”

22:56 Dian Ageung Komala “Wah…, Papi keren…! Hehehe…

22:57 Beandrix Panyalai “Keren bagaimana maksud Ageung?”

22:57 Dian Ageung Komala “Hm…, ini Ageung lagi menyusun tulisan ringkas hasil percakapan kita. Rencananya, mau dimuat di blog dariwarga.wordpress.com malam ini… Hehehe! Ya, keren…maksud Ageung, (Papi) punya inisiatif untuk mengajak orang-orang membentuk komunitas… Abah Hafiz juga melakukan hal yang sama…karena berkomunitas itu salah satu cara bagi warga untuk melakukan pemberdayaan masyarakat…”

23:00 Beandrix Panyalai “Iya, tapi setelah dihimpun, tak tahu jalan lagi bagaimana bisa berkembang. Kan, akhirnya bingung sendiri!”

23:01 Dian Ageung Komala “Masih ada banyak jalan menuju roma. Pelan-pelan aja, Pi! Yang penting bersabar, konsisten dan senang hati melakukannya.”

23:03 Beandrix Panyalai “Iya, lah kalau begitu! Papi coba bersabar dalam menghimpun mereka ini.”

23:05 Dian Ageung Komala “Sip lah…! Tetap semangat, Pi! Jangan lupa sering berbagi cerita tentang HKTM! Ageung mulai menulis dulu, yak…! Hehehe. Besok pagi, Papi bangun, buka facebook, terus klik artikel yang Ageung kirim ke facebook-nya Papi, ya!”

23:08 Beandrix Panyalai “Ya, terima kasih atas bantuan Ageung untuk memajukan HKTM dengan semboyannya: Mangamehan nan taserak, manjapuik nan tingga, mambangkik batang tarandam di bumi lancang kuning. Selamat malam! Besok kita sambung.”

Ya, seperti itu lah percakapan kami: kegelisahan-kegelisahan Papi tentang bagaimana cara untuk mengenalkan HKTM kepada khalayak luas. Yah, aku pun sedikit bingung. Di saat media sosial sudah populer di kalangan masyarakat, kegelisahan seperti ini masih saja ada. Ketika aku bertanya tentang keberadaan anak-anak muda, yang (seharusnya) ‘hidup’ di media sosial, kepada Papi, beliau hanya bisa menjawab, “Dalam mengunakan media online, mereka bisa, malahan cukup pintar. Tapi membuat suatu yang berguna untuk HKTM, mereka bilang tidak mampu.”

Aku bingung. Apakah semua pemuda dan pemudi di daerah itu tidak menemukan kesenangan seperti yang aku alami sebagai blogger? Atau apakah memang hanya mengenal facebook? Aku pun tidak bisa menyalahkan mereka karena tidak menemukan keasikan menjadi blogger.

Aku memang punya pengalaman belajar tentang media online, bagaimana cara membuat dan mengelola sebuah blog. Mereka mungkin belum. Tapi, bukankah Pekanbaru merupakan salah satu ibukota provinsi yang sedang mengalami perkembangan cukup pesat? Aku sempat membaca website Bappeda Kota Pekanbaru (http://bappeda.pekanbaru.go.id). Dalam salah satu artikel disebutkan bahwa, dengan APBD yang sudah mencapai Rp. 1,2 trilliun lebih (dulunya hanya ratusan juta), pembangunan di Pekanbaru berkembang cukup luar biasa, terutama di bagian infrastuktur (pernyataan Walikota Pekanbaru, Herman Abdullah). Percaya tidak percaya dengan artikel tersebut, aku yakin potensi untuk sistem pendidikan mengenai literasi media itu ada. Terlebih lagi, Zikri pernah bercerita bahwa Pekanbaru yang sekarang itu tidak jauh beda dengan Ibukota Jakarta, di mana warnet (warung internet) tersebar hampir di setiap daerah. Seharusnya, ada orang-orang berjiwa besar yang rela mau memberi sedikit ilmu mereka kepada teman-teman HKTM.

Semangat untuk membangun HKTM sudah ada di diri teman-teman. Akan tetapi untuk memperkenalkannya masih sebatas di lingkungan mereka saja. Nah, Papi berinisiatif untuk mengenalkannya kepada masyarakat luas.  Inisiatif itu justru muncul dari kalangan yang tua, bukan dari kalangan muda yang masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk melakukan aksi-aksi yang lebih konkret.

Zikri pernah berkata “Gak ada yang salah, sih jika inisiatif itu muncul dari yang tua,  tapi akan ironis jadinya kalau anak muda lebih banyak diam karena seharusnya pemuda itu adalah pionir dan garda depan dalam setiap pergerakan yang dilakukan oleh masyarakat.”

Semoga saja catatan ini bisa menginspirasi teman-teman HKTM, khususnya yang muda-muda, dan akhirnya bisa melakukan aksi untuk mengelola media online dengan bijak, bisa merasakan kesenangan mengelola blog layaknya merasakan kesenangan meng-update status di facebook. Mudah-mudahan, jika hal itu terwujud, dapat memberikan pengaruh yang baik bagi perkembangan HKTM ke depannya. Aku sendiri juga punya harapan dapat berkontribusi bagi HKTM, karena aku senang dengan semboyan yang disebutkan Papi: mangamehan nan taserak, manjapuik nan tingga, mambangkik batang tarandam di bumi lancang kuning (mengemas yang berserakan, menjemput yang tertinggal, membangkitkan batang terendam di bumi lancang kuning).

“Kita berjejaring itu gunanya untuk berkumpul, menghimpun yang tersebar-sebar, mengajak yang ketinggalan, untuk membangkitkan kekuatan melakukan aksi,” aku jadi teringat kata-kata Zikri.

Parungkuda, 9 September 2013

Ageung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s