[video]dariwarga: Mie Ayam dan Bakso Mas Darmo

Lokasi warung mie ayam Pak Darmo.
Lokasi warung mie ayam Pak Darmo.

Berikut ini dokumentasi riset di warung Mas Darmo, seorang pemilik dan penjual mie ayam dengan warung bernama Bakso Mas Darmo, terletak di Jalan Raya Pakuwon, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Aktivitas di warung ini diambil pada tanggal 31 Agustus 2013 menggunakan kamera digital, seri Canon Power Shot A2300 HD.

Ageung: “Ini ada cabangnya gak, sih…? Gak ada…? Lah, kalau yang di Lapang…?”

Mas Darmo: “Sodara, itu…”

Ageung: “Oh, itu sodara semua yang jualan…? Beda modal, gitu ya?”

Mas Darmo: “Jadi, modalnya masing-masing…”

Zikri: “Berarti, jatuhnya, nih usaha dagang sendiri, Pak?”

Mas Darmo: “Ya…?”

Zikri: “Ini usaha dagang sendiri Pak Darmo?”

Mas Darmo: “Iya…”

Ageung: “Namanya… Darmo apa?”

Mas Darmo: “Darmo aja…”

Ageung: “Asalnya dari mana?”

Mas Darmo: “Wonogiri…”

Ageung: “Oh, Wonogiri…!? Wonogiri itu…Jawa Te…eh, Jawa Tengah, ya? Jawa Timur?”

Mas Darmo: “Jawa Tengah…”

Ageung: “Kalau pegawainya, berapa orang?”

Mas Darmo: “Dua…”

Ageung: “Ah, masa, banyak juga…!?”

Mas Darmo: “Ya, cuman berdua yang aslinya mah…!”

Ageung: “Siapa namanya?”

Mas Darmo: “Ari… Jedol aja lah, yang jelas…”

Ageung: “Jetol…? Pake T?”

Mas Darmo: “Jedol… Je..E..De..O..El…! Satu lagi Kampret…”

Ageung: “Nama aslinya dong…?”

Mas Darmo: “Kampret aja, nama terkenalnya mah…! Nama aslinya mah… kan panggilan sehari-harinya gitu…”

Ageung: “Ini berdiri tahun berapa? Pertama buka tuh tahun berapa? Dulu kan masih satu gerobak itu, ya?”

Mas Darmo: “Iya… ya, tahun…sembilan lima.”

Ageung: “Terus buat modal pas pertama kali buka itu, berapa?”

Mas Darmo: “Udah lupa… Kan modal mah satu-satu gitu, masalah tetek bengek mah gak sekaligus…”

Ageung: “Kalau yang pertama kali jualan… Ya, yang pertama buat modal…”

Mas Darmo: “Ya, buat modal…apa ya…paling belanja, udah…”

Ageung: “Kalau sekarang, yang harian…berapa biasanya buat modal?”

Mas Darmo: “Paling ya satu setengah…”

Ageung: “Kalau pendapatannya?”

Mas Darmo: “Pendapatannya…lebihnya…seratus rebu lah…jadi enam belas…”

Ageung: “Masa segitu, sih?”

Mas Darmo: “Iya…”

Zikri: “Seratus ribu itu keuntungan bersihnya, Pak? Sehari…?”

Mas Darmo: “Untung bersih…sama gaji anak-anak… Untung bakso mah gak seberapa…”

Ageung: “Emang biasa berapa mangkok seharinya?”

Mas Darmo: “Gak tahu…gak ngitung…duitnya aja yang dihitung…”

Ageung: “Kan kalau misalnya satu-enam, berarti…satu porsinya misalnya tujuh ribu, ya…berapa tuh?”

Zikri: “Satu koma enam…ya sekitar…seratusan ada kali yak?”

Ageung: “Seratus mangkok-an kali, yak?”

Zikri: “Seratus sampai dua ratus, Pak ya?”

Mas Darmo: “Pokoknya ya segitu lah…”

Ageung: “Kalau lebaran laku terus…”

Mas Darmo: “Ya beda lagi kalau lebaran mah…”

Ageung: “Bahan-bahannya dari pasar ya, Pasar Parungkuda?”

Mas Darmo: “Iya…”

Zikri: “Itu bahan-bahannya bikin sendiri atau gimana, Pak?”

Mas Darmo: “Bahannya ya beli di pasar…”

Zikri: “Kalau baksonya, dagingnya, giling sendiri?”

Mas Darmo: “Baksonya ya giling sendiri, cetak sendiri…digiling di pasar, cetak di rumah…”

Ageung: “Bukanya dari jam berapa sih?”

Mas Darmo: “Jam sepuluh…sampe…jam sembilan malam lah.”

Ageung: “Kalau soal makanan, punya resep… ada resep-resep khususnya gak sih?”

Mas Darmo: “Gak ada…biasa aja, gitu…Ya namanya swasta, jadi swasta itu semaunya…penjualnya kita…”

Zikri: “Bapak dulu tahu cara bikin mie ayam ini dari siapa?” (Ageung: “Soalnya pertamanya jualan bakso…”)

Mas Darmo: “Temen-temen… Jadi, ngobrol-ngobrol dulu ama temen-temen cara bikinnya gini-gini…resepnya begini-begini…Bikin bakso ya dari temen-temen, pertama…”

Ageung: “Kalau mie ayamnya baru, yak?”

Mas Darmo: “Iya…”

Ageung: “Tahun berapa, tuh?”

Mas Darmo: “Tahun sekarang…ya paling tiga bulan kan…belum lama…iya karena ada ruangan ini…”

Ageung: “Dari tahun 1995, aku umur lima tahun…dari harganya baru masih tiga ratus perak…”

Mas Darmo: “Dua setengah…”

Ageung: “Ya pokoknya, kalau dua setengah itu bakso kecilnya doang, tiga ratus pake bakso yang gede… Inget banget tuh…!”

Mas Darmo: “Ya, tiga ratus lima puluh lah…”

Ageung: “Yang belinya banyak…anak-anak sekolah…”

Mas Darmo: “Ya banyak lah itu, ada ibu-ibu, ada anak-anak…”

Zikri: “Kalau yang sering Mas Darmo liat tuh, pembelinya yang siapa?”

Mas Darmo: “Gak jelas itu mah…gak lihat…gak tentu…sekarang beli besok beli lagi…”

Zikri: “Jam-jam ramenya?”

Mas Darmo: “Itu kadang-kadang keluar masuk…ya begini-begini aja…ya kadang siang sepi, kadang tuh, ya namanya dagang mah…ibarat air mengalir, kayak gitu, pasang surut…”

Ageung: “Kenapa pengen jualan?”

Mas Darmo: “Pengen bebas…jadi gak disuruh orang…jadi kan kita berbeda…mau gak pake sendal, yang penting pakaian rapih, gitu…”

Zikri: “Terus, kenapa milihnya bakso? Kenapa usahanya jadi bakso?”

Mas Darmo: “Memang profesinya gitu… Jadi gak pengen ganti-ganti, kalau ganti lain kan dari nol lagi…”

Ageung: “Dulu kan pertamanya bakso, nih…terus tiba-tiba ada mie ayam itu kenapa?”

Mas Darmo: “Ya kan (karena.red) ada tempatnya…Jadi ditambahin…kalau gak ada tempatnya, ya udah…”

Ageung: “Dari dulu jualan mie ayam bakso ini aja ya…gak ada yang lain…?” (Mas Darmo mengangguk).

Zikri: “Tapi dulu pernah usaha lain gak sih, Pak?”

Mas Darmo: “Enggak… dari tahun delapan dua saya jualan bakso… Pertamanya kan di Jakarta.”

Ageung: “Jakartanya di mana?”

Mas Darmo: “Di Jembatan Lima Jalan Dwikora…”

Zikri: “Itu buka warung atau gerobak?”

Mas Darmo: “…gerobak…”

Ageung: “Terus, kalau…harga di pasar, menurut Mas gimana?”

Mas Darmo: “Maksudnya?”

Ageung: “Maksudnya, kan dari tahun ke tahun ada perubahan, tuh…”

Mas Darmo: “Nggak hapal…”

Ageung: “Yah kan belanja…”

Mas Darmo: “Ya belanja juga kan gak ingat itu mah…kita mah gak inget-inget…”

Zikri: “Gak ada apa gitu, merasa kesulita harga naik…?”

Ageung: “Kayak misalnya kan, kalau sekarang kan, dari kemarin stabil tuh harganya, goceng, kan? Tiba-tiba daging naik jadi tujuh ribu…”

Zikri: “Harga bawang kan sekarang naik…? Itu gimana?”

Mas Darmo: “Gak ada kesulitan…ya udah…hasilnya aja yang kurang jadinya mah…kalau hasilnya sepuluh ribu, ya jadinga goceng… Namanya swasta, gitu lah…resiko…”

Ageung: “Nah, ini kamu yang tanya nih…”

Zikri: “Nah, ini, Pak…suka-duka selama jualan bakso dan mie ayam apa, Pak?”

Mas Darmo: “Suka-duka saya ya…bebas…enak…gak disuruh-suruh orang…pokoknya yang jelas, merdeka lah…bebas mau kerja mau gak…itu kan…jadi bebas…”

Ageung: “Kalau dukanya ada gak?”

Joko (pegawai Mas Darmo): “Dukanya jualan gak laku aja…”

Mas Darmo: “Dukanya kalau jualan gak laku…jadi sedih…”

Zikri: “Pernah kena ini gak sih, Pak…kayak…dulu kan pernah jual pake gerobak, kan, di Jakarta… kena pungutan liar gitu pernah gak, Pak?”

Mas Darmo: “Nggak…”

Ageung: “Kalau di sini ada gak sih?” (Mas Darmo menggelengkan kepala…)

Zikri: “Terus, kira-kira…pesannya kalau untuk pemerintah, gimana, Pak?”

Mas Darmo: “Untuk pemerintah, ya…tolong lah standarin harga…”

Zikri: “Standarin harga, maksudnya?”

Mas Darmo: “Jangan naik terus, buat rakyat kecil gitu…”

Zikri: “BBM naik, pengaruh gak sih, Pak?”

Mas Darmo: “Pengaruh…!”

Zikri: “Ngaruhnya dimana nya?”

Mas Darmo: “Ngaruhnya ya…karena saya mau belinya banyak, karena semuanya naik, ya pasti kurang…”

Zikri: “Harga-harga di pasar, ya?”

Mas Darmo: “Iya…”

Zikri: “Itu pernah gak sih, Pak, kalau jualan mie ayam itu, ada masa waktu yang jualannya gak laku…pernah gak gitu?”

Mas Darmo: “Ya standar gitu lah…”

Ageung: “Dia mah laku terus…!”

Mas Darmo: “Ya pasang surut lah pokoknya mah…pokoknya pasang surut deh, gitu…”

Demikian perbincangan kami dengan Mas Darmo (maaf kalau terkesan sangat tek-tok, sebab ini baru pertama kalinya kami menjalankan wawancara). Semoga riset di warung-warung mie ayam yang beriktunya menghasilkan hasil yang lebih baik. Salam.😀

Parungkuda, 11 September 2013

Ageung dan Zikri

_______________________________________________________

Artikel terkait:

Proyek Mie Ayam“, sebuah pengantar mengenai Proyek Mie Ayam dariwarga, oleh Zikri.

Mie Ayam dan Bakso FOKUS“, catatan lapangan riset di warung Pak Suhardi, Parungkuda, Sukabumi, oleh ZIkri.

video-dariwarga: Mie Ayam dan Bakso Fokus“, dokumentasi video riset lapangan di warung Pak Suhardi, Parungkuda, Sukabumi.

Mie Ayam dan Bakso Mas Darmo“, catatan lapangan riset di warung Mas Darmo, Parungkuda, Sukabumi, oleh Ageung.

Mie Ayam SUROBOYO“, catatan lapangan riset di warung SUROBOYO, Balikpapan, Kalimantan Timur, oleh Aliet.

Satu pemikiran pada “[video]dariwarga: Mie Ayam dan Bakso Mas Darmo

  1. project jurnalisme mi ayamnya kapan di-update lagi? Ini menarik… menambah bhn bacaan saya tentang sukabumi..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s