Paseban Dibingkai Bocah-bocah

Aku sudah biasa bermain dengan anak-anak di kampungku di Parungkuda. Namun, bekerja sama dengan anak-anak sungguh hal yang tidak biasa. Hari itu, tanggal 25 Oktober 2013, kami—tim yang terdiri dari Aku, Anib, Ari, Ghembrang, Andrie, Umam, Siba dan Zikri, dikoordinatori oleh Otty Widasari, pada proyek akumassa Ad Hoc untuk Jakarta Biennale 2013—mengadakan workshop fotografi untuk anak-anak di wilayah Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Workshop itu diadakan selama empat hari, dari tanggal 25 sampai 28 Oktober, di pos Kantor RW 02, samping lapangan bulutangkis, bernama Lapangan Perintis.

Jaman sekarang, yang namanya handphone sudah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja. Banyak handphone yang memiliki fitur-fitur canggih, salah satunya kamera. Orang-orang menengah ke bawah bisa memiliki handphone berkamera dengan harga yang cukup murah. Nah, workshop fotografi yang diselenggarakan oleh tim akumassa Ad Hoc berangkat dari ide tersebut: bagaimana warga mampu memaksimalkan teknologi yang sudah mudah diakses tersebut menjadi medium berkarya dan aktivisme. Intinya, keaksaraan media.

Catatan workshop hari pertama, 25 Oktober 2013

Tak kami sangka, ternyata antusiasme anak-anak Paseban cukup besar. Ada sekitar 35 anak ikut serta, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Hari pertama dimulai dengan kegiatan membuat peta Paseban yang dibimbing oleh Bang Galis, seniman dan aktivis budaya dari Sanggar Budaya Paseban. Dalam proyek akumassa Ad Hoc ini, akumassa Forum Lenteng bekerjasama dengan Sanggar Budaya Paseban, komunitas yang aktif melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Paseban.

“Siapa yang tahu arah?” tanya Bang Galis kepada seluruh anak-anak.

“Saya! Saya…!” seru anak-anak menjawab.

“Utara ada di mana?” tanya Bang Galis lagi.

“Di atas!!!” anak-anak pun menjawab dengan mengacungkan tangan mereka. Aku dan kawan-kawan akumassa Ad Hoc pun tertawa, teringat gambar peta yang menunjukan arah Utara dengan jarum mengarah ke atas.

“Nah…, di sana ada apa?” tanya Bang Galis sambil menunjuk ke sebelah Utara.

“Beeennnddduuuuunggggaaaannnn…!!!” jawab anak-anak serentak.

“Berarti, di sebelah Utara ada bendungan. Nah, kita gambar di sini!” Bang Galis menggoreskan spidol di papan tulis. “Sekarang, Timur sebelah mana…? Matahari terbenam di sebelah mana?”

“Di atas!!!” kembali mereka mengacungkan jari ke atas.

Satu persatu, arah mata angin ditulis di kertas masing-masing. Di sebelah Utara ada bendungan, di Selatan ada Jalan Raya Paseban, di Timur ada rel kereta api melintang dan sebelah Barat ada sungai. Hampir semua anak hafal ketika harus menyebutkan letak-letak daerah mereka, seperti pasar Paseban, Pondok Kaleng, Gang Lontar dan Lapangan Perintis, tempat kami berada di peta. Anak-anak mengikuti gambar peta yang dibuat Bang Galis. Dan dari lokasi-lokasi yang ada di peta itu lah, kami semua memutuskan lima titik lokasi yang akan dijelajahi keesokan harinya.

Pengalaman hari pertama workshop membuatku tahu betapa tidak mudah tugas seorang guru dalam menghadapi murid-murid mereka. Dalam workshop itu, para bocah berteriak dan duduk di atas meja. Berulang kali kami, selaku pendamping, memperingatkan mereka. Apalah daya, peringatan kami tidak dihiraukan. Aku bahkan sampai merasakan tenggorokan ini sakit karena berteriak-teriak mengatur bocah-bocah, tetapi tidak dihiraukan oleh mereka sama sekali.

Ketika Bang Galis meminta anak-anak menuliskan nama lokasi di peta mereka masing-masing, ternyata ada beberapa anak yang belum bisa menulis dan membaca. Teman-teman mereka lah yang membantu untuk menulis dan mengeja huruf. Di sini, aku melihat bahwa kerjasama antara anak-anak terbangun melalui aktivitas saling membantu satu sama lain.

Setelah anak-anak selesai menggambar peta, para mentor pun mengumpulkan semua karya mereka. Ada yang gambar petanya besar, ada juga yang kecil. Akan tetapi yang membuat bingung, ternyata masih ada beberapa anak yang menggambar peta tidak lengkap, seperti tidak menuliskan nama-nama lokasi. Bahkan, ada juga yang kertasnya masih putih bersih.

Catatan hari ke dua, 26 Oktober 2013

Anak-anak sudah berkumpul di Lapangan Perintis menunggu kami. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul dua siang.

Agenda hari itu adalah anak-anak akan dibagi menjadi lima kelompok., di mana setiap kelompok akan memiliki satu pendamping. Ari mendampingi kelompok satu, aku mendampingi kelompok dua, Shiba mendampingi kelompok tiga, Anib mendampingi kelompok empat, dan kelompok lima oleh Ghembrang.

Masing-masing dari lima kelompok ini akan bertugas menjelajahi satu titik lokasi. Lima titik yang telah kami sepakati di hari pertama adalah Bendungan, Pasar Paseban, Gang Mayit, Gang Lontar dan Pondok Kaleng. Usai pembagian kelompok, pengarahan oleh pendamping, dan sesi foto bersama Mbak Ira—pekerja seni dari Sanggar Budaya Paseban yang hari itu turut hadir melihat kegiatan workshop—satu-persatu kelompok menuju titik lokasi yang telah ditentukan.

Kelompok satu dengan pendamping Ari yang beranggotakan Ayi, Hilda, Filda, Kevin, Ijal, Cinta dan Dwi, menuju Bendungan. Kelompokku, kelompok dua, yang beranggotakan Meyla, Audra, Ripda, Ahmad, Rama dan Nadia, menuju Pasar Paseban. Kelompok tiga dengan pendamping Shiba yang beranggotakan Na, Reno, Ijong, Vina dan Gea menuju Gang Mayit. Kelompok empat dengan pendamping Anib yang beranggotakan Iyung, Vino, Rafli, Alung, Jihan dan Keisha, menuju Gang Lontar. Sedangkan kelompok lima dengan pendamping Ghembrang menuju Pondok Kaleng.

Mungkin pengalamanku sebagai pendamping perjalanan anak-anak tidak jauh beda dengan pengalaman pendamping lainnya, tetapi pasti masing-masing kelompok memiliki keseruannya masing-masing dalam penjelajahan mereka. Namun, dalam tulisan ini, aku hanya akan menceritakan pengalamanku bersama kelompok dua.

Sebelumnya aku bertanya ke anak-anak, rumah siapa saja yang akan kami lewati nanti. Salah satunya rumah Meyla. Belum ada sepuluh langkah kami berjalan, anak-anak sudah siap dengan handphone kamera di tangan untuk memotret rumah Meyla. Mulai dari pagar rumah, pintu dan juga warung makan yang ada di seberang rumah Meyla. Padahal aku tidak secara langsung meminta mereka untuk memotret rumah Meyla. Mungkin, menurut mereka rumah Meyla adalah salah satu bingkaian yang harus mereka jepret: hasrat untuk mendokumentasikan hal-hal tentang teman, sesuatu yang dekat dengan diri mereka.

Perjalanan kami lanjutkan, bingkai demi bingkai Paseban pun kami rekam.

“Wih, di pasar ini banyak, ya, kak yang bisa difoto?!” seru Rama ketika langkah kami mulai memasuki Pasar Paseban.

“Memang! Ada sayuran dan buah-buahan…, orang-orangnya juga banyak. Ya, kan?” jawabku.

Mereka sibuk dengan kameranya masing-masing. Kebetulan semua anggota kelompok dua memegang handphone berkamera. Ketika di awal pembagian kelompok, aku beserta kawan-kawan pendamping lainnya sepakat untuk terlebih dahulu membagi anak-anak yang membawa handphone berkamera. Sebab, ada sebagian anak yang tidak punya. Sebenarnya, waktu pembagian kelompok, Rama dan Audra  tidak membawa handphoe. Tapi ketika akan memulai perjalan, Mama si Meyla meminjamkan handphone-nya ke Audra dan aku meminjamkan milikku ke Rama. Jadi, semua anggota kelompok dua membawa handphone yang dapat digunakan untuk merekam obyek-obyek yang menarik selama perjalanan.

Oh, iya! Dalam perjalanan itu, ada satu ‘anggota tambahan’ bagi kelompok dua, yaitu Mama Meyla. Tiba-tiba saja Mama Meyla mengikuti kami terus selama perjalanan. Jadi, ya sudah, hitung-hitung lumayan juga untuk petunjuk arah.

Anak-anak di kelompok dua peka terhadap kegiatan-kegiatan yang ada di pasar, menurutku. Misalnya, ketika ada pedagang buah sedang mengupas nanas, mereka langsung berebut untuk memotret.

“Buat apa, sih?” tanya si Ibu pedagang buah.

“Kita lagi ada workshop foto, Bu. Ini anak-anak lagi ada tour motret-motret,” jawabku, dan si Ibu melanjutkan kegiatannya.

Tidak hanya si Ibu itu yang bertanya, para pedagang lain pun turut bertanya-tanya. Di pasar itu, ada sebuah taman kecil. Yah, namanya juga anak kecil, mereka langsung bergaya untuk dipotret. Seperti Meyla, dia lebih memilih memotret dirinya sendiri di taman daripada memotret teman-temannya.

Selain para pedagang dan taman, mereka juga memotret rumah-rumah burung merpati, kambing, kucing, dan obyek-obyek yang menarik lainnya menurut perspektif mereka. Ketika kami sedang dalam perjalan pulang, kami bertemu kelompok lima yang didampingi oleh Ghembrang.

“Loh, kok, Pondok Kaleng bisa nyasar ke sini?” tanya Mama Meyla.

“Lah, kita jalan lewat sini juga, Mbak!” jawab Ghembrang dengan logat Jawa medoknya.

Kelompok dua dan lima langsung saling memotret satu sama lain. Kami pun melanjutkan perjalan menuju Lapangan Perintis. Ternyata kelompok dua lah yang mencapai finish terlebih dahulu.

Semua foto-foto hasil tour keliling Paseban itu kami kumpulkan dalam satu file di komputer, dan malam harinya Ari, sebagai penanggung jawab workshop, memilih satu foto dari setiap anak untuk diminta dinarasikan oleh masing-masing anak keesokan harinya.

Catatan hari ketiga, 27 Oktober 2013

Seperti hari-hari sebelum-sebelumnya, anak-anak sudah berkumpul di lapangan menunggu kami para pendamping. Kami kembali masuk ke dalam satu ruangan, yakni ruang kelas PAUD di Pos RW 02, Kelurahan Paseban. Suasananya tak beda dengan hari pertama, riuh ramai.

Satu persatu anak-anak dipanggil ke depan untuk menceritakan hasil jepretan mereka di hari kemarin. Kendalanya, ketika mereka harus menceritakan fotonya sendiri, mereka justru susah ngomong. Disitulah posisi pendamping yang berperan membantu anak-anak di setiap kelompok untuk bercerita tentang foto-foto mereka. Aku baru sadar ketika sesi presentasi foto ini, bahwa hasil jepretan mereka keren-keren. Rumah, jemuran baju, sungai dengan banyak sampah, lapangan, teman-teman mereka, dan sebagainya.

Di antara sekian banyak anak, ada satu orang yang mmiliki keberanian berbicara di depan kelas. Namanya Nur.

“Ini adalah rumah teman, Sulis. Aku foto rumah ini karena rumahnya menarik, banyak pepohonan,” cerita Nur dengan lancarnya. Semua orang yang ada di kelas langsung bertepuk tangan.

Anggota kelompokku tidak ada yang berani ngomong. Semuanya berbisik kepadaku dan aku menjelaskan dengan lantang ke teman-teman lainnya.

“Aku foto ini karena aku suka kucing,” bisik Ahmad dan aku menyampaikan kepada teman-teman yang lainnya.

Menurut Ari, karena spontanitas yang ada pada anak-anak dalam menggunakan handphone berkamera terhadap obyek-obyek yang dilewati selama perjalanan, hasil jepretan mereka terlihat lebih natural.

Catatan hari keempat, 28 Oktober 2013

Foto-foto yang diceritakan di hari ketiga, pada hari keempat dicetak dan dibagikan ke anak-anak. Hari itu, anak-anak diberi kesempatan untuk menuliskan harapan-harapan mereka untuk Paseban. Awalnya, mereka bingung tentang harapan-harapan itu. Ari pun memberikan contoh, tentang harapan sungai yang bersih dari sampah. Ada contoh lainnya, tapi semua contoh yang kami berikan adalah tentang suatu obyek, seperti sungai, jalan berlubang dan lainnya.

Yah, sayangnya mereka justru terpaku ke contoh-contoh itu. Seperti di kelompok dua, mereka ingin di Paseban lebih banyak lagi ditanami pepohonan dan jalan-jalan diperbaiki.

Dari semua anggota kelompok dua, harapan dari Ahmad lah, menurutku, yang paling menarik. Dia menuliskan kalimat “Tidak mau ada persaingan di Paseban”.

Menarik bukan?! Dari sekian banyak harapan tentang perbaikan jalan, sungai yang bersih, pepohonan yang rimbun, dia memilih harapan itu: sebuah harapan yang, mungkin saja, menyiratkan suatu kondisi sosial di Paseban, yang memancing rasa ingin tahu lebih jauh bagi kami yang bukan warga asli di daerah itu. Anak-anak memang tidak bisa ditebak apa yang ada di dalam pikiran mereka. Apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka ketahui.

Ketika akan menuliskan harapan di kertas, kelompok dua mengalami kesulitan. Semua anak-anak di kelompokku sudah hafal huruf-huruf alfabet, namun belum dapat merangkainya menjadi satu kata dan kalimat. Disinilah tugasku sebagai pendamping. Aku pun membantu mereka mengeja satu demi satu huruf. Seperti ketika Audra ingin menulis tentang keinginannya jalan-jalan di Paseban, aku memandunya sembari meperbaiki kalimatnya.

“A… K… U… I… N…G… I… N… J… A… L… A… N… STRIP… J… A… L… A… N… D… I… P… A… S… E… B… A… N… D… I… P… E… R… B… A… I… K… I…” tuturku ke Audra. Jadilah satu kalimat yang memberitahukan harapannya di Paseban.

***

Seperti halnya orang dewasa, anak-anak pun akan memotret hal-hal yang mereka sukai. Namun, tentu saja, ketertarikan di antara dua domain usia yang berbeda itu pun, terhadap hal-hal di sekitarnya, akan pasti berbeda pula. Bahkan, di setiap anak, juga akan punya pikiran yang berbeda. Akhirnya, hasil jepretan pun, tentunya, pasti berbeda.

Dan inilah beberapa hasil jepretan anak-anak Paseban. Bayangan masa depan akan sebuah area di Senen dari sudut pandang pribadi-pribadi yang, dengan gembira dan tanpa beban, setiap hari berkejar-kejaran, main sepak bola dan bulutangkis, bersepeda, mandi hujan, atau menghampiri rumah demi rumah, memanggil-manggil nama teman mereka di sore hari untuk menghimpun pasukan yang siap membuat kehebohan di Lapangan Perintis, atau bahkan ke setiap penjuru kelurahan: bocah-bocah Paseban.

Paseban, Senen, Jakarta, 3 November 2013

Dian Ageung Komala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s