[video]dariwarga: Mie Ayam Gerobak Pak Maman

Waktu itu, aku, Zikri dan 7 teman lainnya sedang menjalankan sebuah art project dari Program AKUMASSA Forum Lenteng. Proyek yang kami ikuti itu adalah proyek karya seni untuk mengikuti Jakarta Biennale 2013 – SIASAT. Selama Bulan Oktober, 2013, kami tinggal di markas Sanggar Budaya Paseban, Senen, Jakarta Pusat, yang didirikan oleh pasangan suami istri, Bang Gallis dan Mbak Ira.

Pada suatu hari, ketika kami sedang sibuk-sibuknya mengedit video bingkaian tentang Senen, datang Mbak Ira membawa mangkuk dan sumpit yang tertancap.

“Wah mie ayam, tuh!?” seruku kepada Mbak Ira.

Benar saja, itu mie ayam. Mie ayam pangsit Pak Maman yang sehari-harinya ngider berkeliling di sekitar Paseban. Salah satu tempat mangkalnya di Lapangan Perintis. Di situlah Mbak Ira membeli mie ayam pangsit yang dibawanya.

Karena deadline editan, aku tidak langsung bangun untuk menuju mie ayam yang kurindukan (di sekitar Paseban, jarang ada penjual mie ayam). Sekitar satu jam kemudian, Mbak Ira merelakan satu suap Mie Ayamnya untuk kulahap.

“Wah, enak banget!” seruku.

Karena sudah tidak tahan merasakan nikmat mie ayam pangsit itu, aku langsung bangun dan berjalan menuju Lapangan Perintis.

Terlihatlah di pojokan lapang, sebuah gerobak berwarna biru. Aku melihat si bapak sedang menaruh kursi plastiknya di atas gerobak.

“Pak mie ayamnya, satu!” kataku.

“Udah abis, Neng!” jawab si Bapak.

Ah! Pupus sudah harapan hari itu untuk menikmati mie ayam satu mangkuk penuh.

Esok harinya, sekitar pukul 10 pagi, aku merasakan sakit di sekitar perut. Penyakit maag! Aku memang belum sarapan pada waktu itu. Akhirnya, aku berjalan menuju Lapangan Perintis untuk membeli nasi di salah satu warung di sana. Namun, ketika berjalan di lapangan, aku melihat gerobak biru itu lagi. Tanpa pikir panjang, aku langsung membelokkan arah menuju gerobak itu dan langsung memesan satu porsi.

Aku tidak merasakan kenikmatan saat makan mie ayam pangsit super enak itu karena sakit yang melanda perutku. Belum ada setengah mangkuk yang termakan, aku memutuskan menyudahi kenikmati itu dan langsung pulang menuju kamar mandi.

Hari-hari berlanjut tanpa mie ayam pangsit.

Beberapa kali ketika aku melewati lapangan, untuk membeli rokok atau nasi, pasti mie ayam itu sedang mangkal. Pasti ada saja alasan menyimpan keinginan untuk membeli. Karena bawa uang pas lah atau karena baru selesai makan lah. Pernah bahkan, ketika aku balik ke rumah untuk mengambil uang, mie ayam itu sudah tidak ada di tempatnya. Dia sudah pergi untuk ngider ke lokasi lain.

Dan di hari terakhir aku di Paseban, aku berpapasan dengannya di gang. Tak mau rugi untuk menikmati mie ayam pangsit super enak itu, aku pun mengajak Zikri untuk membeli. Dan Mie Ayam Pak Maman memang mie ayam terenak yang aku makan selama ini.

Parungkuda, 4 Desember 2013

Dian Ageung Komala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s