Sketsa Bentang Barat

Berikut ini satu tulisan Zikri tentang Dariwarga Weekly Video ProjectSilahkan disimak!😀
___________________________________________________________

Suatu siang, saya tiba-tiba saja mengirim pesan ke Ageung melalui android: “Kamu ambil gambar pake kamera video HP, apa pun yang kamu rasa perlu diambil. Terus coba disusun! Atau, kamu menyusunnya dulu di dalam kepala urutan-urutan gambarnya, baru kemudian rekam obyeknya. Coba berimajinasi, biar pun cuma kamu yang mengerti, yang penting latihan visual dulu, dan merekam setiap hari.”

Beberapa bulan sebelumnya, saya mempelajari tentang makna yang melekat pada sebuah obyek. Menurut Kuleshov, setiap obyek itu memiliki dua makna: (1) yang melekat pada obyek itu sendiri, dan (2) makna yang dihasilkan jika obyek itu didekatkan dengan obyek yang lain. Pengertian ini, berdasarkan tulisan Eisenstein yang saya baca, merupakan salah satu prinsip dasar dari montase: kombinasi dua atau lebih obyek (yang “depictable”, atau “yang dapat digambarkan”) akan mencapai representasi dari sesuatu (yang mana sesuatu itu sulit untuk digambarkan secara grafis).

Saya pribadi sangat penasaran dengan tingkah laku Jonas Mekas, Bapak Film alternatif di Amerika, yang selalu menegaskan bahwa sesuatu yang sudah tertangkap di dalam frame kamera adalah sebuah kenyataan yang baru dan berbeda dengan kenyataan yang sesungguhnya. Contohnya, sepeda di depan kamar kosan saya adalah “sepeda teman saya”. Jika sepeda itu saya rekam dengan kamera video maka sepeda yang ada di dalam frame itu bukanlah “sepeda teman saya”, tetapi “sepeda saya”. Saya memiliki kuasa untuk melakukan apa pun terhadap “sepeda saya” itu, misalnya mengobrak-abrik bentuknya dalam proses editing atau memberikannya makna baru dengan cara mengkombinasikannya dengan gambar yang lain.

Dalam karya-karya video Jonas Mekas, gagasan itu terlihat. Misalnya, pada salah satu karyanya yang berjudul “Pleasures of Montauk, May 26th, 1973”, Jonas Mekas mengkonstruksi suatu kronologi adegan seperti catatan harian. Sepertinya, shot demi shot di dalam karya itu merupakan rekaman peristiwa dari waktu dan tempat yang berbeda, yang bahkan tidak saling-berkaitan satu sama lain. Akan tetapi, bagi Jonas Mekas, kumpulan peristiwa-peristiwa yang ia alami itu telah menjadi “miliknya’ saat peristiwa-peristiwa itu masuk ke dalam frame kamera yang ia pegang. Ia bisa melakukan apa saja: mengobrak-abrik gambarnya, mempercepat durasinya, memadukan gambar dari obyek yang satu dengan gambar dari obyek yang lain. Jonas Mekas membuat puisi. Mungkin, pada derajat tertentu kita sulit memahami maksud karya video ini, tetapi kita bisa menikmatinya sebagai sebuah susunan tanda-tanda yang mencirikan gaya bahasa khas Jonas Mekas. Bagi saya sendiri, karya video Jonas Mekas adalah “gaya bahasa mimpi” (Maksud saya, karya video Jonas Mekas yang satu ini bukan berbicara tentang mimpi, melainkan cara penuturannyalah yang persis seperti visual-visual yang saya alami ketika bermimpi, atau dengan kata lain, karya videonya adalah mimpi itu sendiri).

Jonas Mekas juga pernah mengatakan dalam salah satu wawancaranya bahwa video yang sifatnya harian memiliki peluang untuk diolah terus-menerus dan menghasilkan banyak ragam bentuk. Intinya, merekam setiap hari dan mencoba mengolah atau menyusunnya menjadi rangkaian, baik naratif maupun tidak. Anjuran dari Jonas Mekas ini yang menjadi motivasi saya untuk mengajak Ageung mulai merekam dan menyusun.

Ageung sempat kesal juga, pada awalnya, karena saya mendorong-dorongnya terus untuk merekam, bahkan sampai di titik memaksa. Hahaha! Tapi, sedikit demi sedikit, ia mulai menikmati permainan ini. Ageung bercerita kepada saya bahwa ia ingin membuat suatu susunan tentang “mengintai” dari balik beranda lantai dua, rumah bibinya. Kebetulan, waktu itu Ageung sedang berada di Ciputat menemani neneknya yang sedang sakit di rumah sang bibi.

Ageung pun mengambil rekaman demi rekaman. Dari balik berandanya, Ageung menempatkan kamera pada posisi “mata yang mengintip” atau “mengintai” aktivitas warga di belakang rumahnya. Footage yang didapatkan Ageung, antara lain: ada mobil di balik pohon, ada bapak-bapak sedang menyapu pasir, ada bocah-bocah bermain sepeda, ada orang lalu-lalang, dan sebagainya. Idenya, akan terlihat dalam susunan video yang ia buat setelah itu, kamera terus mengintai hingga nantinya “intaian si kamera” terpaksa harus berhenti saat ada angin berhembus kencang. Ide itu kemudian ia gambarkan dalam buku catatan, dan kami berdiskusi mengenai obyek-obyek di dalam frame dan menentukan bagian pada menit keberapa saja yang harus dipotong untuk dimasukkan dan disusun dalam konstruksi video yang akan ia buat.

Oh, iya! Ageung sendiri sempat mengatakan bahwa ia terinspirasi—dan ingin mencoba membuat seperti—karya video BE RTDM (Hafiz & Otty Widasari, 2006). Di website EngageMedia, diutarakan bahwa BE RTDM merupakan:

“Dokumenter tentang kota Rotterdam. Sebuah essai pendek pengalaman sebagai turis yang datang ke kota pelabuhan yang penuh dengan tanda-tanda perubahan yang berbeda dengan kota-kota lain di Belanda.”

Tapi Ageung merasa terlalu berat jika harus membuat essai sehingga ia memilih hanya membuatnya dalam bentuk penuturan biasa saja: deskripsi dengan gambar bergerak.

Aspek naratif pada karya Ageung, yang ia beri judul Bentang Barat, mungkin di mata kita akan terasa sangat minim. Di mata saya sendiri, video ini lebih sebagai medium teropong untuk melihat-lihat apa saja yang ada di belakang rumah bibi Ageung di Ciputat, dan karena meneropongnya menggunakan frame kamera digital, Ageung sepertinya mencoba bermain dengan durasi. Keunggulan kamera yang berfungsi untuk “merekam” dan menjerat/mengabadikan peristiwa riil ke dalam frame menjadi kenyataan yang baru (“kenyataan punya Ageung”), memancing kita untuk menunggu momen yang tepat agar koleksi rekaman yang didapatkan, bagus hasilnya. Angin kencang dalam Bentang Barat, misalnya, adalah momen yang ditunggu-tunggu Ageung untuk memutuskan berhenti “mengintip” atau “mengintai”. Di rentang waktu penungguan itu, Ageung mengulang-ulang lihatannya, dari sisi pagar sebelah kiri ke sisi pagar sebelah kanan, berkali-kali “mengintip” warga, lalu sesekali diam dan memperhatikan orang-orang dengan durasi yang lebih lama. Rekaman-rekaman inilah yang ia susun menjadi sebuah karangan.

Karya video Bentang Barat ada dua versi. Pada versi pertama, karena keterbatasan alat, Ageung hanya menuliskan konstruksinya di buku catatan, dan meminta saya agar meng-edit video tersebut sesuai rancangan konstruksi yang telah ia buat. Ketika karya itu diunggah ke Vimeo, Ageung merasa belum puas dan memutuskan untuk meng-edit sendiri (Ageung bela-belain datang ke Depok hanya untuk men-edit karya videonya di laptop saya. Hahaha!).

Bentang Barat [Versi 01] dan Bentang Barat [Versi 02] adalah dua di antara beberapa karya video yang termasuk dalam Dariwarga Weekly Video Project. Proyek ini kami gagas berdua sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan diri merekam setiap hari, menyunting video setiap minggunya, dan mengelola blog sesering mungkin. Tujuannya: belajar media. #asyek

Semoga saja kegiatan ini dapat terus berlangsung dan Dariwarga bisa menghasilkan karya-karya video yang baik. Teman-teman pembaca sekalian bisa mengunjungi channel video Dariwarga di youtube.com atau channel video Dariwarga di vimeo.com. Selamat menikmati. #yamaaan

Satu pemikiran pada “Sketsa Bentang Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s