Bagian Kampung Sawah

Senang dan bahagia sekali rasanya! Akhirnya, proyek [cetak]dariwarga yang pertama rampung juga. Meskipun belum sampai pada proses cetak, namun buku yang diberi judul “Bagian Kampung Sawah” ini sudah ada versi E-Book nya, lho! Hehehe…

Desain sampul Buku Bagian Kampung Sawah (Project of [cetak]dariwarga)
Desain sampul Buku Bagian Kampung Sawah (Proyek jurnalisme warga: [cetak]dariwarga)

Proyek ini sudah sempat diserukan oleh Zikri di blognya, dengan postingan berjudul “Proyek [cetak]dariwarga“, yang sedikit banyak menjelaskan konsep serta maksud dan tujuannya. Sedikit bocoran, isi buku ini adalah kumpulan tulisan gaya jurnalisme warga, yang sudah pernah dimuat di dalam blog ini. Aku, Zikri dan Alit mencoba menyeleksi beberapa karya tulisan kemudian mengkurasinya menjadi sebuah buku.

Terimakasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Uda Riosadja, yang sudah bermurah hati menyulap foto sederhana hasil jepretanku di suatu siang menjadi sampul buku yang sangat menarik. Tanpa bantuannya, tentunya buku ini tidak akan pernah rampung (soalnya, Zikri juga belajar banyak kepada Uda Rio mengenai dasar-dasar tata pengaturan layout dengan menggunakan Adobe InDesign).

Untuk Zikri dan Alit, juga terimakasih, ya!. Sebab, atas dorongan mereka berdua, semangatku untuk membuat buku ini (yang sempat tertunda berbulan-bulan) kembali bergelora. Hehehe…

Hm… tidak ada rencana untuk menerbitkannya secara luas, sih! Buku ini hanya akan dicetak terbatas dan akan dibagi-bagikan ke orang-orang terdekat (doakan semoga tabunganku terkumpul dan bisa mencetaknya di percetakan yahud dengan hasil terbaik, ya! Amin…). Dan pastinya, tidak komersil!

Bagi teman-teman pembaca yang ingin menyimak buku ini, bisa mengakses versi e-book. Caranya, cukup kirim email ke parungkuda.sukabumi@gmail.com atau diankomala15@gmail.com. Kami pasti akan mengirimnya dengan senang hati. Untuk sementara ini, menu “unduhan”-nya belum di-display pada blog ini karena pertimbangan bukunya sendiri belum dicetak. Hahaha! Janji, deh! Setelah dicetak, minimal, satttuuuuu ajah…!, versi online akan segera dipublikasikan, dan orang-orang bebas mengaksesnya secara bebas dan memanfaatkannya untuk kepentingan pendidikan dan distribusi pengetahuan.

Sekian dulu info terkait Proyek [cetak]dariwarga. Semoga bukunya segera cetak, dan untuk di masa yang akan datang, proyek-proyek lanjutan [cetak[dariwarga dapat menghasilkan karya-karya yang lebih, lebih, dan lebiiiiih baik lagi. Amin.

Terimakasih. 😀

Parungkuda, 11 Juli 2013

Ageung

Iklan

Ulang Tahun Randi dan Indah

Pesta ulang tahun Randi dan Indah
Pesta ulang tahun Randi dan Indah

Satu-persatu tamu datang, anak-anak kecil membawa bingkisan yang terbungkus kertas berwarna-warni. Mereka adalah teman-teman sepermainan adikku, Randi, yang hari ini akan meniup lilin ketiganya. Randi lahir di hari ke tujuh di bulan Mei pada tahun 2009 lalu. Atas kesepakatan aku dan Ibu, akhirnya kami merayakan hari lahirnya itu pada tanggal dua belas Mei 2013, di hari Minggu ini.

Tamu-tamu cilik; teman-teman Randi
Tamu-tamu cilik; teman-teman Randi

Seharusnya, acara dimulai pada pukul sepuluh pagi, tetapi karena tamu yang diundang belum datang semuanya, acara pun diundur.

Sudah dari seminggu lalu, Ibu dan aku menyiapkan keperluan untuk acara ulang tahun Randi. Berbelanja untuk bingkisan yang akan dibawa pulang nanti oleh para tamu, berbelanja bahan-bahan kue, dan aksesoris yang akan dipajang nantinya.

Ibu sedang membuat kue ulang tahun
Ibu sedang membuat kue ulang tahun
Ibu sedang membuat kue bagi para tamu undangan
Ibu sedang membuat kue bagi para tamu undangan
Mempersiapkan bingkisan untuk para tamu undangan
Mempersiapkan bingkisan untuk para tamu undangan

diankomala_dariwarga_ulang-tahun-randi-dan-indah_09 diankomala_dariwarga_ulang-tahun-randi-dan-indah_08

Di bulan Mei ini, tidak hanya Randi yang berulangtahun. Aku dan Indah, adikku yang kemarin baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolahnya, lahir di bulan yang sama. Aku lahir pada tanggal lima belas, sedangkan Indah tanggal dua puluh dua. Pada tanggal dua belas ini, Ibu ingin merayakan ulang tahun kami bertiga. Jadi, momen tanggal dua belas ini adalah perayaan hari jadi trio kakak-beradik.

Randi
Randi
Indah
Indah

Sekitar pukul sebelas, acara pun dimulai. Ibu membuka acara dengan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para tamu yang telah menyempatkan waktunya. Setelah itu, Wa Eye, kakak Ibu, menggantikan Ibu untuk sesi pembacaan doa syukur. Tiga kali membaca surat al-fatihah sudah cukup bagi kami.

diankomala_dariwarga_ulang-tahun-randi-dan-indah_07

diankomala_dariwarga_ulang-tahun-randi-dan-indah_14

diankomala_dariwarga_ulang-tahun-randi-dan-indah_10

Kemudian… Ini lah sesi yang paling ditunggu-tunggu Randi, yaitu menyanyikan lagu medley ulang tahun yang diiringi oleh tepuk tangan dari teman-temannya, dan tentunya sesi meniup lilin. Acara langsung meriah dan cukup riuh bagiku. Maklum, teman-teman Randi kebanyakan balita usia dua hingga lima tahun.

Ulang Tahun Randi dan Indah from Dian Komala on Vimeo.

Tidak banyak susunan acara yang diadakan. Selesai meniup lilin, Ibu, beraksi dengan gunting, memotong benang yang mengikat balon warna-warni di langit-langit teras rumah,kemudian membagi-bagikannya kepada para tamu. Anak-anak pun lebih heboh lagi. Mereka saling berebut balon.

Ibu beraksi membagikan balon kepada para tamu cilik.
Ibu beraksi membagikan balon kepada para tamu cilik.

Sesi terakhir, yakni pembagian bingkisan, adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para tamu cilik. Sesi itu adalah penanda bahwa acara telah selesai…

diankomala_dariwarga_ulang-tahun-randi-dan-indah_11

Setelah teman-teman Randi pulang, acara pesta ulang tahun ini dilanjutkan dengan silaturahmi teman-teman Ibu, berupa makan bersama di rumah.

Membongkar kado
Membongkar kado

Selamat ulang tahun Randi dan Indah, semoga kalian bahagia selalu. Dan pastinya, dengan bertambah usia, kalian tidak akan bikin kesel tetehmu ini lagi. Hehehe.

Parungkuda, 12 Mei 2013

Ageung

Kuliah untuk Insentif??

404519_381173311894172_574656990_n

Pada tahun 2011, aku mulai mengajar di sebuah Taman Kanak-Kanak (TK), berawal ketika aku sedang menjalani kursus kependidikan guru TK atau kami biasa menyebutnya KPG TK. Setelah beberapa bulan menjalani kursus, aku diberi penawaran oleh pihak yayasan KPG TK untuk mulai magang di sebuah Taman Kanak-kanak di daerah Sumber Rejo, Balikpapan Tengah. Tanggal 8 Agustus 2011, aku mulai magang di TK Mutiara Bunda dengan jumlah peserta didik sebanyak 41 siswa. Di TK Mutiara Bunda, terdapat tiga Rombel (rombongan belajar), aku mengajar di kelas A. semuanya berjalan lancar dan menyenangkan, sampai aku diangkat jadi Guru Tetap di TK Mutiara Bunda.

485902_552131321465036_1220825577_n

Setiap bulannya, kami mengadakan rapat Kelompok Kerja Gugus (KKG). Dari sana lah aku mulai mendengar informasi tentang validasi dan insentif. Aku belum mengerti apa yang dimaksud dengan validasi dan insentif. “Aku akan bertanya saja pada Bu Retno saat di sekolah,” pikirku. Bu Retno adalah guru yang mengajar di kelompok B.

534022_459199097424926_1994720120_n

Ternyata, validasi adalah kegiatan pemeriksaan perangkat pembelajaran di TK oleh pengawas dari Diknas. Lalu aku bertanya, “Bu, aku ikut validasi juga, kah?”

“Iya lah kamu ikut juga,” jawab Bu Retno. “tapi, kan kamu belum punya NUPTK, jadi tidak dapat uang validasi.”

Nah, aku tambah bingung, apa lagi itu NUPTK.

“NUPTK itu apa, Bu?”

“Itu, loh, Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan,” jelas Bu Retno. “tapi kamu, kan belum dua tahun ngajar, jadi belum bisa ngurus NUPTK. Lagian sekarang harus S1 kalau mau ngurus NUPTK”.

Ooh jadi gitu toh.

Setelah aku bertanya sana sini, akhirnya aku dapat jawaban perihal validasi dan insentif.  Validasi adalah pemeriksaan perangkat belajar seperti Rencana Kegiatan Harian, Program Semester, Program Tahunan, Rangkuman Penilaian dan lain-lain. Sepertinya, ada 14 perangkat seluruhnya yang harus dikumpulkan oleh satu orang guru. Dan setelah validasi guru-guru yang sudah mempunyai NUPTK akan mendapat tunjangan sebesar  Rp. 300.000/ 6 bulan. Sedangkan insentif adalah tunjangan profesi yang diberikan pemerintah pusat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jumlah uang tunjangan yang diperoleh oleh setiap guru yang telah memenuhi syarat, yaitu sebesar Rp. 700.000/ 3 bulan.

10274_506842042660631_689091471_n

Tujuan dari pemberian insentif sendiri, yaitu untuk meningkatkan kualitas mengajar guru-guru dan penyetaraan. Aku mendengar isu kalau ternyata tahun 2014 semua guru Taman Kanak-Kanak harus S1 Paud. Dan yang belum S1 Paud, namanya akan dihapus dari database penerima tunjangan fungsional. Dengan adanya isu tersebut, guru-guru yang belum S1 berlomba-lomba masuk Universitas jurusan S1Paud. Aku pun mendengar teman-teman seprofesi yang bercerita tentang bagaimana mereka mendapatkan uang untuk kuliah. Ada yang pinjam ke bank, pinjam tetangga, ya pokoknya pinjam sana-sini buat kuliah. “Lan sayang kalau nggak dapat insentif, uang gaji sih buat jajan anak saja pas-pasan” celoteh temanku.

550863_459200364091466_1755814654_n 534157_459200684091434_2075940135_n 248011_459201534091349_281643644_n 208964_459180134093489_1916950052_n 600684_459199497424886_1712176196_n

Jadi, intinya mereka kuliah hanya untuk mempertahankan tunjangan saja, sedikit sekali yang berniat kuliah karna benar-benar ingin meningkatkan kualitas mengajar. Sayang sekali, semoga niatku untuk kuliah tidak berubah hanya karena adanya tunjangan dari pemerintah.

Balikpapan, 30 April 2013

Alit

lagak si raksasa

dariwarga_lagak si raksasa_ageung_01

Dari kemarin-kemarin, Zikri selalu saja menagih tulisanku tentang pabrik. Kenapa harus pabrik? Karena kini lingkungan itu menjadi tempat aku menghabiskan waktu, seharian. Untuk apa? Tentu saja untuk bekerja. Kata Zikri, “Seharusnya kamu punya banyak cerita yang menarik untuk bisa ditulis!” Oke, tanpa dibilang pun, aku sudah tahu. Makanya, aku menulis.

Pekerjaan ini memang benar-benar menyenangkan. Aku menemukan banyak hal unik yang sebelumnya tak pernah kuduga ada di lingkungan kelas buruh pada sebuah pabrik yang terletak di lokasi bernama Angkrong—sebuah pertigaan yang saban hari dipenuhi oleh barisan sepeda motor ojek dan angkot—sebuah pabrik di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Mulai dari ritual upacara di pagi hari, coretan-coretan di dinding kamar kecil (yang terlihat seperti history percakapan di Yahoo Messenger), hingga aktivitas “perdagangan gelap” jualan cireng di antara para buruh pada jam kerja.[1]

Sebulan sudah aku menjadi seorang buruh di lingkungan pabrik itu. Banyak hal yang dapat diperbincangankan dari dalam sana. Di tulisan kali ini, aku ingin berbagi cerita tentang suatu hal yang membuat kita semua bekerja untuk mendapatkannya, yaitu gaji. Gaji di pabrik tempat aku bekerja itu, para buruh mendapatkan nominal gaji yang berbeda-beda. Ya, tergantung pada jabatan mereka.

***

Hari itu 18 Februari 2012, pukul delapan pagi aku berlari-lari menuju pos satpam dengan membawa amplop berwarna cokelat berisi persyaratan melamar kerja karena hari sudah cukup siang untuk jam kerja. Di sana sudah ada sekitar sepuluh orang perempuan pelamar lainnya yang membawa harapan sama sepertiku. Di sekitar pabrik itu, hanya kami yang terlihat berada di pos satpam sementara buruh-buruh yang sudah resmi menjadi pegawai telah “ditelan oleh raksasa”.[2] Dari gerbang, datang seorang pria setengah baya dengan motor besarnya melenggang melewati pos satpam yang berada persis di samping gerbang. Dia menggunakan topi wol pegawai villa, jaket dan tak lupa sarung tangan. Meski hari itu matahari sudah muncul terang, tapi udara dingin tidak juga menghilang.

Pria itu akhirnya aku ketahui bernama R, setelah dia masuk ke dalam pos dan memperkenalkan diri. Para pelamar lain menyodorkan amplop-amplop mereka kepada R, aku pun mengikuti mereka. Asumsiku saat itu, R adalah pegawai yang ditugaskan untuk melayani para pelamar kerja yang datang. Amplop-amplop itu kemudian dia taruh di bagian pojok meja. Hanya satu sampai tiga amplop yang dibukanya, salah satunya amplop dariku.[3]

Pidato pertama yang R kemukakan adalah tentang dua peraturan yang ada di pabrik tersebut bagi karyawan baru. Dan keduanya seputaran gaji. Pertama, karyawan akan dianggap sebagai karyawan magang pada dua bulan pertamanya bekerja. Sehingga upah selama dua bulan itu akan dibayar perharinya sebesar Rp. 28.030. Mengingat Upah Minimum Regional (UMR) di Kabupaten Sukabumi adalah Rp. 1.201.000, upah yang didapatkan oleh karyawan baru kurang lebih adalah setengahnya. Itu adalah kebijakan yang dibuat oleh pabrik tempatku bekerja. Tapi, bukankah kesepakatan tentang UMR itu telah ditandatangani oleh Gubernur Jawa Barat? Kedua, uang ‘gantungan’ akan diberikan jikalau karyawan sudah bekerja lebih dari satu minggu. Gantungan itu, maksudnya, upah tiga hari menjelang gajian yang disimpan oleh pihak pabrik yang akan dibagikan ketika karyawan tersebut keluar atau berhenti.

Kedua peraturan itulah yang aku dan kawan-kawan dengar. Di antara kawan-kawanku itu, ada beberapa orang yang sebelumnya sudah pernah bekerja di pabrik itu. Lalu, muncul pertanyaan dari salah seorangnya, “Saya pernah bekerja di sini selama tiga tahun, apakah upah saya sama seperti para pelamar baru lainnya?”

“Tentu saja, tapi kami akan lihat kinerja Anda terlebih dahulu!” R menanggapi.

Setelah tak ada pertanyaan lain, kami diminta untuk kembali esok hari untuk memulai pekerjaan dengan membawa materai tiga ribu dan sandal jepit.

***

Di bagian belakang rumahku ada kamar kosong. Untuk menambah penghasilan, Ibu menyewakannya kepada seorang perempuan paruh baya, namanya Teh A. Dia bekerja di pabrik yang sama denganku. Aku jadi merasa ada kawan seperjuangan di rumah. Tak jarang, kami sering bertukar cerita tentang pekerjaan di hari-hari yang kami jalani.

Sebelumnya, Teh A bekerja di perusahaan yang sama, tetapi cabang kedua. Namun, dia berhenti dan memutuskan bekerja di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga. Kini, dia memutuskan kembali bekerja di pabrik, dan pilihannya jatuh kepada pabrik cabang pertama. Dia melamar ke pabrik ini sebagai karyawan baru meskipun sebelumnya sudah pernah bekerja di perusahaan yang sama[4].

Meskipun aku dan dia sama-sama pegawai baru, tapi gaji kita berbeda. Dan cara penghitungannya pun berbeda. Aku diupah perhari, sedangkan Teh A perjam. Pegawai yang dibayar perjam sering disebut dengan kata ‘borongan’. Biasanya para pelamar yang tidak memiliki ijazah sekolah akan mendapat bagian borongan ini. Sehari-harinya, Teh A berkutat dengan kertas-kertas tisu yang dibuat menggumpal menyerupai bola. Bola itu nantinya akan dipakai untuk mengganjal wig yang akan dipak.

Aku sebagai karyawan baru diupah sebesar Rp. 28.030 perharinya, sedangkan Teh A sebagai karyawan baru di bagian borongan diupah sebesar Rp. 3.000 perjamnya. Setelah dua bulan lamanya, gaji akan naik menjadi Rp. 3.700 perjamnya. Dan lagi-lagi aku bertanya, apa kabarnya kesepakatan tentang UMR yang ditandangani oleh Gubernur Jawa Barat?

***

Kata lemburan sangat melekat dengan pekerjaan dan para pekerja. Bukan pabrik, namanya, kalau tidak ada lemburan. Maksudnya, tambahan jam kerja. Hak dan kewajiban jam kerja untuk para pekerja umumnya adalah delapan jam dalam sehari. Begitu juga dengan tempatku bekerja itu, kami bekerja dari pukul setengah delapan pagi sampai dengan setengah empat sore. Setelah pukul setengah empat sore, bagi yang tidak diijinkan pulang akan kebagian jatah lembur. Tambahan jam kerja ini dibayar dengan tarif perjam sebesar Rp. 6.900. Bagi karyawan sepertiku yang saat ini masih menjadi karyawan magang, lemburanku dibayar sebesar Rp. 4.800 perjamnya. Dan untuk Teh A yang berada dibagian borongan, tidak ada istilah lemburan, karena mereka dibayar perjam.

Lemburan dibagi menjadi dua periode, yaitu pukul enam sore dan pukul setengah sembilan malam. Biasanya, bagian borongan akan diijinkan pulang pukul setengah sembilan setiap hari kerja. Setelah bekerja selama dua minggu, aku selalu mendapat tugas lembur, minimal sampai pukul enam sore. Tak jarang, saat hari-hari menjelang tenggat waktu ekspor barang oleh perusahaan tempatku bekerja itu, aku pulang setengah sembilan malam. Dan kini, aku benar-benar ditelan oleh raksasa itu.

Pernah satu kali aku berangkat kerja bersama Teh A. Maklum, biasanya kalau jarum jam belum menunjukkan pukul tujuh pas, aku enggan untuk berangkat. Teh A biasanya berangkat pukul setengah tujuh, katanya sih biar bisa istirahat dulu sebelum kerja. Dalam perjalanan, Teh A bergosip tentang Oni (panggilan untuk bos Korea) yang marah. Gosip ini tak jauh-jauh dari soal gaji.

Katanya, biasanya perusahaan tempatku bekerja itu mengeluarkan uang untuk membayar gaji karyawan sebesar Rp. 6 milyar setiap bulannya. Akan tetapi pada bulan ini, pengeluarannya membengkak hingga sebesar Rp. 8 milyar. Menurut gosip yang beredar di kalangan buruh, kemarahan Oni muncul karena ia merasa bahwa membengkaknya pengeluaran itu disebabkan oleh terlalu banyaknya pekerja yang kebagian jatah lemburan.

Gosip ini wajar muncul di kalangan para buruh. Sebab, beberapa hari ini kami jarang mendapatkan lembur sampai pukul setengah sembilan malam. Pada hari-hari sibuk, seperti menjelang ekspor barang pun, kami tetap pulang pukul enam sore. Gosip lainnya menyebutkan bahwa membengkaknya pengeluaran perusahaan disebabkan juga oleh semakin bertambahnya karyawan-karyawan setiap harinya. Menurut Teh A, katanya penerimaan karyawan baru yang terus-menerus bertambah itu merupakan salah satu cara Oni untuk berjaga-jaga jikalau ada karyawan yang memutuskan untuk berhenti kerja.

***

Tanggal lima adalah tanggal yang paling ditunggu-tunggu oleh para buruh pabrik: waktunya gajian! Pada pukul setengah empat sore, nomor yang tertera di time-card[5] karyawan dipanggil satu persatu. Tapi pemanggilan itu sebenarnya tidak berpengaruh banyak, karena buruh-buruh sudah berkerumun di pos-pos pembagian gaji. Para pekerja ini seolah tak sabar untuk melakukan semacam pesta-foya membeli berbagai barang, baik bagi keperluan pokok maupun barang-barang tersier lainnya.

Tidak hanya parah buruh pabrik yang menunggu-nunggu tanggal lima, para pedagang yang biasa mangkal di pekarangan si ‘rakasasa’ pun menunggu dengan ragam atribut dagangannya: terpal lebar, kayu-kayu penyangga tenda, persis seperti bazaar di acara-acara besar semacam festival atau sejenisnya. Ini lah pesta versi buruh di pabrik tempaku bekerja itu.

Aku sering bercerita kepada Zikri tentang peristiwa massa yang terjadi di tanggal lima itu. Memang, sebagai karyawan baru, aku juga mendengarnya dari buruh-buruh yang sudah lama bekerja. Pokoknya, tanggal lima adalah tanggal untuk menghambur-hamburkan uang.

“Widih, kaya, dong?! Padahal gajinya cuma segitu… berapa, gak nyampe dua juta, kan?” ujar Zikri satu kali.

“Iya, tapi bagi masyarakat sini itu udah banyak banget! Hidup di sini kan gak mahal,” aku menanggapi.

Jawaban itu berdasarkan pengalamanku selama berada di Parungkuda. Rata-rata harga barang kebutuhan di sini memang murah. Dengan kata lain, dengan penghasilan seadanya, masyarakat dapat hidup ‘mewah’ dan mengkonsumsi barang-barang yang tak kalah mode dengan masyarakat kelas menengah ke atas.

Lain halnya dengan di Ibukota, Jakarta, tentu biaya penghidupan sangat tinggi. Gaji yang kurang dari dua juta tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Aku ingat, pernah melihat beberapa buruh di pabrik yang mengenakan seragam dari nama perusahaan lain, yakni PT. M. Logo perusahaan itu sama dengan pabrik tempaku bekerja. Menurut dugaanku, itu semacam cabang perusahaan pabrik ini. Katanya, sih memang di setiap periode tertentu, selalu ada karyawan dari PT. M di Jakarta yang dialihkerjakan ke pabrik ini di Parungkuda untuk sementara waktu. Tapi, gosip baru yang beredar belakangan ini mengatakan bahwa perusahaan tempatku bekerja ini memang punya agenda akan membangun sebuah pabrik baru di Parungkuda, yang nantinya akan diisi oleh karyawan-karyawan di PT. M Jakarta itu. Beberapa kawan sesama buruh sempat menceritakan gosip bahwa PT. M di Jakarta itu hampir bangkrut karena terkendala oleh tuntutan membayar gaji buruh sesuai batas UMR DKI Jakarta. Beberapa kawan buruhku menduga bahwa karena UMR di Jakarta itu sekitar dua juta-an, PT. M memutuskan pindah ke Parungkuda supaya dapat membayar gaji sesuai dengan UMR Kabupaten Sukabumi. Dengan kata lain, mendapatkan tenaga kerja dengan tarif murah.

Nah, ini sesuatu yang menarik menurutku. Berangkat dari menimbang-nimbang soal gaji yang kuterima setiap bulannya, ternyata aku mendapati kenyataan bahwa sistem memang bisa bermain-main dalam hal ini. Ujung-ujungnya, buruh dan kelas bawah lagi yang menjadi korban. Sampai kapanpun, si raksasa tidak akan pernah kenyang, dia akan terus menelan begitu banyak buruh tanpa harus membayar mahal. [6]

Parungkuda, 31 Maret 2013

Ageung


[1] Ketiga topik itu akan aku ceritakan lain waktu. Beneran, dah!

[2] Aku menggunakan istilah “ditelan oleh raksasa” ini karena teringat dan terinspirasi dari karya sastra Umar Kayam dalam buku kumpulan cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, berjudul “Istriku, Madame Schiltz dan Sang Raksasa”. Dalam cerita itu, istri si pencerita (Umar menggunakan kata ‘istriku’ dalam cerita itu) selalu ngomel setiap malam tentang ‘raksasa’ yang menelan orang-orang; setiap pagi orang-orang bergerombol kemudian siang hari lenyap ditelan ‘raksasa’, lalu akan muncul lagi petang hari. Hal ini yang aku alami selama menjadi buruh. Orang-orang berbondong-bondong menuju Angkrong, sekejap kemudian lenyap masuk ke dalam pabrik, dan petang hari kembali ramai untuk pulang ke rumah masing-masing. Menurut perdebatanku dengan Zikri, ‘raksasa’ itu adalah konotasi dari ‘pabrik’ (gedung pencakar langit) atau sistem kapital/industri (Amerika) yang ‘menelan’ para buruh ke wilayah pekerjaan yang mengikat.

[3] Aku tahu bahwa dari sekian banyak amplop yang ada, amplopku adalah salah satu di antara beberapa amplop yang dibaca karena setelah penerimaan selesai, dia bertanya padaku, “Dian Komala yang nulis di blog itu, ya, yang katanya kerja di pabrik itu enak?”

[4] Pabrik tempatku bekerja ini memiliki tiga cabang pabrik di Parungkuda.

[5] Para buruh menyebutnya name-card, tetapi sejauh pengamatanku kartu itu lebih tepat disebut time-card karen fungsinya mencatat absen, pukul berapa kita masuk dan pulang kerja. Memang di kartu tersebut tertera nama buruh, bidang pekerjaan dan nomor, tetapi fungsinya tidak lebih dari sekedar kartu absen yang mencatat bukti durasi kerja masing-masing buruh. Kartu itu tidak seperti kartu nama yang bisa dibawa-bawa buruh menjadi kartu identitas atau kartu pengenal, seperti KTP atau SIM.

[6] Tulisan ini telah mengalami revisi, berupa pergantian nama orang dan perusahaan menjadi inisial. Hal ini aku lakukan atas pertimbangan agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Tulisan ini murni catatan harian di sebuah blog tentang pengalaman pekerjaan baru yang aku geluti sekarang, dan tanpa ada maksud untuk merusak nama baik pihak tertentu atau mencari keuntungan pribadi.

rumah sewa tanah

Dulu, rumahku di atas, tepat di pinggir Jalan Raya Parungkuda, di dataran tanah yang lebih tinggi dari pada tanah tempatku berada sekarang. Dulu, aku sering bermain di sini. Daerah ini awalnya merupakan lahan persawahan. Aku sering menangkap capung menggunakan kayu yang ujungnya diikat plastik sebagai pengganti jaring. Kalau misalnya musim panen, aku sering bermain di tumpukan padi kering sampai kulitku gatal-gatal.

Dulu, sekitar tiga belas tahun yang lalu.

Photo-0014

Sekarang, area ini telah berubah menjadi area pemukiman masyarakat. Tidak ada lagi terlihat sawah di sekitar sini. Yang ada hanyalah rumah-rumah warga RT 04/04, Desa dan Kecamatan Parungkuda, Kota Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Jika dilihat dari pemandangan jauh, dari daerah atas, atau dari pinggir rel kereta, misalnya, rumah-rumah warga ini membentuk petak-petak bangunan yang berdiri samping-menyamping atau saling depan/belakang dengan rapat. Di antara rumah-rumah, jalan-jalan tikus menyempil; setapak yang setiap harinya kulalui: dari dan ke pasar, dari dan ke stasiun, dari dan ke jalan raya, dari dan ke mana pun. Dari sekian banyak rumah itu, salah satunya adalah rumahku yang sekarang.

Photo-0019

Aku menempati rumah ini sekitar penghujung tahun 2001, saat Indah, adik bungsuku, berumur dua tahun. Waktu itu, aku duduk di kelas 6 tingkat Sekolah Dasar. Keluargaku membeli rumah ini seharga enam belas juta rupiah, dengan dua kali pembayaran. Aku lupa pada tanggal berapa kami mulai pindah ke rumah ini. Yang jelas, angsuran pembayaran pertama, seharga sepuluh juta rupiah, dibayar oleh ayah beberapa saat sebelum kami pindah, sedangkan enam juta sisanya dibayarkan beberapa bulan setelah kami menempati rumah ini. Aku ingat, pembayaran kedua itu adalah Bulan Juli di tahun 2002, ketika aku akan masuk ke Sekolah Menengah Pertama.

Photo-0016

Ada cerita yang tak pernah kulupa, hari-hari yang mengesalkan bagiku, ketika keluargaku harus membayar sisa uang rumah ini. Saat itu, ibu dan ayah sedang berada di Jambi sementara tenggat waktu pembayaran rumah telah lewat. Si pemilik rumah sebelumnya menuntut uang pembayaran tanpa mau peduli bahwa kedua orangtuaku sedang berada di luar kota. Tanpa ada pemberitahuan apa-apa, rumahku dikunci oleh si pemilik sebelumnya sehingga aku terpaksa mengungsi ke rumah Wa Eye, kakak ibu, yang ada di depan rumahku (rumahku dan rumahnya dipisahkan oleh kolam ikan). Karena kesialan ini, aku mengalami kesulitan ketika mengambil surat-surat yang aku perlukan untuk mendaftar ke SMP. Namun, pada akhirnya, berkat bantuan Wa Eye yang memohon kepada orang yang mengunci rumah, aku diijinkan untuk mengambil surat-surat, meskipun akhirnya rumah itu dikunci lagi. Aku tinggal di rumah Wa Eye sekitar satu minggu. Aku sendiri tidak tahu bagaimana proses penyelesaian masalah tenggat pembayarannya. Tahu-tahu, aku sudah diijinkan oleh si mantan pemilik untuk menempati rumah ini kembali.

Photo-0008

Cukup lama, aku hanya mengetahui bahwa rumahku ini, tanah dan bangunannya, adalah sepenuhnya milik keluargaku. Namun, aku salah. Beberapa hari yang lalu, tersebar sebuah isu bahwa tanah rumahku ini akan digusur oleh pemiliknya. Wajar saja jika aku kaget karena aku mengira tak akan ada lagi persoalan terkait bayar-membayar usai berurusan dengan si pemilik rumah yang lama. Aku baru mengetahui bahwa ternyata, yang kami miliki sebagai aset hanyalah rumah ini, sedangkan tanah tempatnya berdiri berada dalam status tanah sewaan. Faktanya, hampir semua warga masyarakat yang memiliki tanah di sini, termasuk anggota keluarga besarku yang juga memiliki rumah di sini, menyewa tanah ini kepada pihak PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) yang kini berganti nama jadi PT Kereta Api Indonesia. Ini menjadi sebuah alasan mengapa ibu, Wa Eye, Wa Eel, dan yang lainnya mulai gelisah memikirkan nasib rumahnya masing-masing meskipun penggusuran tanah itu baru sekedar isu.

Aku bertanya satu kali pada ibu, “Terus, kita bisa tinggal atau bangun rumah di sini, gimana caranya?”

“Kan, kita bayar, tiap tahunnya,” jawab Ibu.

Emang na bayar baraha? Ageung tara nempo bayar na.” (Memangnya bayar berapa? Ageung tidak pernah lihat bayarnya.)

“Saratus rebu satahun na. Ageung we tara nempo bayar na!” (Seratus ribu rupiah setahunnya. Ageung saja yang tidak pernah lihat bayarnya!)

Photo-0002

Tadinya, aku berpikir, tanah ini akan diperluas oleh PJKA dalam rangka perbaikan fasilitas kereta api, seperti perluasan tanah di pinggiran rel agar warga masyarakat aman dari bahaya kereta yang melintas. Lagi-lagi, pikiranku ini salah. Menurut kabarnya, rencana penggusuran tanah ini disebabkan oleh PJKA yang akan menyewakan area ini ke sebuah perusahaan air minum.

Photo-0009 Photo-0018 Photo-0004 Photo-0005 (2)

Hingga di detik aku menuliskan cerita tentang rumah ini, aku belum mendapatkan kabar terbaru terkait dengan isu penggusuran itu, baik dari gosip-gosip warga sekitar maupun dari kabar resmi pihak PJKA. Semoga saja itu memang hanya sekedar isu. Paling tidak, aku bisa sedikit merasa lega (walau untuk sementara) bahwa area di mana rumahku berdiri ini, bisa dibilang sebagai area yang aman dari proyek penggusuran. Jikalau misalnya pikiranku benar, bahwa penggusuran ini adalah untuk perbaikan fasilitas kereta api dan bukan untuk disewakan kembali ke perusahaan air minum, rumahku tidak akan terkena penggusuran karena letaknya cukup jauh dari pinggir rel kereta api. Kalaupun misalnya nanti area pinggir rel akan diperluas, kuat dugaanku bahwa perluasannya tidak akan menjangkau pekarangan rumahku ini.

Akan berbeda masalahnya jika ternyata tanah ini benar-benar akan disewakan ke perusahaan swasta. Aku berpendapat bahwa warga yang telah lama tinggal di sini akan mengalami kerugian. Bolehlah dikatakan, misalnya, dengan berdirinya sebuah perusahaan atau pabrik swasta di area ini, akan mendatangkan lapangan pekerjaan besar-besaran bagi warga masyarakat. Namun, apa artinya sebuah pekerjaan jika tidak memiliki rumah? Jika rumah-rumah ini digusur, ke tanah mana warga akan dapat membangun rumah yang baru? Kebutuhan sandang, pangan dan papan tak akan setimpal jika hanya digantikan oleh seragam-seragam pekerja.

Photo-0011

Aku jadi termenung. Jika lagi-lagi sebuah pabrik besar berdiri, dia akan menjadi hantu baru bagi warga Parungkuda. Masyarakat menjadi tak pernah bisa lepas dari kultur masyarakat buruh pabrik, yang tak mendapatkan kesejahteraan yang semestinya. Jika terus begini, bisa-bisa kesadaran warga tentang kebutuhan akan rasa aman, nyaman, dan ketentraman akan semakin ditenggelamkan oleh para pemilik modal menjadi sekedar kolam harapan melalui iming-iming pekerjaan yang menggiurkan.

Parungkuda, 24 Februari 2013

Ageung (& Zikri)

cerita singkat tentang pesan singkat

Jarak sudahlah tidak menjadi masalah untuk dapat saling berkomunikasi. Teknologi sudah maju pesat. Tercipta sebuah alat canggih untuk membuat jarak yang jauh menjadi dekat. Telepon genggam atau lebih dikenal Handphone (Hp) membuat jarak menjadi tidak masalah. Di jaman modern ini, Hp sudah bisa dinikmati dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Hanya dengan membeli pulsa kita dapat berhubungan langsung dengan orang yang posisinya jauh dari kita. Terlebih lagi Hp memiliki fasilitas Short Message Service (SMS), yang memberikan kemudahan bagi pengguna untuk menyampaikan pesan dengan tarif yang relatif murah.

Kehadiran teknologi ini telah membantu semua orang. Benar-benar semua orang, tanpa terkecuali. Dengan kehebatannya yang membuat kita bisa berkomunikasi jarak jauh, tanpa tatap muka, teknologi Hp ini juga membuka peluang bagi terjadinya kejahatan, di mana para pelaku melakukan berbagai modus kejahatan untuk menjebak korbannya, tanpa menatap batang hidung si korban. Dan salah satu cara yang sering digunakan dalam tindakan kejahatan itu adalah penipuan melalui SMS.

Aku pernah punya pengalaman menarik terkait fenomena ini (dan sepertinya semua orang yang memiliki Hp pasti pernah mengalami ini). Pada suatu hari, aku sedang bercakap-cakap dengan ibuku melalui telepon genggam. Aku berencana mengirim uang untuk ibuku di Sukabumi siang itu. Karena waktu itu aku sedang berada di pinggir jalan raya, percakapan dengan ibu terganggu. Akhirnya, aku mematikan telepon dan melanjutkan percakapan kami melalui pesan singkat (SMS). SMS berakhir ketika aku menanyakan nomor rekening bank yang akan menjadi tujuanku mengirim uang. Lama kutunggu-tunggu, SMS balasan dari ibu tidak juga kuterima.

Tiba-tiba datang SMS dari nomor yang tidak dikenal, yang berbunyi seperti ini:

‘Tranfer ke Mandiri aja Norek. 157-00-0256427-7 atas nama Eko Susanto’.

Aku sempat berpikir nomor rekening ini adalah nomor yang diberikan ibuku. Untung saja aku tidak langsung mengirimkan uang ke rekening tersebut karena baru kemudian kutahu bahwa itu bukan SMS dari ibuku. Nasib baik berpihak padaku. Tak lama setelah datangnya SMS itu, ibuku menghubungiku melalui HP untuk memberitahukan nomor rekening yang sebenarnya.

“Lah nomor na lain nu tadi bu?” (nomornya bukan yang tadi, Bu?) tanyaku kebingungan.

“Nu tadi nu mana?” (Yang tadi yang mana?)

“Eta ning, atas nama Eko Susanto?” (Itu, atas nama Eko Susanto?)

“Eh, bukan… Awas penipuan!”

Berceritalah ibu bahwa beliau pun pernah hampir terkena penipuan semacam itu. Situasinya sama seperti yang aku alami. Jadi, saat itu ibu sedang berkomunikasi dengan adikku yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur. Adikku berencana akan mengirim uang juga untuk ibu. Seseorang mengirimi adikku SMS untuk mentransfer ke rekening bank tertentu. Untungnya ibu segera menghubungi adikku dan dia pun selamat dari penipuan.

Kalau dipikir-pikir, jaman sekarang ini, SMS penipuan memang marak terjadi di mana-mana. Aku pun beberapa kali menerima SMS untuk mengirimkan pulsa dari nomor yang tak dikenal.

‘Yang, kirimin pulsa dong, yang, 20 ribu ke nomor aku yang baru, nanti aku telepon kamu. I Love You.’

Aku langsung tertawa membaca SMS itu. Sejak kapan aku dipanggil ‘Yang’?! Dengan pengalaman-pengalaman itu aku menjadi cuek terhadap SMS semacam itu. Kadang juga SMS serupa itu mengatasnamakan dirinya sebagai ibu, ayah, kakak, saudara sampai pacar.

‘Kirimin Mama pulsa sekarang ya. Yang 20 ribu aja’

‘De, kirimin Papa pulsa, ya..’

…dan masih banyak lagi SMS yang mengatas namakan keluarga.

Menanggapi pengalaman semacam itu, kemudian aku mencari tahu lewat internet tentang kasus-kasus penipuan melalui SMS. Tak disangka, dari satu artikel yang kutemukan ternyata tindak kejahatan ini bahkan melibatkan sindikat internasional. Seperti peristiwa penangkapan salah satu sindikat ‘SMS mama-papa’ yang berlokasi di Tangerang Selatan pada bulan Juni 2011 lalu. Dalam penangkapan itu, polisi mengamankan 31 warga Taiwan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti 25 unit telepon rumah dan 3 jaringan internet yang biasa dipakai untuk menipu korban.

Selain itu, ada juga kasus penipuan lainnya yang aku baca di http://www.banjarmasin.com.id.

Dayat, seorang warga Banjarbaru, bercerita tentang Hp miliknya berulang kali dihubungi oleh nomor tidak dikenal. Ketika Dayat mengangkat teleponnya selalu saja dimatikan oleh pihak yang menelpon. Karena sudah bosan Hp-nya berdering terus, akhirnya Dayat mematikan teleponnya. Ternyata, setelah Hp-nya dimatikan, orangtua Dayat di Banjarmasin ditelepon oleh pihak tidak dikenal yang mengabarkan bahwa Dayat mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di Rumah Sakit Umum. Ketika keluarga Dayat menghubunginya untuk memastikan keadaannya, telepon Dayat tidak bisa dihubungi. Akhirnya keluarga Dayat mempercayai berita kecelakaan itu. Si penipu meminta orangtua Dayat untuk mentransfer uang sejumlah Rp. 15 juta ke sebuah rekening bank atau lewat pengiriman pulsa. Keluarga Dayat pun mentransfer pulsa sejumlah Rp. 500.000 ke nomor telepon si Penipu. Ketika Dayat menyalakan Hp kembali, sms-sms dari keluarganya masuk untuk menanyakan kondisinya. Dia pun segera menghubungi keluarganya untuk memberitahukan informasi itu tidak benar. Yang membuat aneh Dayat adalah si penipu itu juga menghubungi nomor telepon tantenya, nomor telepon rumah dan ibunya.

Cerita Dayat hampir sama dengan hal yang aku alami. Dayat merasa aneh, kenapa si penipu mengetahui nomor telepon keluarganya. Sedangkan aku, bingung karena SMS transfer uang itu datang tepat pada saat aku dan ibu sedang membicarakan transfer uang.

Hal ini aneh menurutku. Apakah ini suatu kebetulan? Pelaku penipuan seolah tahu segala aktivitas kita. Bahkan, seperti kasus si Dayat, si pelaku tahu semua nomor telepon anggota keluarganya. Jangan-jangan, setiap percakapan atau SMS kita melalui telepon genggam diawasi oleh si penipu???! Hm… kalau memang seperti itu, serem juga ya!

Ada lagi contoh kasus lainnya, sebagaimana yang aku baca di internet. Mungkin teman-teman pernah menerima SMS untuk bergabung menjadi agen penjual pulsa? Hati-hati, ya, SMS semacam ini pun kadang merupakan penipuan. Banyak yang tergiur karena harga jualnya di bawah pasaran pada umumnya. Ketika kita sudah mentransfer uang untuk saldo pertama, misalnya sebesar Rp. 500.000, saldo yang masuk menjadi besar sampai berjuta-juta. Ujung-ujungnya, nanti kita akan dihubungi untuk mengkonfirmasi bahwa ada kesalahan pengiriman saldo. Setelah itu, pelaku biasanya meminta kita untuk mentransfer uang setengahnya dari saldo yang sudah kita terima. Setelah mentransfer, kita tetap tidak bisa melakukan transaksi penjualan pulsa, dan nomor-nomor telepon yang menghubungi kita itu tidak bisa dihubungi lagi. Hm… ada-ada saja para pelaku kejahatan. Mereka selalu menemukan cara dengan memanfaatkan apa yang ada.

Sebenarnya, ceritaku ini bukan cerita yang baru, sih!. Seperti yang aku katakan di awal tulisan ini, semua orang yang memiliki telepon genggam pasti pernah mengalami hal ini. Iya, gak sih? Iya aja deh, ya! (ceritanya maksa. Hahaha!). Aku menulis ini, hitung-hitung sekedar berbagi pengalaman dan mengingatkan teman-teman untuk tetap waspada. Pokoknya, kalau menerima SMS atau telepon dari nomor yang tidak dikenal, jangan langsung percaya, deh! Lebih baik telusuri dulu dengan teliti, karena bisa jadi kita sedang dijebak oleh pelaku kejahatan.

Parungkuda, 2 Februari 2013

Ageung

Cerita Di Belakang Warung Bordir

Satu lagi cerita dari Pekanbaru. Kali ini Zikri bercerita tentang keberadaan warung bordir di depan rumahnya. Selamat membaca..! 😀

DSC02761

Kalau menghubungkan kegiatan menjahit dengan ibu saya, itu sudah biasa. Sebab, dari saya kecil saya sudah sering melihat ibu menjahit baju, terutama baju untuk Hari Raya Idul Fitri buat kakak dan adik saya. Waktu itu, ibu masih menggunakan mesin jahit manual, yang harus dikayuh untuk menggerakkan jarum penjahitnya.

Ini contoh mesin jahit yang modelnya sama dengan mesin jahit yang dulu sering digunakan oleh ibu ketika menjahit baju kakak dan adik saya.
Ini contoh mesin jahit yang modelnya sama dengan mesin jahit yang dulu sering digunakan oleh ibu ketika menjahit baju kakak dan adik saya.

Saya tidak pernah berpikir bahwa ibu akan membuka usaha jahit-menjahit meskipun dia dulu pernah mengatakan suatu saat akan mencoba mencari peruntungan dengan membuka usaha jahit kalau sudah pensiun jadi PNS.

DSC02768

Nah, pada tanggal 15 Januari 2013, hari pertama liburan di Pekanbaru, ketika saya baru tiba di rumah, saya kaget melihat warung yang dulunya adalah Warnet (unit usaha dari Koperasi RW 03, Kelurahan Jadirejo) sekarang sudah berubah menjadi warung bordir, atau warung menjahit.

“Ini punya siapa?” Tanya saya kepada Ayah.

“Ini punya PNPM,” jawabnya. “Dikelola oleh ibu-ibu, warga RW 03.”

Ibu saya, termasuk salah satu anggota yang mengelola badan usaha di bawah PNPM itu.

Ibu sedang berbincang dengan paman saya yang datang berkunjung ke  warung bordir milik PNPM yang ada di depan rumah saya.
Ibu sedang berbincang dengan paman saya yang datang berkunjung ke warung bordir milik PNPM yang ada di depan rumah saya.

PNPM yang ayah saya maksud adalah sebuah program langsung dari pemerintah, di bawah Menko Kesra, dan merupakan singkatan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat. Kegiatan yang diikuti oleh warga di Keluharan Jadirejo, Kecamatan Sukajadi, tempat saya tinggal adalah PNPM Mandiri Perkotaan. PNPM Mandiri ini diakui sebagai program nasional dalam wujud kerangka kebijakan untuk menanggulangi kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat.

Om Riko (kiri) dan ayah saya (kanan) sedang berbincang di depan warung Desain Grafis dan Warung Bordir.
Om Riko (kiri) dan ayah saya (kanan) sedang berbincang di depan warung Desain Grafis dan Warung Bordir.

Berdasarkan keterangan dari Om Riko, salah seorang warga di RW 03, tetangga saya, yang aktif dalam kerangka kerja PNPM Kelurahan Jadirejo, PNPM itu merupakan wujud nyata dari Pemerintah yang bertujuan untuk menggabungkan semua program pemberdayaan masyarakat di Indonesia dalam satu wadah. Dengan kata lain, PNPM menjadi induk programnya.

“Dulu namanya P2KP, tahun 1999,” terang Om Riko kepada saya dua hari yang lalu, ketika berbincang-bincang sambil ngopi di warung usaha miliknya, yakni sebuah warung usaha desain grafis. Warung desain grafis itu sendiri juga terealisasi berkat program dari PNPM, dan letaknya tepat di sebelah warung bordir yang dikelola oleh ibu. “Kalau tidak salah, tahun 2000, namanya berubah jadi PNPM, diresmikan di Bali oleh Presiden langsung. Program ini masuk ke Pekanbaru tahun 2008, di 21 kelurahan, dan pada tahun 2009 terealisasi ke 30 kelurahan.”

Om Riko di ruang kerjanya.
Om Riko di ruang kerjanya.
Arena 66, warung usaha milik Om Riko dan PNPM.
Menara 66, warung usaha milik Om Riko dan PNPM.
Om Riko sedang mencetak desain untuk hiasan mug.
Om Riko sedang mencetak desain untuk hiasan mug.

Berdasarkan cerita ayah, yang dulu aktif di PNPM Kelurahan Jadirejo pada tahun 2010 hingga 2011, sebagai Koordinator LKM Maju Bersama, pengembangan usaha mandiri bagi warga masyarakat itu semuanya atas jasa program PNPM ini. Realisasi program dilaksanakan oleh Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM). Dalam pelaksanaannya, LKM membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Indah Bordir untuk menyelenggarakan pelatihan usaha kecil menengah (UKM).

“Di kelurahan kita sendiri, dilaksankan tiga cakupan kerja, yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi,” ujar ayah menerangkan.

“Cakupan kerja yang seperti apa, tuh?” saya bertanya.

“Untuk lingkungan, ada perbaikan lingkungan setempat, untuk cakupan sosial, ada pelatihan-pelatihan, dan untuk ekonomi, ada pinjaman bergulir,” kata ayah.

Setelah lebih jauh menanyakan hal itu, saya jadi tahu bahwa belum lama ini, di Kelurahan Jadirejo dilaksanakan aksi perbaikan lingkungan berupa perbaikan drainase, semenisasi dan perbaikan posyandu. Lalu, diadakan juga pelatihan-pelatihan bidang kreatif, seperti servis HP, tata boga, menjahit atau bordir, desain grafis, dan montir atau servis motor. Selain itu, juga dilakukan sebuah kegiatan pinjaman bergulir untuk kelompok masyarakat yang membutuhkan, yang berhasil tersalurkan kepada 18 kelompok (1 kelompok terdiri dari 5 orang) yang masuk dalam kategori masyarakat kurang mampu. Semua kegiatan itu berangkat dari program PNPM tersebut.

Salah satu penyelenggaraan semenisasi di sebuah lokasi di Kelurahan Jadirejo. Saya mendapatkan foto ini dari arsip milik ayah.
Salah satu penyelenggaraan semenisasi di sebuah lokasi di Kelurahan Jadirejo. Saya mendapatkan foto ini dari arsip milik ayah.

DSC02102

Nah, untuk keterangan lebih jauh tentang PNPM ini, teman-teman bisa melihatnya di website resmi PNPM, http://www.pnpm-mandiri.org/, atau website resmi P2KP, http://www.p2kp.org/.

Kembali ke persoalan jahit menjahit. Jadi, pada Bulan Maret 2011, PNPM di tempat tinggal saya di Pekanbaru itu mengadakan pelatihan selama tiga bulan untuk keterampilan membordir pakaian. Kegiatan pelatihan itu diikuti sebanyak 18 orang, termasuk ibu, yang akhirnya aktif memproduksi pakaian sehingga terbentuklah sebuah UKM bernama UKM Balqis pada Bulan Juli 2011. UKM itu didirikan oleh 10 orang dari 18 orang peserta pelatihan.

“Dari banyak pelatihan yang diselenggarakan, cuma dua yang jadi UKM, yakni UKM Balqis dan UKM Desain Grafis,” ujar ayah.

DSC02763DSC02771DSC02769 DSC02772 DSC02773 DSC02775

Sekarang, anggota UKM Balqis hanya tinggal 5 orang, yakni Desi, tetangga saya (menjabat sebagai ketua); ibu, menjabat sebagai bendahara; Sri Yuliarti, menjabat sebagai sekretaris; Roswita Linda dan Rosmaini, sebagai anggota.

“Lah, lima orang yang lainnya pada kemana?!” tanya saya.

“Ya, hilang!” jawab ibu. “Ada yang pulang kampung, ada yang membuka usaha sendiri, ada juga karena alasan pekerjaan lain dan tidak aktif lagi…”

Salah seorang anggota UKM Balqis sedang menjahit
Salah seorang anggota UKM Balqis sedang menjahit

DSC02779 DSC02777

Menurut cerita ibu, terbentuknya UKM Balqis ini tidak lepas dari bantuan donatur, pinjaman dana dari UP2K (Unit Peningkatan Peran Keluarga) yang langsung dari Walikota, dan pinjaman dana dari Bank Pengkreditan Rakyat (BPR). Dalam pengelolaannya, UKM Balqis menerapkan manajemen bagi hasil layaknya koperasi, tetapi tidak ada sistem simpanan wajib.

DSC02770 DSC02783 DSC02781

“Terus, untuk pembagian jam kerjanya?” saya bertanya sementara tangan saya dengan cepat terus mencatat keterangan demi keterangan yang keluar dari mulut ibu, ayah, dan Om Riko.

“Ya, kerjanya sesuai dengan waktu luang,” kata ibu tertawa. “setelah selesai semua pekerjaan rumah tangga, UKM Balqis baru dibuka, hingga sore hari.”

“Pendistribusian produknya?”

“Melalui promosi anggota, menunggu pesanan konsumen, distribusi ke pasar setempat,” ujar ibu. “Bahan dasarnya juga dari pasar setempat.”

DSC02086

Contoh hasil bordiran dari anggota UKM Balqis.
Contoh hasil bordiran dari anggota UKM Balqis.

DSC02079 DSC02080 DSC02085

DSC02095 DSC02096

Beberapa asil produksi yang siap dipasarkan.
Beberapa hasil produksi yang siap dipasarkan.

Lebih jauh, ibu dan ayah menceritakan bahwa UKM Balqis, yang sekarang ini hanya dikelola oleh 5 orang anggota yang tersisa, merupakan salah satu UKM unggulan PNPM Kota Pekanbaru.

“Kemarin sempat mendapat banyak kunjungan dari luar kota,” kata ayah. “Dari Jakarta, Jambi, Sawah Lunto… mereka semua datang berkunjung ke sini…”

Salah satu dokumentasi kunjungan dari pegawai kecamatan setempat.
Salah satu dokumentasi kunjungan dari pegawai kecamatan setempat.

DSC02040

UKM Balqis juga sempat mengikuti beberapa pameran bazaar yang diadakan oleh beberapa lembaga pemerintah lokal dan EO, seperti pada saat kegiatan acara MTQ Tingkat Kota Pekanbaru dan MTQ Tingkat Provinsi Riau, Pameran Expo Pekanbaru, Expo Riau di Malaysia, dan juga dalam rangka kegiatan promosi salah seorang calon walikota yang mengikuti pemilu pada waktu itu. Sedangkan dari Disperindag sendiri, kegiatan pameran dan bazaar UKM-UKM se-Indonesia juga turut membantu mempromosikan dan memasarkan produk-produk UKM Balqis.

Tim UKM Balqis ketika mengikuti pameran bazaar MTQ Pekanbaru.
Tim UKM Balqis ketika mengikuti pameran bazaar MTQ Pekanbaru.

DSC02138 DSC02776

Hingga kini, menurut ibu, UKM Balqis masih tersendat di persoalan modal dan usaha promosi atau pemasaran. Selain itu, persoalan tenaga kerja juga menjadi kendala utama. Manajemen tenaga kerja yang tidak memiliki perangkat yang ideal menyebabkan para tenaga kerja tidak dapat bergerak secara maksimal. “Etos kerja masyarakat kita yang pemalas dan ingin serba mudah pun menjadi salah satu faktor utama,” keluh ibu.

Ibu (baju biru), ketika sedang menunggu stand bazaar pada acara MTQ Pekanbaru.
Ibu (baju biru), ketika sedang menunggu stand bazaar pada acara MTQ Pekanbaru.

Yah, begitu lah sedikit cerita yang saya dapat selama liburan di Pekanbaru. Cerita ini setidaknya menjadi jawaban akan pertanyaan saya tentang keberadaan warung bordir di depan rumah saya itu. “Gileee… tiga tahun yang lalu isinya komputer super canggih semua, eh, sekarang malah mesih jahit! Hahaha!” gurau saya pada ayah.

Pekanbaru, 29 Januari 2013

Zikri

23 Januari 2013

IMG00153-20130123-1935

Ibu adalah seorang pembuat kue. Ibu dapat membuat kue apapun. Kue kering, basah, tart dan lain sebagainya. Tanggal 22 Januari 2013 lalu, Ibu mendapat pesanan kue tart ukuran besar. Si pemesan adalah adalah Wa Eel, kakak perempuan Ibu. Kue itu untuk acara ulang tahun cucunya pada tanggal 24 Januari.

Ditanggal 23 Januari, ada seseorang yang berulang tahun juga. Dia seorang kekasih yang sedang pulang kampung di pulau seberang. Maka dari itu, aku memohon kepada ibu untuk membuatkan kue juga untuk dia. Dan apa jawaban ibu? “Ini saja kuenya 12 biji. Nanti saja kalau sudah selesai…!” begitu katanya. Ya sudah, aku menunggu saja dan ikut membantu.

Kue demi kue matang satu persatu. Hingga adzan maghrib berkumandang, baru 8 kue yang sudah keluar dari oven. Seseorang di seberang pulau sana mulai kesal karena hari itu aku tidak cukup waktu untuk menemaninya.

Akhirnya, setelah ditunggu-tunggu, 12 kue pun matang.

Kini giliranku. Aku menyiapkan bahan-bahan untuk kue spesialku.

Photo-0002

Bahan-bahan:

2 butir telur

3 sendok makan gula pasir

4 sendok makan tepung terigu

1 sendok makan SP (bahan pengembang kue)

3 sendok sayur mentega cair

Dari pengalaman membuat 12 kue seharian itu, kini aku jadi lihai untuk membuat kue sendiri tanpa petunjuk Ibu. Jumlah bahan-bahan di atas adalah untuk loyang berdiameter 15 cm. Begini lah caraku membuat kuenya:

Pertama-tama, telur dikocok dengan gula pasir dan SP dengan menggunakan mixer sampai mengembang atau adonan berwarna putih. Setelah itu, masukkan terigu, lalu dikocok lagi sampai tercampur rata. Setelah memasukkan terigu, proses pengocokan jangan terlalu lama. Kemudian, masukan mentega cair dan kocok kembali, dan selanjutnya masukan adonan ke dalam loyang yang sudah diolesi mentega dan ditaburi oleh terigu. Lalu, panggang selama kurang lebih 20 menit.

Proses menghias kuenya dilakukan pada esok harinya, tanggal 23 Januari 2013.

Hm… aku tidak bisa menjelaskan proses detail menghiasnya… maaf, yak! Hahaha… ya, begitu lah…!

Photo-0015

Kue ini aku persembahkan untuk Zikri, seorang kekasih di seberang sana….. SELAMAT ULANG TAHUN SAYANG…..

IMG00152-20130123-1933

Parungkuda, 23 Januari 2013

Ageung

jarak pandang di pekanbaru

Tulisan kali ini merupakan kabar dari Zikri yang, akhirnya, mendapat kesempatan untuk pulang kampung ke Pekanbaru, Riau, setelah lebih kurang tiga tahun tidak pulang-pulang, persis seperti Bang Toyib. Silakan dibaca, yak! 😀

***

Cap warga lokal Pekanbaru sepertinya sudah hilang sama sekali di kulitku. Memijakkan kaki kembali di kota ini setelah 3 tahun yang lalu, entah mengapa, aku merasa begitu asing; aku merasa ada jarak antara aku dan Si Kota Bertuah.

Perpustakaan Daerah Provinsi Riau
Perpustakaan Daerah Provinsi Riau

Mendekat untuk menyapa Sang Kota saja aku begitu kikuk. Aku tak bisa melihat narasi-narasi kecil yang tersebar banyak di kota ini. Padahal, kata saudaraku narasi-narasi itu begitu menggoda, persis seperti cerita-ceritaku tentang Kota Depok dan Jakarta. Aku seakan hanya mampu melihat dengan mata pelancong yang belum pernah berbincang dengan kota ini.

DSC02435

Sudah hampir seminggu di sini, aku berdiam diri di dalam rumah saja. Baru sore, tanggal 22 Januari 2013, aku memaksa diri untuk mencoba berjalan kaki walau tak jauh, hanya sampai di depan kantor gubernur (lima belas menit berjalan kaki dari rumah).

DSC02436

Tiga tahun. Sebenarnya, tak begitu banyak ada perubahan pada Pekanbaru. Ibukota Riau ini sedikit berdandan untuk mempercantik wajahnya dibandingkan ketika aku masih terbiasa menaiki angkot dari rumah menuju sekolah.

DSC02449DSC02466 DSC02443

Di Jalan Sudirman, selain ada fasilitas Bus Trans Metro Pekanbaru, sekarang sudah ada dua flyover yang begitu pendek. Temanku pun ragu apakah jalan itu bisa disebut sebagai flyover. Di sebelah kantor gubernur, sudah ada gedung tinggi, yakni menara Bank Riau, yang dahulu merupakan tempat gedung Dang Merdu berdiri. Tugu di depan kantor gubernur yang dulu adalah tugu pesawat terbang, sekarang berganti dengan tugu patung orang. Kata temanku, orang-orang di kota ini sering menyebutnya ‘tugu porno’ atau ‘tugu mesum’ karena patung yang berdiri di sana bergaya erotis dan memperlihatkan pantatnya. Lebih jauh ke arah Pasar Pusat, ada banyak bangunan-bangunan baru, seperti tempat clubbing, mall baru, dan waralaba baru. Sementara itu, Jalan Sudirman ke arah Harapan Raya, tidak ada perubahan yang mencolok selain semakin banyaknya ruko-ruko. Di Jalan Tuanku Tambusai juga begitu. Pada dasarnya, tidak ada perubahan ke arah pembangunan yang berarti. Inilah pendapatku dari kacamata orang yang tidak akrab dengan kampung halaman sendiri.

DSC02438 DSC02476 DSC02475DSC02487 DSC02490 DSC02493

Beberapa tangkapan yang begitu sedikit ini memang bukan hasil dari sebuah observasi yang baik. Aku mengambilnya sepintas lalu tanpa ada tendensi untuk membingkai sebuah cerita. Niat untuk mencoba mengunjungi tempat-tempat kenangan di kota ini pun perlahan-lahan surut. Aku sendiri tidak tahu mengapa bisa begitu.

DSC02447

Satu minggu ke depan, aku masih berada di kota ini. Untuk sementara, yah, nikmati sajalah beberapa foto yang ada. #asyek

Pekanbaru, 22 Januari 2013

Zikri

Judul-judulan Dalam Rumah-rumahan

Neng ayo neng, ayo maen pacar-pacaran

Neng ayo neng, ayo maen pacar-pacaran

Daripada pacar beneran

Pikiran pusing tidak karuan

Kumpul kebo, ya cuma kebo-keboan

Mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Pengantar Minum Racun (PMR) yang berjudul Judul-judulan, mengingatkan aku pada satu permainan saat masa kecil. Mungkin hampir semua anak perempuan di dunia ini sering memainkannya. ‘Rumah-rumahan’ adalah nama permainan itu. Impian memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia, aku wujudkan dalam permainan rumah-rumahan ini.

Neng ayo neng, ayo maen kawin-kawinan

Neng ayo neng, ayo maen kawin-kawinan

Daripada kawin beneran

Pikiran pusing tidak karuan

Naik ranjang, ya cuma ranjang-ranjangan

Habis sudah pacar-pacaran

Habis sudah kawin-kawinan

Punya anak, namanya… Anak-anakan

Mengapa ketika mendengarkan lagu ini, ingatanku tertuju pada permainan ‘rumah-rumahan’? Ya, karena kami (aku dan teman-teman) selalu menyanyikan lagu ini ketika bermain. Setelah sekitar sepuluh tahun lebih tidak memainkan permainan itu, timbul pertanyaan dalam benakku: mengapa lagu ini yang kami nyanyikan? Mungkin temanya serupa dengan permainan kami. Lihat saja liriknya, yang secara tidak langsung menceritakan tentang sandiwara atau peran yang erat kaitannya dengan situasi ruang di bawah atap, alias rumah. Memang, waktu itu aku tidak menyadari hal ini, tetapi ketika diingat-ingat lagi, lucu juga! Hehe

Ini lagu lagu-laguan

Judulnyapun judul-judulan

Maaf ya neng…

Inikan cuma mainan

Permainan itu sering aku dan teman-teman mainkan ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Aku bersama teman-teman sepermainan memiliki peran masing-masing. Ada yang mendapat peran sebagai ibu, bapak, tante, anak, berbagai peran kami mainkan bergiliran. Adegannya bermacam-macam, kami beradegan menikah, memasak, mengurus anak, bertamasya dan masih banyak lagi. Tak jarang kami memakai peralatan yang ada di lemari ibuku untuk melengkapi dandanan kami.

Lebih lucunya lagi, kami menyanyikan lagu Judul-judulan sambil menari bak artis Bollywood di filem-filem India. Maklum, aku dan sekeluarga adalah penikmat filem Bollywood. Seperti ketika adegan melamar, kami menyenandungkan lirik ‘neng ayo neng, ayo maen kawin-kawinan’. Pemeran sebagai pelamar akan menari-nari mengelilingi sang pujaan hati dengan membawa setangkai bunga plastik di tangannya, persis seperti filem Bollywood. Bagiku, ini suatu akulturasi budaya oleh anak-anak yang terpengaruh oleh medium audio-visual. Tanpa sadar, karena kebiasaan menonton filem India, kami melakukan adaptasi antara musik populer di dalam negeri dengan produk populer dari luar negeri, yakni filem India. Ternyata, permainan anak-anak bisa memberikan refleksi sejauh ini, ya? Hehehe!

Neng ayo neng, ayo maen cium-ciuman

Neng ayo neng, ayo maen cium-ciuman

Daripada cium beneran

Pikiran pusing tidak karuan

Belom dicium, kok eneng nyosor duluan

Sedikit data informasi tentang Pengantar Minum Racun (PMR), mereka adalah sebuah kelompok musik dangdut yang terkenal pada tahun 80’an.  Berdiri pada tahun 1979, PMR terdiri dari Jhonny Iskandar (vokalis), Boedi Padukone (gitar), Yuri Mahippal (mandolin dan cuk), Imma Maranaan (bass), Ajie Cetti Bahadur Syah (perkusi), Harri “Muke Kapur” (mini drum). Lagu yang mereka bawakan banyak yang berasal dari lagu yang sudah terkenal dengan lirik yang diubah sedemikian rupa menjadi lirik yang konyol dan lucu.

Torerojing, torejing, torejing

Habis sudah pacar-pacaran

Habis sudah kawin-kawinan

Punya anak, namanya… Anak-anakan

Ini lagu lagu-laguan

Judulnyapun judul-judulan

Maaf ya neng,…

Inikan boong-boongan

Pada saat Harmoko menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia, yaitu sekitar tahun 1980’an, banyak lagu-lagu yang dicekal karena dianggap tidak dapat membangun mental bangsa. Salah satunya Judul-judulan, karena dianggap memiliki lirik yang vulgar. Oh iya, pada saat itu juga lagu Hati Yang terluka dari Betharia Sonata pun dicekal karena liriknya yang cengeng.

Neng ayok neng ayok maen peluk-pelukan

Neng ayok neng ayok maen peluk-pelukan

Daripada peluk beneran

Pikiran pusing tidak karuan

Belom dipeluk, kok eneng meluk duluan

Belom dipeluk, kok eneng meluk duluan

Belom dipeluk, kok eneng meluk duluan 

Lalu, hikmah apa yang aku dapatkan dari ingatan masa kecil itu? Tidak lain adalah sebuah kegetiran yang sedikit melankolis yang tak aku sadari pada kegembiraan ketika memainkan adegan ‘rumah-rumahan’. Lagu Judul-judulan dicekal pada masa Orde Baru karena liriknya yang vulgar sehingga dianggap tidak dapat membangun mental bangsa. Jelas, kebebasan berekspresi pada masa itu dibatasi. Namun, kini sejak jatuhnya Orba, keran kebebasan berekspresi terbuka kembali. Dengan cepat, segala produk budaya menjadi populer. Seperti lagu Judul-judulan kembali kami dengar di tahun 1999-an dan menjadi soundtrack favorit kami untuk permainan rumah-rumahan.

Namun begitu, hilangnya sistem kontrol ternyata juga tak sepenuhnya positif. Era kebebasan juga memberi efek negatif, di mana salah satu contohnya ialah dengan gampangnya lagu bertema orang dewasa menjadi domain telinga anak-anak. Bahkan, fenomena itu masih berlangsung hingga sekarang, di mana lagu cinta-cintaan sudah menggantikan lagu bertema anak-anak.

Parungkuda, 14 Januari 2013

Ageung